M. Reza Sulaiman | Hendra Suhendra
Desa Kemiren, salah satu desa wisata dan budaya yang eksotik yang termasuk dalam Desa Sejahtera Astra. (Image: labirutour.com)
Hendra Suhendra

Pagi hari itu cuaca sangat bersahabat di desa tempat tinggal saya. Sinar mentari menemani aktivitas warga. Salah satu rutinitas warga yang sering saya amati di pagi hari adalah keberadaan "pasar pagi".

Sesuai dengan namanya, pasar ini beroperasi di pagi hari dan hanya menjajakan beberapa lapak saja, seperti kue subuh, aneka gorengan, ayam potong, sayur mayur, jajanan sederhana khas desa hingga lauk pauk siap saji. Cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu. Selepas pukul 10.00, aktivitas pasar pagi pun berangsur berhenti, karena sebagian besar barang dagangan telah habis terjual.

Pasar pagi ini ibarat simbiosis mutualisme, sama-sama menguntungkan. Warga yang beternak ayam, dapat menjual hasil ternak ayamnya ke pasar. Warga yang menanam buah dan sayur mayur juga dapat menjual hasil panennya ke pasar. Lalu warga yang memiliki keahlian memasak dan mengolah makanan, dapat menghasilkan cuan dengan cara menjualnya ke pasar atau menawarkan dagangannya lewat WhatsApp ke tetangga sekitarnya.

Keberadaan pasar pagi ini sangat membantu warga desa dalam memenuhi berbagai kebutuhan hari itu. Warga juga tidak perlu jauh-jauh ke pasar utama untuk membeli sayur mayur. Apalagi jarak dari rumah ke pasar memang cukup jauh. Minimal kami harus mengendarai motor.

Aktivitas pagi hari juga biasanya dihiasi oleh beberapa orang tua yang ingin beraktivitas ke sawah. Sambil mengenakan caping yang sudah mulai terlihat usang, mereka biasanya juga menyelipkan arit berukuran kecil (di balik pakaiannya) untuk membabat suket (rumput) liar di area persawahan. Selain itu juga tidak lupa membawa sedikit perbekalan dan beberapa peralatan lainnya. 

Di saat yang bersamaan, tampak beberapa anak sekolah usia SD juga berjalan kaki bergerombol sambil bercanda dan tertawa riang menuju sekolah yang jarak tempuhnya hanya sekitar 15 menit. Canda tawa selalu menemani perjalanan mereka menuju sekolah yang berada tepat di depan kelurahan.

Bagi sebagian orang, pemandangan ini mungkin tampak sederhana dan terkesan monoton bahkan membosankan. Nothing special alias tidak ada yang istimewa.

Namun, rutinitas ini menggambarkan sebuah desa dengan tingkat kemandirian yang sedang beranjak naik. Sebuah desa yang sedang berusaha menggapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik bagi warganya.

Mungkin desa saya belum termasuk ke dalam desa sejahtera yang sempurna. Hanya saja, di dalamnya ada begitu banyak effort yang sangat tinggi bagi setiap warga desa, untuk bagaimana menciptakan kesejahteraan dengan versi yang berbeda, tetapi dengan tujuan yang sama, yakni mencapai desa yang lebih sejahtera.

Mengenal Kang Edai, Tokoh Penggerak Sentral Desa Kemiren

Kang Edai, Tokoh Penggerak Sentral di Desa Wisata Adat Osing Kemiren

Berbicara mengenai desa sejahtera. Saya jadi teringat dengan salah satu Desa Sejahtera Astra, besutan PT Astra International Tbk, yaitu Desa Wisata Adat Osing Kemiren yang lokasinya berada di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Oh iya, Desa Sejahtera Astra merupakan sebuah program kontribusi sosial dari PT Astra International Tbk dengan tujuan untuk membantu membangun kemandirian secara ekonomi dan juga kesejahteraan masyarakat di pedesaan. 

Program ini fokus pada pengembangan kewirausahaan, kesehatan, pendidikan dan lingkungan dengan tujuan mewujudkan warga yang lebih mandiri secara berkesinambungan.

Program Desa Sejahtera Astra ini fokus pada pemberdayaan kewirausahaan berbasis potensi dan produk unggulan desa yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, start-up dan Kelompok Usaha Desa (KUD).

Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk melakukan wawancara dengan Kang Edai, sang local hero atau pahlawan lokal yang memiliki tekad kuat untuk memajukan Desa Kemiren melalui pelestarian wisata dan budaya yang ada di wilayahnya. Meski durasinya cukup singkat, tetapi apa yang disampaikan Kang Edai sangat berbobot.

