Nama Ip Man sudah menjadi salah satu ikon terbesar dalam sejarah film laga Hong Kong. Sosok grandmaster Wing Chun, guru Bruce Lee itu berkali-kali diangkat ke layar lebar, tapi versi yang diperankan Donnie Yen tetap menjadi tolok ukur bagi banyak penggemar martial arts. Lewat seri film Ip Man (2008–2019), penonton disuguhi perpaduan aksi yang memukau, emosi yang kuat, dan koreografi pertarungan yang masih dikenang hingga sekarang.
Kini, sang legenda kembali hadir melalui film Ip Man: Kung Fu Legend, laga yang disutradarai Li Liming dan diproduksi Kai Pictures. Film ini dibintangi Dennis To sebagai Ip Man, didampingi Steven Dasz, Philip Condron, Wang Wanzhong, Zhang Tingfei, Zhao Jingshuyu, Zhang Jie, Yanlong Yan, Yiu-King Lee, dan Zhou Xiaofei. Film berdurasi 94 menit ini mulai tayang di bioskop Indonesia sejak 22 Juli 2026.
Berbeda dengan versi Donnie Yen, film Ip Man: Kung Fu Legend berdiri sebagai cerita tersendiri dan nggak memiliki keterkaitan langsung dengan saga sebelumnya.
Kisahnya mengikuti Ip Man yang kembali berhadapan dengan ketidakadilan. Kali ini dia menentang kerja sama antara pedagang asing dan kelompok triad yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas rakyat kecil. Keberaniannya membuat dirinya dijebak dalam kasus pembunuhan hingga berakhir di balik jeruji besi.
Penjara yang semestinya jadi tempat menjalani hukuman berubah menjadi arena pertarungan hidup dan mati. Di sana, Ip Man menghadapi ancaman dari sesama narapidana maupun pihak-pihak yang ingin membungkamnya. Berbekal penguasaan Wing Chun, dia berusaha bertahan hidup sekaligus membersihkan nama baiknya sambil terus memperjuangkan keadilan bagi masyarakat yang menjadi korban keserakahan para penguasa.
Menarik memang mengisahkan tokoh ternama yang sudah melegenda. Sayangnya...
Ip Man: Kung Fu Legend Jadi Film Bela Diri Modern yang Semakin Sulit Ikonik
Masalah paling besar bersumber dari naskahnya, sih. Konflik demi konflik memang terus bermunculan, tapi nggak semuanya mendapatkan pengembangan yang memadai. Akibatnya, perjalanan Ip Man terasa datar dan nggak meninggalkan dampak emosional yang kuat.
Koreografi aksinya juga belum mampu memberikan kejutan berarti. Gerakan Wing Chun masih menjadi identitas utama, tapi penyajiannya terlalu aman. Beberapa duel memang menghibur, tapi nggak ada momen yang membuatku ingin mengulang adegannya setelah keluar dari bioskop.
Dennis To sebenarnya tampil cukup meyakinkan sebagai Ip Man. Pembawaannya tenang, berwibawa, dan rendah hati, sesuai dengan karakter yang sudah melekat pada sang grandmaster. Steven Dasz juga mampu menjalankan perannya sebagai antagonis dengan cukup baik. Sayangnya, kualitas akting mereka nggak sepenuhnya tertolong naskah yang kurang ngasih ruang buat perkembangan karakter mereka.
Ada masalah apa, sih, dengan film-film aksi masa kini?
Coba lihat kembali film Ip Man (2008). Banyak orang masih mengingat duel melawan sepuluh karateka Jepang atau pertarungan terakhir menghadapi Jenderal Miura. Adegan-adegan tersebut bukan sekadar menampilkan pukulan dan tendangan, tapi juga menyimpan emosi, harga diri, hingga semangat melawan penindasan.
