Yogyakarta — Wregas Bhanuteja mengaku pernah takut setengah mati setelah menonton film Jelangkung. Saking traumanya, ia tidak berani mematikan lampu tidur selama seminggu. Pengakuan itu terdengar seperti pengalaman penonton horor pada umumnya. Namun, dari pengalaman tersebut, Wregas justru menemukan alasan untuk tidak menjadikan tradisi luhur sebagai bahan baku ketakutan murahan.
Dalam sesi Director’s Talk bertajuk “Mistik Melampaui Ketakutan: Heritage dalam Sudut Pandang Pembuat Film” di Kotabaru Heritage Film Festival 2026, Jumat (18/9/2026), Wregas menyampaikan pandangannya tentang mistik dan sinema. Ia menolak cara pandang yang otomatis menghubungkan gamelan, wayang kulit, atau tembang sinden dengan sesuatu yang menyeramkan.
“Yang saya sayangkan dari perkembangan film horor belakangan ini adalah eksploitasi elemen tradisi luhur, seperti suara gamelan, wayang kulit, atau tembang sinden, yang dikesankan seolah-olah selalu menakutkan dan berhantu,” ujar Wregas dalam sesi diskusi yang berlangsung di Ruang Kaca Bawah, Pusat Desain Industri Nasional (PDIN), Yogyakarta.
Bagi Wregas, suluk wayang dan karawitan memiliki keindahan yang tidak perlu disulap menjadi hantu agar menarik perhatian penonton. Tradisi tidak harus mengenakan topeng seram demi memperoleh tempat dalam industri hiburan. Kadang-kadang, yang diperlukan hanya keberanian untuk melihatnya dengan mata yang tidak terburu-buru mencari setan.
Pemikiran tersebut berangkat dari definisi Wregas tentang mistik. Ia memandang mistik sebagai sesuatu yang belum dapat didefinisikan secara ilmiah pada masa kini. Dalam penjelasannya, fenomena yang dianggap gaib mungkin saja memperoleh penjelasan berbeda seiring perkembangan pengetahuan manusia.
“Saya tumbuh dalam nuansa di mana mistik selalu dikaitkan dengan sesuatu yang menakutkan. Padahal, bagi saya, mistik sebenarnya adalah segala sesuatu yang belum bisa kita definisikan secara sains saat ini,” tuturnya.
Pandangan tersebut memiliki hubungan erat dengan Film Para Perasuk (2026). Wregas menceritakan pengalaman Om Dimas, pamannya, yang berjuang mempertahankan mata air desa dari ancaman pembelian oleh perusahaan air minum kemasan. Dalam kisah itu, narasi mistik digunakan masyarakat lokal sebagai mekanisme ekologis untuk melindungi sumber air dan lingkungan sekitarnya.
Di sini, mistik tidak tampil sebagai hantu yang bertugas mengejar manusia. Ia hadir sebagai pengetahuan lokal, strategi perlindungan, serta cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam. Sesuatu yang sering dianggap irasional dari kejauhan ternyata dapat memiliki fungsi sosial yang sangat konkret.
Wregas juga menjelaskan pengaruh sutradara Yorgos Lanthimos terhadap cara kerjanya. Absurditas dalam film Lanthimos tidak semata-mata lahir dari teknologi canggih atau kejadian ajaib. Keanehan muncul melalui kebiasaan manusia yang terlalu kaku, lalu ditempatkan dalam situasi yang mengusik kewajaran.
Pengaruh itu tampak dalam adegan konseling guru di kolam renang dalam film Budi Pekerti (2023) dan adegan menari di tengah pengasapan atau fogging dalam film Penyalin Cahaya (2021). Adegan tersebut tidak hadir sebagai hiasan visual belaka. Wregas menggunakannya untuk membaca tekanan emosi, relasi kuasa, dan perilaku manusia yang sering kali lebih absurd daripada cerita fiksi.
Perjalanan kreatif Wregas juga menunjukkan perubahan nada emosional. Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti memiliki atmosfer tragedi yang kuat. Para Perasuk bergerak menuju euforia dan pelepasan. Perubahan itu, menurut Wregas, merupakan bentuk kejujuran terhadap fase hidupnya.
“Sebagai pembuat film, saya harus jujur dengan perasaan diri sendiri pada fase tersebut dan tidak mau membohongi diri hanya demi mempertahankan ‘label’ sebagai sutradara spesialis tragedi,” katanya.
Kejujuran rasa kemudian menjadi pelajaran paling personal yang ia bawa dari film pendek berjudul “Udara”, yang dibuat ketika masih SMA. Wregas menyesali karya tersebut karena lebih didorong keinginan memamerkan teknik kamera daripada menyampaikan emosi yang tulus.
“Jurus teknis itu nomor dua, yang paling utama adalah kejujuran rasa yang bisa dihayati penonton,” ujar Wregas.
Prinsip itu juga membentuk sikapnya terhadap cheat blocking, yaitu praktik mengatur posisi aktor secara tidak alami demi memperoleh komposisi gambar yang dianggap indah. Dalam film panjang keempatnya, Wregas ingin lebih percaya pada performa organik para aktor.
Pada akhirnya, pemikiran Wregas memperlihatkan bahwa sinema tidak selalu membutuhkan kemegahan teknis untuk meninggalkan kesan. Kadang-kadang, film justru menjadi lebih hidup ketika sutradara bersedia mengurangi keinginannya untuk terlihat hebat. Kamera boleh indah, adegan boleh ganjil, tradisi boleh hadir dalam segala misterinya. Semua itu tetap membutuhkan satu hal yang sulit dipalsukan, yaitu soal kejujuran rasa.
Baca Juga
-
Hidupkan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Gelar KHFF 2026
-
Mitos Photographic Memory ala Sherlock: Menguji Klaim Brain Hacks
-
AADC Kembali Bikin Flashback: Mengapa Nostalgia SMA Tetap Memikat Gen Z?
-
Tafsir Lagu Pamungkas: Memaknai BKKASM dalam Relasi Orang Tua dan Anak
-
Tren Aplikasi Ringkasan Buku: Solusi Hemat Waktu atau Ancaman Daya Kritis?
Artikel Terkait
News
-
Hidupkan Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Gelar KHFF 2026
-
Menuntut Dampak Nyata BRICS: Mampukah QRIS dan UPI India Berkolaborasi demi Pedagang Kaki Lima?
-
Bawa Teror dari Indonesia Timur ke Layar Lebar, Ini Review Jujur Film Suanggi: Ilmu Kutukan
-
Tanah Bekas Tambang Ternyata Masih Punya Kehidupan, Ini Temuan IPB
-
Memahami Bencana Karhutla di Kawi-Butak: Saat Eksotisme Alam Berubah Jadi Tantangan Berbahaya
Terkini
-
Sarang de Chocolate: Toko Cokelat Misterius, Tempat Cinta dan Luka Menemukan Ruang untuk Pulih
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
-
Daemons of the Shadow Realm Umumkan Season 2, Kisah Yuru dan Asa Berlanjut
-
Review The Great Flood: Saat Film Bencana Berubah Jadi Misteri Sci-Fi yang Bikin Pikiran Meledak!
-
Take My Hand: Ketika Menjadi Anak Kelas 12 Tak Semudah yang Dibayangkan