Berbekal secangkir kopi dan kudapan ringan, saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan yang sedari tadi memenuhi isi kepala. Simak tulisan di bawah ini yang telah saya rangkum dari proses wawancara dengan Kang Edai :

Muhammad Edi Saputro atau lebih akrab disapa Kang Edai, merupakan seorang Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus sebagai tokoh sentral penggerak utama di Desa Kemiren.

Kang Edai memulai kisahnya ketika tahun 2024 lalu, di mana Desa Kemiren resmi bergabung ke Desa Sejahtera Astra. Saat itu sedang ada kegiatan kunjungan Bapak Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata kala itu. Usut punya usut, ternyata Bapak Menteri tertarik dengan Desa Wisata Adat Osing Kemiren.

Sebagai putra daerah, harapannya untuk memajukan desanya seolah mendapat angin segar. Dengan semangat, Ia menjelaskan, melalui sektor pariwisata yang tersedia di Desa Kemiren, Ia berharap agar roda perekonomian dapat terus bergerak melalui terciptanya lapangan pekerjaan baru.

Sambil sesekali menyeruput kopi dan menyimak penjelasan Kang Edai, ada rasa penasaran yang terus membuncah yang mengajak saya untuk berselancar sejenak di mesin peramban.

Dari berbagai jurnal yang saya baca, ternyata Desa Kemiren ini ibarat hidden gems alias "permata yang tersembunyi" yang menyimpan daya tarik dan budaya yang menakjubkan.

Desa Kemiren sendiri merupakan pusat pelestarian budaya asli Suku Osing, lengkap dengan rumah tradisional, pertunjukan seni Barong, tradisi unik dan kopi khas. Bahkan desa ini telah mengantongi beberapa penghargaan tingkat ASEAN dan masuk dalam program desa wisata terbaik dunia oleh UN Tourism UNESCO.

Yah tidak heran sih jika Desa Kemiren ini termasuk ke dalam jajaran Desa Sejahtera besutan Astra. Lha wong banyak sekali kelebihan yang dimiliki dan belum tentu dapat ditemukan di tempat lainnya.

Fokus Pada Empat Bidang, Menuju Desa Kemiren yang Lebih Gemilang

Desa Kemiren - Desa Sejahtera Astra (Image : Astra)

Kang Edai juga menjelaskan, sebagai bagian dari Desa Sejahtera Astra, Desa Kemiren tidak hanya fokus pada bidang pariwisata saja, tetapi juga fokus setidaknya pada empat bidang, yaitu Bidang Kesehatan, Bidang Pendidikan, Bidang Lingkungan dan juga Bidang Kewirausahaan.

Lantas, bagaimana Kang Edai mengelola semua bidang tersebut? Apakah Ia mengelolanya seorang diri?

Dengan logatnya yang sedikit medok khas Jawaan, Kang Edai menceritakan bahwa Ia tidak bekerja sendirian, melainkan dibantu oleh rekan-rekan lainnya yang membawahi keempat bidang tersebut. jadi, masing-masing bidang itu ada PIC-nya gitu deh alias orang yang bertanggung jawab mengelola bidang-bidang yang ada.

Bidang Kesehatan

Bidang kesehatan ini dibantu dari kader Posyandu, yakni dengan PIC ada Bu Emil dan Bu Eka. Program unggulan dari Bidang Kesehatan ini di antaranya pengadaan fasilitas kesehatan yang memadai untuk masyarakat, program pemeriksaan gratis untuk balita dan juga manula.

Bidang Pendidikan

Bidang Pendidikan ada di pendidikan anak usia dini (PAUD) yang dibantu oleh Ibu Devi dan Ibu Yesi. Program unggulan yang ditawarkan meliputi edukasi yang mengarah ke kebudayaan.

Bidang Lingkungan

Di bidang ini, ada PIC (Person In Charge) yang dibantu oleh Pak Ribut dan Mas Yayan. Adapun program unggulan yang ditawarkan adalah menginisiasi Desa Kemiren untuk membentuk wadah di bidang lingkungan, salah satunya bidang pembuatan pupuk organik dan pupuk kompos, serta pemilahan sampah di rumah Mas Yayan.

Bidang Kewirausahaan

Sambil menghabiskan kudapan yang sedari tadi saya siapkan, saya kembali mendengarkan cerita dari Kang Edai. Katanya untuk Bidang Kewirausahaan dipegang oleh Mas Fendi. Pada bidang ini, memiliki program unggulan, seperti paket wisata, khususnya wisata budaya. 

