Gas sulfur dioksida (SO2) dari erupsi Gunung Anak Krakatau memang bisa terbawa angin hingga sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek. Namun, Badan Geologi menegaskan warna merah pada peta satelit SO2 yang viral bukan berarti udara di Jakarta dan sekitarnya sedang berada dalam kondisi berbahaya.
Penjelasan ini disampaikan setelah informasi mengenai sebaran SO2 Anak Krakatau ramai dibicarakan di media sosial dan membuat masyarakat khawatir. Badan Geologi menjelaskan bahwa peta tersebut menunjukkan jumlah gas di lapisan atmosfer pada ketinggian tertentu, bukan kadar SO2 yang sedang dihirup warga di permukaan.
Penjelasan Tentang Peta S02 yang Viral
Badan Geologi menjelaskan bahwa peta satelit SO2 yang beredar menunjukkan jumlah gas di kolom atmosfer pada ketinggian tertentu. Data tersebut berbeda dengan pengukuran kualitas udara yang digunakan untuk mengetahui konsentrasi gas yang berada di dekat permukaan tanah.
"Anomali SO2 pada konsentrasi lebih tinggi dari udara normal di lapisan atmosfer, bukan angka kualitas udara di permukaan," tulis Badan Geologi melalui akun X resminya.
Peta tersebut menggunakan satuan mg/m2 untuk menunjukkan jumlah SO2 di kolom atmosfer, bukan kadar gas yang dihirup manusia. Jadi, warna merah pada peta tidak otomatis berarti udara Jakarta sedang berbahaya.
Badan Geologi sebelumnya juga mengakui bahwa informasi mengenai gas SO2 Anak Krakatau yang beredar di media sosial sempat membuat masyarakat resah.
"Selain abu vulkanik dan lontaran batu pijar, erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga mengeluarkan gas SO2, informasi yang beredar di jagat media sosial terkait gas SO2 turut menimbulkan keresahan bagi masyarakat," tulis Badan Geologi.
Kenapa Bau SO2 Bisa Sampai Jabodetabek?
Kalau peta tersebut bukan menunjukkan kualitas udara permukaan, kenapa bau belerang dari erupsi Anak Krakatau bisa tercium hingga Jabodetabek?
Badan Geologi membandingkan kondisi Anak Krakatau dengan erupsi Gunung Ruang pada 2024. Saat itu, gas terlepas hingga sekitar 5.000 meter sehingga tidak terlalu terasa di permukaan. Sementara Anak Krakatau mengalami lava fountain yang membuat gas berada di troposfer bagian bawah dan lebih mudah terbawa angin dekat permukaan.
Itulah sebabnya bau gas bisa tercium di wilayah yang cukup jauh dari gunung, termasuk Banten, Jabodetabek, hingga Lampung.
Badan Geologi juga memberikan penjelasan mengenai kondisi yang perlu diperhatikan masyarakat. Konsentrasi SO2 hingga 5 ppm di udara disebut masih berada dalam batas aman untuk kesehatan. Namun, paparan dalam kadar lebih tinggi dapat menyebabkan gangguan seperti batuk hingga sesak napas.
Jika tidak mencium bau SO2, masyarakat tidak perlu langsung panik. Namun, ketika bau tersebut mulai tercium, ada beberapa langkah sederhana yang disarankan.
Warga sebaiknya menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar ruangan dan segera berlindung di dalam bangunan. Masyarakat juga diminta tidak mengonsumsi air hujan karena gas sulfur yang bercampur dengan uap air berpotensi membuat air hujan menjadi lebih asam.
Sebelumnya, erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut disertai lava fountain dan aliran lava sebelum akhirnya dinyatakan mereda pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB oleh Badan Geologi ESDM.
PVMBG juga mencatat Anak Krakatau telah mengalami ratusan kali erupsi sejak statusnya dinaikkan ke Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026. Selama periode tersebut, dentuman erupsi terdengar hingga beberapa provinsi dan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Dengan penjelasan tersebut, masyarakat tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa peta SO2 berwarna merah berarti udara Jakarta sedang berbahaya. Namun, jika bau SO2 tercium, tetap penting mengikuti imbauan petugas dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Baca Juga
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Beras Bebas Pajak, Pembalut Kena PPN: Potret Hukum Kita Buta Gender
-
Review Laut Bercerita: Kisah Pilu Perjuangan Aktivis Melawan Orde Baru
-
Tayang 4 November, Intip Sinopsis Drakor Fantasi The Remarried Empress
-
Birokrasi No Viral No Justice: Kenapa Pelayanan Publik Selalu Dipersulit?
Artikel Terkait
-
Anak Krakatau Kembali Erupsi Tiga Kali, Kolom Abu Tertinggi 500 Meter
-
Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Capai Ketinggian 1,8 Kilometer Mengarah ke Selat Sunda
-
Erupsi GAK Lumpuhkan Penerbangan, Menhub Ingatkan Transportasi Harus Siap Hadapi Darurat
-
Hampir 100 Tahun Tak Terjadi, Dua Pulau Baru Tiba-Tiba Muncul di Dekat Anak Krakatau
-
Api Biru Muncul di Gunung Papandayan, Pendakian Ditutup Sementara
News
-
Bukan Soal Anti Asing, Ini Alasan Standar Halal Indonesia Bikin Negara Maju Ketar-ketir!
-
Tembus Grand Final, 5 Tim Futsal Putri Maju ke Puncak AXIS Nation Cup 2026
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
AXIS Nation Cup 2026 Memasuki Puncak, 16 Tim Berebut Gelar Juara di Jakarta
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
Terkini
-
Ulasan Let Me Be Your Knight: Mengurai Burnout dan Sisi Rapuh Idol K-Pop
-
Jangan Lewatkan! ENHYPEN Rilis Jadwal Teaser Single The Sin: Parallel World
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
5 Body Lotion dengan Kandungan Aloe Vera, Memberi Sensasi Sejuk di Kulit!