M. Reza Sulaiman | Hoodie Hoodie
Kemacetan Jakarta. (Dok. Suara.com)
Hoodie Hoodie

Sebagai laki-laki yang setiap hari harus menembus rimba beton Jakarta, pilihan transportasi selalu jadi dilema tersendiri. Dulu, saya penganut setia kendaraan pribadi. Rasanya ada kebanggaan dan kepraktisan tersendiri bisa membawa motor atau mobil sendiri ke kantor. Namun, menghadapi kemacetan ibukota yang semakin tidak masuk akal, fisik dan mental rasanya seperti terkuras habis bahkan sebelum jam kerja dimulai.

Akhirnya, saya memutuskan untuk "gantung kunci" dan beralih menjadi pengguna setia transportasi umum seperti KRL, TransJakarta, dan MRT. Setelah beberapa bulan menjalani rutinitas baru ini, saya merangkum beberapa nilai plus dan minus yang mungkin bisa jadi pertimbangan buat teman-teman sesama pria yang masih ragu untuk beralih.

Sisi Positif (Plus)

Bebas Stres di Jalan: Ini adalah keuntungan terbesar yang saya rasakan. Mengendarai motor atau mobil di tengah kemacetan menuntut konsentrasi tinggi. Kaki pegal menahan kopling atau rem, belum lagi emosi yang sering terpancing manuver pengendara lain. Dengan naik kereta atau bus, saya tinggal berdiri atau duduk tenang sampai tujuan.

Waktu untuk Diri Sendiri: Di dalam transportasi umum, kita punya privasi lebih untuk pikiran sendiri. Saya bisa memanfaatkan waktu perjalanan untuk mendengarkan podcast favorit, membaca berita, membalas email pekerjaan, atau sekadar memejamkan mata untuk mencuri waktu tidur sebelum sampai kantor.

Jauh Lebih Hemat: Mari kita hitung-hitungan secara realistis. Biaya bensin, perawatan kendaraan, tarif tol, hingga parkir harian di gedung perkantoran Jakarta sangatlah menguras kantong. Dengan beralih ke transportasi umum, pengeluaran bulanan saya turun drastis. Sisa uangnya lumayan untuk dialokasikan ke investasi atau sekadar ngopi di akhir pekan.

Sisi Negatif (Minus)

Ujian Fisik di Jam Sibuk: Ini adalah realita pahit yang harus dihadapi. Di jam berangkat dan pulang kantor, kita harus siap adu otot untuk sekadar bisa masuk ke dalam gerbong atau bus. Berdesakan di KRL atau berjuang saat transit di Stasiun Manggarai pada jam enam sore membutuhkan mental baja dan ketahanan fisik layaknya sedang latihan militer.

Tantangan Cuaca Ekstrem: Berbeda dengan menggunakan kendaraan pribadi, pengguna transportasi umum harus siap berhadapan langsung dengan elemen cuaca. Berjalan kaki dari stasiun atau halte menuju kantor saat matahari Jakarta sedang terik-teriknya dijamin membuat kemeja lepek oleh keringat. Begitu juga saat hujan deras, rutinitas melipat payung dan menghindari cipratan air genangan jadi tantangan tersendiri.

Perlu Kompromi dengan Waktu: Walaupun MRT dan LRT punya jadwal yang sangat akurat, moda transportasi lain seperti bus atau angkot pengumpan terkadang masih sulit ditebak. Kita harus berangkat lebih awal sebagai langkah antisipasi jika terjadi antrean panjang di halte atau gangguan operasional yang tidak terduga.
Kesimpulan

Beralih ke transportasi umum di Jakarta memang membutuhkan penyesuaian. Ada kepraktisan yang harus ditukar dengan sedikit keringat dan usaha ekstra untuk berjalan kaki. Namun, dari sudut pandang saya pribadi, manfaat yang didapat—terutama terbebasnya kita dari stres akibat kemacetan dan penghematan finansial—jauh melebihi kekurangannya.

Bagi teman-teman pria yang mungkin sudah mulai lelah tua di jalanan, tidak ada salahnya mencoba memarkirkan kendaraan di rumah sekali-kali. Siapa tahu, kalian justru menemukan ritme hidup yang lebih nyaman untuk menghadapi kerasnya ibukota.

Baca Juga