Hal serupa juga terjadi pada ‘SPL: Sha Po Lang dan Flash Point’. Donnie Yen bersama Sammo Hung, Wu Jing, serta Collin Chou menghadirkan pertarungan yang hingga kini masih dianggap sebagai salah satu koreografi terbaik dalam sejarah film laga modern. Bahkan puluhan tahun kemudian, cuplikan duel mereka masih sering dibahas di media sosial maupun forum pecinta martial arts.
Fenomena yang sama juga terlihat di Indonesia melalui film The Raid dan The Raid 2. Gareth Evans nggak hanya membuat film aksi, tapi juga memperkenalkan gaya pertarungan yang segar lewat koreografi silat yang brutal, intens, dan memiliki ritme berbeda dari film aksi Hong Kong. Sampai sekarang, banyak sineas Hollywood mengakui pengaruh besar kedua film tersebut terhadap perkembangan genre action.
Sebaliknya, banyak film bela diri masa kini mengulang formula lama. Karakter utama tetap sosok pendekar yang membela kebenaran, musuhnya tetap kelompok kriminal, lalu semuanya diselesaikan melalui serangkaian pertarungan. Formula itu sebenarnya nggak salah, tapi tanpa inovasi, penonton akan merasa sedang menonton film yang pernah mereka lihat berkali-kali.
Nah, film Ip Man: Kung Fu Legend menurutku ikut terjebak dalam pola tersebut. Film ini memang menyenangkan untuk dinikmati selama satu setengah jam, tapi sulit menemukan satu adegan yang benar-benar membedakannya dari puluhan film kung fu lain yang dirilis beberapa tahun terakhir.
Padahal, standar penonton saat ini sudah jauh lebih tinggi. Mereka nggak hanya mencari aksi yang cepat, tapi juga koreografi yang kreatif, karakter yang berkesan, dan konflik yang memiliki bobot emosional. Kehadiran franchise dari film John Wick membuktikan, film laga masih bisa terus berevolusi jika para pembuatnya berani bereksperimen.
Secara keseluruhan, film Ip Man: Kung Fu Legend masih layak ditonton bagi Sobat Yoursay yang menyukai martial arts dan cuma lagi ingin menikmati aksi ringan dengan nuansa klasik. Visualnya rapi, akting para pemain cukup solid, dan ritme film tetap terjaga hingga akhir, kok.
Bila Sobat Yoursay penasaran, tontonlah langsung di bioskop. Selamat menonton.
Baca Juga
-
Furious Mengkritik Sistem yang Sering Gagal Melindungi Korban Kekerasan
-
Leave No One Behind Membawa Napas Baru Lewat Aksi Bertema Perdagangan Orang
-
Juminten Edan Nantang Rumus Lama Horor Indonesia yang Bergantung pada Gore
-
Ojol Nyamar Jadi Orang Kaya Demi Cinta, Film Free Wifi Sindir Telak Budaya Pamer Media Sosial!
-
Memahami Zeus's Law dalam Film The Odyssey, Penyederhanaan Xenia Epos Homer
Artikel Terkait
Ulasan
-
Are You Afraid of the Dark? Ketika Ambisi Berubah Jadi Konspirasi Mematikan
-
Goldfinches, Buku Cantik tentang Kebahagiaan dalam Hal-Hal Sederhana
-
Oliver Twist: Perjuangan Anak Yatim Melawan Kemiskinan dan Eksploitasi
-
Furious Mengkritik Sistem yang Sering Gagal Melindungi Korban Kekerasan
-
Membaca Es Krim Pertamaku: Luka Batin Tak Selalu Sembuh oleh Waktu
Terkini
-
Magang Berkepanjangan: Bekal Karier atau Bentuk Eksploitasi Anak Muda?
-
Mengapa Transportasi Umum Adalah Jawaban Buat Bumi Kita
-
Healing Murah Meriah: Keliling Jakarta Naik Transum
-
Ternyata Rutinitas Commuting ke SCBD Ikut Menyelamatkan Bumi
-
Kupas Tuntas Transportasi Jakarta: Beneran Bikin Hemat atau Malah Ribet?