Bayangkan kamu sedang menjalani pagi yang biasa. Tidak ada tanda-tanda bahwa dunia akan segera berubah. Lalu tiba-tiba air mulai masuk.
Bukan hujan biasa. Bukan banjir yang bisa surut beberapa jam kemudian. Air terus naik, gedung mulai terendam, orang-orang panik, dan satu-satunya pilihan yang tersisa adalah terus bergerak ke tempat yang lebih tinggi. Begitulah The Great Flood memulai ceritanya.
Film Korea yang saya tonton karena Kim Da-mi sebagai pemeran utamanya ini awalnya terlihat seperti film bencana pada umumnya. Dunia sedang menghadapi banjir besar yang mengancam kehidupan manusia. Gu An-na, seorang peneliti sekaligus ibu, terjebak di apartemennya bersama seorang anak laki-laki bernama Ja-in.
Satu-satunya hal yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya menyelamatkan anak tersebut. Dan menurut saya, bagian awal film ini cukup berhasil membuat penonton ikut panik. Air terus naik. Tangga berubah menjadi jalur penyelamatan sekaligus jebakan.
Orang-orang yang sebelumnya hidup berdampingan tiba-tiba harus memikirkan keselamatan masing-masing. Dalam situasi seperti itu, manusia memperlihatkan sisi terbaik sekaligus terburuknya. Ada yang membantu. Ada yang mengorbankan diri. Tetapi ada juga yang mulai memikirkan dirinya sendiri.
Di sinilah The Great Flood terasa lebih menarik daripada sekadar cerita tentang bencana alam. Karena sebenarnya, film ini bukan hanya bertanya, “Bagaimana manusia bisa bertahan ketika dunia tenggelam?”
Film ini perlahan membawa kita pada pertanyaan yang jauh lebih besar, “Apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia ketika dunia sudah tidak seperti sebelumnya?”
Kim Da-mi sebagai An-na menjadi pusat dari pertanyaan tersebut.
Karakter An-na bukan sosok pahlawan super yang mampu menghadapi semuanya dengan mudah. Ia takut, panik, kelelahan, dan berkali-kali berada dalam situasi yang membuatnya hampir menyerah. Tetapi ada satu hal yang terus membuatnya bergerak, Ja-in.
Hubungan mereka menjadi jantung emosional film. Bagi An-na, menyelamatkan Ja-in bukan sekadar menjalankan sebuah misi. Ada ikatan emosional yang membuatnya terus berusaha meskipun situasi semakin mustahil.
Di titik ini, film mulai mengubah arah. Kalau kamu masuk ke The Great Flood dengan ekspektasi melihat film bencana seperti 2012 atau The Day After Tomorrow, mungkin kamu akan cukup terkejut. Karena semakin jauh ceritanya berjalan, film ini mulai masuk ke wilayah fiksi ilmiah yang lebih kompleks.
Tanpa membongkar terlalu banyak, keberadaan Ja-in ternyata berkaitan dengan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di awal. Film kemudian membawa unsur kecerdasan buatan, eksperimen, dan masa depan umat manusia ke dalam cerita.
Netflix sendiri mengategorikan film ini sebagai fiksi ilmiah, drama, aksi, dan petualangan, bahkan memasukkannya dalam kategori cerita dengan unsur time loop. Perubahan genre ini menurut saya menjadi pedang bermata dua.
Film yang awalnya membuat kita sibuk memikirkan banjir ternyata menyimpan pertanyaan tentang teknologi dan kemanusiaan. Ada gagasan bahwa ketika manusia berada di ambang kepunahan, teknologi mungkin menjadi salah satu harapan untuk mempertahankan kehidupan.
Tetapi di sisi lain, perubahan tersebut bisa membuat penonton kebingungan.
Beberapa informasi penting tidak langsung dijelaskan. Alur mulai bermain dengan pengulangan, simulasi, dan berbagai lapisan realitas. Bahkan sejumlah ulasan juga menilai transisi dari film bencana menuju fiksi ilmiah terasa cukup mendadak dan membuat aturan dunianya sulit diikuti.
Namun justru di situlah saya merasa film ini menarik untuk dibicarakan. The Great Flood memang bukan film yang semuanya bisa langsung dipahami dalam sekali lihat. Ada bagian yang mungkin membuat kita berhenti dan bertanya, “Sebentar, ini sebenarnya sedang terjadi atau bukan?”
Tetapi setelah dipikirkan kembali, kebingungan tersebut justru membuka ruang untuk membicarakan pesan filmnya. Teknologi bisa dibuat untuk menyelamatkan manusia. AI bisa diprogram untuk memahami emosi. Sebuah kehidupan bisa direkayasa.
Tetapi apakah sesuatu yang dibuat oleh manusia bisa benar-benar memiliki perasaan? Dan kalau jawabannya iya, apakah kita masih bisa mengatakan bahwa ia bukan manusia hanya karena ia tidak dilahirkan seperti kita?
Pertanyaan semacam inilah yang membuat The Great Flood terasa lebih luas daripada premis bencananya.
Pada akhirnya, The Great Flood bukan hanya bercerita tentang dunia yang tenggelam. Film ini mengajak kita bertanya, ketika dunia benar-benar berakhir, apakah kita masih memilih untuk menyelamatkan orang lain?
Baca Juga
-
April, Come She Will: Cinta Tidak Hilang, Kita Hanya Berhenti Merasakannya
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
After The Storm: Bahagia Tak Harus Menunggu Semua Impian Menjadi Kenyataan
-
Review Shoplifters: Bahwa Keluarga Tak Selalu Dibentuk oleh Hubungan Darah
-
Review Unlocked: Satu Ponsel Hilang, Seluruh Kehidupan Berubah Jadi Teror
Artikel Terkait
-
Review SCTV: The Greatest Show You've Never Heard Of, Jejak Tawa Legendaris
-
7 Rekomendasi Film Antologi di Netflix, Horor hingga Komedi
-
Sinopsis Misty Green, Garapan Chris Rock Tayang 9 November di Netflix
-
Ulasan Exhuma: Tentang Dosa Masa Lalu yang Tak Bisa Dikubur Sedalam Apa Pun
-
Sinopsis 'One Year to Live, Buy a Man', Film Romcom Shibasaki Ko di Netflix
Ulasan
-
The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat
-
Review SCTV: The Greatest Show You've Never Heard Of, Jejak Tawa Legendaris
-
Mendidik Anak dengan Kasih Sayang ala Nabi dalam Happy Islamic Parenting
-
MobLand Season 2: Menguak Sisi Gelap Dinasti Kriminal Keluarga Harrigan!
-
Sentilan Isu Sosial dan Arti Ketulusan Keluarga di Novel Kado Terbaik
Terkini
-
Jika Presiden Saja Bisa Disadap, Seberapa Aman Privasi Digital Kita?
-
Dari Tagar ke Aksi Nyata: Bukti Gen Z Vocal Awasi Isu Negara, Bukan FOMO!
-
Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator
-
Dilema Green Jobs: Solusi atas Krisis Iklim atau Ancaman Ekstraktif Baru?
-
Terlalu Lama Berhemat, Gen Z Justru Terjebak Revenge Spending