Krisis pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia kembali menjadi sorotan tajam. Di tengah kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) yang kian kritis dan sistem daur ulang kota yang compang-camping, beban terberat penanganan sampah justru jatuh ke pundak perempuan akar rumput.
Fenomena ini terungkap dalam riset ilmiah terbaru bertajuk "Gendered community-based waste management and the feminization of environmental responsibility in Greater Jakarta, Indonesia" yang diterbitkan di jurnal Gender, Technology and Development.
Studi yang dilakukan oleh Diana Teresa Pakasi bersama tim peneliti ini menyoroti bagaimana ketergantungan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di wilayah perkotaan sangat bertumpu pada kerja-kerja informal yang dimotori oleh kaum perempuan.
Menurut para peneliti, beban lingkungan tidak terdistribusi secara adil. Praktik pengelolaan sampah yang berbasis komunitas kerap mengalami "feminisasi", di mana tanggung jawab moral dan fisik untuk memilah, mengelola, hingga menjaga kebersihan lingkungan domestik maupun komunal dilimpahkan secara otomatis kepada perempuan tanpa dukungan perlindungan sosial yang memadai.
"Agar praktik pengelolaan sampah benar-benar berkelanjutan, sistem yang dirancang harus melibatkan laki-laki dan perempuan secara setara di tingkat komunitas, serta mengatasi berbagai bentuk ketimpangan gender dan dampak kesehatan yang dialami perempuan," tulis para peneliti dalam studi tersebut.
Beban Ganda dan Risiko Kesehatan
Di lapangan, perempuan akar rumput di kawasan perkotaan padat penduduk sering kali menjadi motor penggerak bank sampah, pengelola kompos mandiri, hingga pengawas kebersihan lingkungan RT/RW. Namun, kerja keras kolektif ini sering kali diabaikan dalam kerangka kebijakan makro perkotaan.
Bukan hanya menanggung beban kerja tambahan di tengah urusan domestik, perempuan yang terlibat langsung dalam pengelolaan sampah komunitas juga menghadapi risiko kesehatan fisik yang nyata. Paparan terhadap sampah plastik tanpa pelindung yang memadai serta polusi dari pembakaran sampah terbuka menjadi ancaman harian yang luput dari perhatian pemangku kebijakan.
Para pengamat lingkungan menilai bahwa pemerintah daerah tidak boleh terus-menerus membebankan penyelesaian krisis sampah perkotaan kepada kesadaran moral masyarakat, apalagi mengandalkan ketangguhan kaum perempuan secara eksploitatif. Negara harus hadir memperkuat infrastruktur hilir hingga hulu secara sistemik, bukan sekadar memindahkan masalah ke tangan warga.
Dengan volume sampah perkotaan yang terus melonjak setiap tahunnya, reformasi kebijakan tata kelola sampah yang berperspektif keadilan gender dan kesehatan publik mendesak untuk segera diwujudkan demi masa depan lingkungan urban yang lebih berkelanjutan.
Penulis: Inesia Dian
Baca Juga
-
Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026
-
Dari Aspal Kampung Ke Panggung Asia: 3 Bintang Muda Futsal AXIS 2026
-
Mengintip Dapur Redaksi Suara.com: Saat Anak-Anak SD VIS Kelapa Gading Belajar Jadi Jurnalis Cilik!
-
Lelah Batin dan Patah Hati? Coba 7 Langkah Pemulihan ala Penulis Satoshi Yagisawa Ini
-
Merayakan Usia 23 Tahun: Belajar Merangkul Sepi dari Penulis 'Days at the Morisaki Bookshop'
Artikel Terkait
News
-
Dari Masjid Ke Masjid, Menyusuri Jejak Sejarah di Sudut Jakarta
-
Lewat Sanggar Belajar, UPNVJ Dampingi Anak Pekerja Migran Indonesia di Malaysia
-
Dugaan Penyadapan Ilegal Prabowo: Fakta, Pelaku, dan Misteri di Baliknya
-
Solusi Disrupsi AI, UGM dan Uni Eropa Dorong Kolaborasi di EHEF 2026
-
EHEF 2026 Resmi Digelar di UGM, Hadirkan 90 Kampus Eropa dan 1.000 Beasiswa
Terkini
-
Mahalnya Validasi Visual: Jebakan Beauty Standard yang Menguras Mental
-
Ketika Feodalisme Berhadapan dengan Hak Rakyat, Jogja Istimewa untuk Siapa?
-
Kulit Tetap Kencang, Ini 5 Sunscreen Lokal SPF 50 Anti-Aging
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
-
Pajak Digital RI: Garang Cekik Rakyat Kecil, Lembek ke Perusahaan Asing