Hayuning Ratri Hapsari | Agustian Pamungkas
Laut Bercerita. (IMDb)
Agustian Pamungkas

Bagaimana rasanya hidup dalam bayang-bayang ketakutan hanya karena berani membaca buku dan menyuarakan kebenaran? Pertanyaan pilu yang menyayat hati inilah yang menjadi fondasi utama dalam Laut Bercerita (2026), sebuah film drama politik terbaru yang diadaptasi dari novel laris karya Leila S. Chudori.

Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen yang menulis naskahnya bersama sang penulis novel, film produksi Pal8 Pictures ini sukses menyajikan potret kelam sejarah Indonesia. Kolaborasi apik mereka tidak hanya memanjakan mata lewat suguhan visualnya yang sinematik, tetapi juga berhasil meremukkan perasaan para penonton lewat narasinya yang kuat.

Melalui arahan yang rapi, kita diajak kembali menyelami masa-masa penuh tekanan di era akhir Orde Baru. Jauh dari kesan membosankan, film ini hadir sebagai pengingat emosional tentang harga mahal sebuah kebebasan berpendapat yang akan menghanyutkan kita dalam semangat perlawanan anak muda, sekaligus menyisakan duka mendalam dari keluarga yang ditinggalkan.

Perjuangan Biru Laut Melawan Tembok Kekuasaan

Reza Rahadian dalam trailer Laut Bercerita. (YouTube: Cinema 21)

Alur cerita berfokus pada kehidupan Biru Laut Wibisono (Reza Rahadian), seorang mahasiswa Sastra Inggris di Yogyakarta yang memiliki kecintaan luar biasa pada dunia literasi. Suasana kampus yang tegang akibat pembungkusan suara mahasiswa tidak membuat nyalinya ciut. Laut memutuskan untuk bergabung dengan Winatra, sebuah kelompok diskusi kritis mahasiswa yang bergerak membela ketidakadilan rakyat kecil.

Di dalam kelompok Winatra inilah, Laut mulai mengenal Arifin Bramantyo (Yoga Pratama) dan Kasih Kinanti (Dian Sastrowardoyo). Bersama sahabat-sahabatnya seperti Sunu (Dewa Dayana), Daniel (Kevin Julio), dan Alex (Ben Nugroho), Laut aktif mendiskusikan buku-buku kiri yang dilarang oleh pemerintah. Bagi mereka, membaca dan menulis adalah senjata pertama sebelum turun langsung melakukan aksi nyata mendampingi para petani yang haknya dirampas.

Namun, idealisme anak-anak muda ini harus berhadapan dengan tembok kekuasaan yang kejam. Aktivitas pergerakan Winatra mulai terendus intel rezim penguasa, memaksa mereka masuk ke dalam radar buruan aparat keamanan. Kehidupan Laut seketika berubah total menjadi pelarian tanpa akhir, berpindah dari satu kota ke kota lain demi menyelamatkan diri dan menyembunyikan identitas.

Ketegangan mencapai puncaknya menjelang peristiwa Reformasi 1998. Ketika tengah bersiap mendeklarasikan gerakan mereka, kelompok Winatra dijadikan kambing hitam atas kerusuhan mimbar bebas di Jakarta. Dalam sebuah penyergapan malam yang mencekam, Laut bersama rekan-rekan seperjuangannya ditangkap secara paksa dan dijebloskan ke sebuah tempat rahasia untuk diinterogasi dan disiksa tanpa ampun.

Setelah penyiksaan sadis itu, Laut dan teman-temannya dinyatakan hilang secara misterius tanpa jejak. Cerita kemudian bergeser menyoroti kehampaan hidup yang dialami sang adik, Asmara Jati (Yunita Siregar), bersama kekasih Laut, Ratih Anjani (Eva Celia), serta kedua orang tuanya (Christine Hakim dan Arswendy Beningswara). Selama bertahun-tahun, mereka terjebak dalam ruang tunggu penderitaan, menolak lupa, dan terus menggelar aksi nyata demi menuntut keadilan serta kejelasan nasib Laut.

Review Film Laut Bercerita

Adegan dalam trailer Laut Bercerita. (YouTube: Cinema 21)

Sebagai pembaca novelnya, menonton film ini sukses membuat dadaku terasa sesak dari awal sampai akhir. Sutradara Yosep Anggi Noen sangat cerdas menghidupkan atmosfer era 90-an yang terasa nyata, mulai dari pemilihan latar hingga tone warna visualnya. Aku paling suka bagian awal film yang memperlihatkan kehangatan para aktivis Winatra saat mengobrol dan bercanda. Momen-momen santai inilah yang membangun kedekatan emosional dengan penonton, sehingga saat adegan penculikan terjadi, rasa sedih dan kehilangan itu langsung menusuk ke hati.

Akting Reza Rahadian sebagai Biru Laut tampil di luar dugaan. Meski sempat ada keraguan karena faktor usia karakter, Reza membuktikan kelasnya sebagai aktor papan atas. Ia sukses menghidupkan sosok Laut yang puitis sekaligus rapuh saat menghadapi siksaan. Sorot matanya yang menahan perih, dipadukan dengan suara narasinya yang membacakan petikan novel, benar-benar bikin terenyuh.

Apresiasi tinggi juga patut diberikan kepada Yunita Siregar sebagai Asmara Jati. Perannya sebagai adik yang harus tetap logis demi menjaga mental orang tuanya benar-benar menguras emosi. Kita bisa melihat jelas bagaimana ia mengubah kedukaan menjadi bahan bakar keberanian untuk menuntut keadilan. Ditambah iringan lagu "Matilah Kau Mati" yang mencekam, setiap adegan penantian keluarga ini sukses bikin merinding.

Menariknya, film ini memilih alur cerita yang maju secara linier. Berbeda dengan bukunya yang maju-mundur, pilihan ini membuat penonton yang belum membaca novelnya bisa mengikuti cerita dengan mudah. Walau beberapa detail penyiksaan agak diperhalus agar aman tayang di bioskop, esensi kehilangan dan semangat perjuangan dari buku aslinya tetap tersampaikan dengan utuh.

Sedikit catatan, perpindahan dari babak pelarian mahasiswa ke babak kesedihan keluarga terasa agak mendadak, membuat tempo film sempat melambat di pertengahan. Untungnya, penampilan Christine Hakim sebagai sosok Ibu berhasil menyelamatkan suasana. Aktingnya luar biasa kuat, terutama pada adegan ritual makan malam yang menyisakan piring kosong untuk Laut. Kehadiran tokoh-tokoh perempuan di film ini juga memberikan pesan moral yang indah tentang women supporting women di masa sulit.

Overall, Laut Bercerita adalah tipe film yang ceritanya bakal terus terngiang-ngiang di kepala bahkan setelah keluar dari bioskop. Film ini bukan sekadar sinema sejarah, melainkan sebuah pengingat bahwa di balik kenyamanan kebebasan yang kita nikmati hari ini, ada harga darah, air mata, dan nyawa para aktivis yang hak atas keadilannya masih terus diperjuangkan hingga kini.

Nah, buat Sobat Yoursay yang penasaran dan mau nonton, film ini baru banget mulai tayang tanggal 29 Oktober, di bioskop seluruh Indonesia. Jadi, mumpung filmnya masih hangat hangatnya, segera luangkan waktumu minggu ini buat nonton bareng teman atau keluarga!