Kang Edai mengatakan jika Bidang Kewirausahaan adalah yang paling unggul dibandingkan ketiga bidang lainnya. 

Mengapa? Kok bisa sih? Jadi seperti ini penjelasan beliau :

"Tapi yang paling unggul dari kempat bidang ini sementara di bidang kewirausahaan, karena memang kami di dunia desa wisata ini sudah kami mulai, mungkin sejak tahun 2015-an ya sudah kami rintis sampai ke tahun 2024 ketika kami sudah tergabung ke Astra. Kami sudah, mungkin posisinya bisa dibilang salah satu desa wisata yang maju di Banyuwangi. Dan dengan bergabungnya kami ke Astra atau kami gabung ke Desa Sejahtera Astra Kemiren. Nah, ini membuat bidang kewirausahaan ini tambah lebih berkembang lagi, seperti itu."

"Kenapa pariwisata ini yang diunggulkan, karena semua bidang nanti akan ikut ketika Kemiren ini terkenal gitu ya. Nah, otomatis nanti bidang-bidang yang lainnya akan ikut apa ya, terangkat, seperti itu."

"Iya, karena memang wisata ini kan multiplayer effect-nya cukup luas ya, karena memang fokus kami itu di wisata budaya dan memang fokus utama di Kemiren itu adalah pelestarian kebudayaan. Mungkin cara yang paling tepat saat ini itu di sektor wisata. Akhirnya kami masukkan wisata sebagai program unggulan di Desa Kemiren, seperti itu."

Sambil menyimak penjelasan dari Kang Edai, sedikit-sedikit saya mulai menyimpulkan bahwasanya dengan mengenalkan bidang kewirausahaan, seperti wisata dan budaya kepada dunia luar, akan membuat Desa Kemiran semakin dikenal luas.

Dampak baiknya adalah ketiga bidang lainnya juga secara otomatis akan ikut dikenal masyarakat luas, mulai dari layanan kesehatan masyarakat, edukasi soal sampah hingga kuliner khas yang ada di sana.

Keren! Program Desa Sejahtera Astra Membawa Anugerah bagi Desa Kemiren

Kang Edai menjelaskan informasi seputar Desa Wisata Adat Osing Kemiren

Akhirnya sampai pada tulisan penutup dari serangkaian kisah Kang Edai. Tekad kuat dan kegigihan dari seorang Kang Edai berbanding lurus dengan hasil yang telah didapatkannya.

Apa yang Ia raih bukan hanya untuk dirinya semata, tetapi juga untuk kesejahteraan masyarakat Desa Kemiren. Ketulusan, kesabaran dan kegigihannya ternyata membuahkan hasil yang manis.

Namun, apa yang telah berhasil dicapai oleh Kang Edai dan Desa Kemiren sejauh ini, tidak lepas dari inisiasi dari Astra yang secara konsisten terus mendukung transformasi desa menuju masyarakat yang lebih mandiri, produktif dan lestari. 

Program Desa Sejahtera Astra ini memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan desa, mulai dari terciptanya lapangan kerja baru, memperkuat ketahanan pangan dan sosial masyarakat desa, serta meningkatkan literasi keuangan masyarakat.

Langkah Astra ini bukanlah program CSR (Corporate Social Responsibility - Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) biasa, melainkan sebagai bukti nyata Astra dalam memberikan dukungan pembangunan daerah pedesaan. 

Program Desa Sejahtera Astra juga membuktikan bahwa pembangunan daerah pedesaan dapat dimulai dari kolaborasi yang sederhana, misalnya saja kolaborasi antara Astra dengan masyarakat yang penuh semangat gotong royong. 

Semoga apa yang telah Kang Edai berikan untuk kemajuan desanya, baik berupa gagasan, ide, tindakan dan tenaga, dapat menjadi contoh sekaligus inspirasi bagi siapapun yang ingin berkontribusi nyata untuk kemajuan desanya.

Kisah ini juga menggambarkan, bahwasanya niat baik juga akan membuahkan hasil yang baik juga untuk masa depan jangka panjang.

Last but not least, saya harap tulisan ini dapat memberikan sedikit insipirasi, gagasan maupun informasi yang bisa menambah wawasan maupun literasi mengenai desa sejahtera yang ada di Indonesia.

Harapan saya, semoga ada Kang Edai - Kang Edai lainnya yang juga mampu memajukan dan menyejahterakan desanya dengan sentuhan hati, inspirasi dan gagasan yang positif. Tetap semangat!!