Halo, sesama pejuang S1! Tiap pagi, apa sih musuh terbesar kita selain deadline tugas atau ancaman revisian dari dosen pembimbing? Jawabannya hampir pasti seragam: macet dan panasnya jalanan kota. Berangkat dari kosan atau rumah dengan semangat membara, tapi sampai gerbang kampus mood langsung berantakan gara-gara kejebak kemacetan dan kepanasan di jalan.
Bicara soal suhu udara yang makin hari makin terasa seperti simulasi padang pasir ini, kita sebenarnya sedang berhadapan langsung dengan dampak nyata dari perubahan iklim (climate change). Di kelas, kita mungkin sering disuapi teori soal pembangunan berkelanjutan (sustainable development) atau krisis ekologi. Tapi sadar nggak sih, kalau gaya hidup kita sehari-hari, terutama cara kita berangkat ngampus atau nongkrong, punya andil besar dalam menentukan masa depan lingkungan hidup?
Di sinilah peran penting dari transportasi umum (transum) yang sering kali masih dipandang sebelah mata oleh banyak anak muda. Padahal, hubungan antara transum dan pelestarian lingkungan itu ibarat mata kuliah prasyarat—nggak bisa dipisahkan! Buat kamu yang masih sering ke mana-mana bawa kendaraan pribadi, yuk kita bedah bareng kenapa beralih ke transportasi umum adalah langkah paling rasional yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa yang peduli bumi.
1. Menekan Jejak Karbon Secara Drastis
Setiap kali kita memutar kunci kontak motor atau mobil pribadi, kita sedang menyumbang emisi gas buang berupa karbon dioksida ke udara. Bayangkan ada ribuan mahasiswa di satu kampus, dan sebagian besar dari mereka membawa kendaraan masing-masing. Berapa banyak polusi yang menumpuk di langit kota setiap harinya?
Coba bandingkan dengan transportasi massal seperti KRL, MRT, LRT, atau bus TransJakarta. Satu rangkaian KRL bisa mengangkut ratusan hingga ribuan orang sekaligus dalam satu waktu. Jika dibagi rata per kapita, jejak karbon yang dihasilkan oleh penumpang transportasi umum jauh, jauh lebih rendah dibandingkan pengendara kendaraan pribadi. Dengan beralih ke transum, kita secara aktif mengurangi volume gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.
2. Mengatasi Darurat Kualitas Udara (AQI)
Sebagai mahasiswa yang aktif bergerak dari pagi sampai malam, kita adalah pihak yang paling sering terpapar udara luar. Kalian pasti sering mengecek indeks kualitas udara (AQI) yang belakangan ini warnanya lebih sering merah atau ungu, kan? Polusi udara dari asap kendaraan bermotor mengandung partikulat halus yang sangat berbahaya bagi paru-paru.
Memilih untuk naik transportasi umum berarti kita memangkas jumlah mesin pembakaran yang beroperasi di jalan raya. Semakin banyak orang yang memadati bus atau kereta, semakin sedikit kendaraan pribadi yang memuntahkan asap beracun. Ini adalah kontribusi nyata agar langit kota bisa kembali sedikit membiru dan napas kita nggak terasa sesak saat menunggu ojek di depan kampus.
3. Efisiensi Ruang dan Mengurangi Kemacetan "Idle"
Ini adalah hitung-hitungan logika dasar yang sangat sederhana. Satu unit bus ukuran besar bisa menampung sekitar 60 hingga 80 orang. Jika 80 orang tersebut menggunakan mobil pribadi, bayangkan seberapa panjang antrean kendaraan di jalan raya!
Kemacetan bukan cuma bikin telat masuk kelas, tapi juga sangat buruk buat lingkungan. Kendaraan yang terjebak macet dan menyala diam (idle) membakar bahan bakar dengan sia-sia dan terus menghasilkan emisi secara konstan di satu titik. Dengan menggunakan transum, ruang jalan menjadi lebih efisien, kemacetan berkurang, dan secara otomatis polusi dari kendaraan yang terjebak macet pun ikut menurun drastis.
4. Transisi Menuju Kota yang Ekologis (Eco-City)
Sebagai agen perubahan (agent of change), klise sih, tapi mahasiswa memang punya kekuatan buat membentuk tren. Semakin tinggi permintaan dan penggunaan transportasi umum, pemerintah akan semakin "tertekan" dan termotivasi untuk terus memperbaiki fasilitas serta memperluas jangkauan rutenya.
Dukungan masif dari generasi kita akan mempercepat transisi kota-kota di Indonesia menuju konsep eco-city—kota yang ramah lingkungan, memperbanyak jalur pedestrian, serta menomorsatukan transportasi publik yang bertenaga listrik yang jauh lebih bersih.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
'Biar yang Mampu Mandiri', Pramono Timbang Usulan Semua Pelajar Jakarta Gratis Transum
-
Mengapa Pemerintah Izinkan PLN Lakukan Pengeboran Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik?
-
Bukan Cuma Soal Listrik, PLTP Gunung Ungaran Berpotensi Buka Bisnis Baru
-
Gempa Guncang Laut Jakarta, Kenapa Tidak Terasa di Wilayah Ibu Kota?
-
Pulihkan Dampak Gempa NTT, Operasional Dapur Umum dan Donasi Pangan Sasar Warga Flores
News
-
Bukan Sekadar Belajar Bahasa Inggris, Ini Cerita Dua Ibu Merawat Kewarasan di Tengah Kesibukan
-
Indonesias Horse Racing: 45 Kuda Raih Posisi Podium di IHR Merdeka Cup 2026
-
Kisah Juni Bangun Fun English for Ladies, Bukti Nyata Semangat Women Support Women
-
Mengenal Proyeksi Gall-Peters: Mengungkap Distorsi Geografis di Peta Mercator
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
Terkini
-
Review Film I Want Your Sex: Saat Batas Antara Seni, Eksploitasi, dan Obsesi Menjadi Kabur
-
Mekanisme Reshuffle Kabinet: Hak Prerogatif atau Batas Konstitusi?
-
4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!
-
Sinopsis Haiwaan, Film Kriminal Dibintangi Saif Ali Khan dan Akshay Kumar
-
Capek Pantau Medsos tapi Susah Berhenti? Kenali yang Namanya Doomscrolling!