Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro merupakan karya horor supranatural terbaru garapan sutradara Adhe Dharmastriya bersama penulis naskah Evelyn Afnilia. Diproduksi oleh Lab Pictures, film berdurasi 1 jam 42 menit ini resmi dirilis di bioskop Indonesia sejak 22 Oktober 2026.
Kisahnya mengangkat fenomena Gen Z yang terobsesi mengejar popularitas instan, menampilkan deretan aktor muda seperti Ochi Rosdiana, Jeff Smith, Yessica Tamara, Alif Rivelino, dan Chelcy Clarissa.
Terjebak Teror setelah Memutar Lagu Lingsir Wengi
Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro menceritakan sekelompok anak muda yang datang ke sebuah motel tua di kawasan Malioboro, Yogyakarta, untuk membuat konten horor. Mereka adalah Putik (Ochi Rosdiana) bersama teman-temannya yang ingin mendapatkan pengalaman mistis demi menarik perhatian penonton. Namun, rencana yang awalnya terlihat seru justru membawa mereka pada kejadian yang tidak terduga.
Rasa penasaran membawa mereka memasuki sebuah kamar terlarang di motel tersebut. Di sana, mereka menemukan tape recorder berisi lagu Lingsir Wengi. Tanpa menyadari akibatnya, mereka memutar rekaman itu dan mulai mengalami berbagai kejadian aneh. Suasana yang semula hanya dipenuhi rasa penasaran perlahan berubah menjadi teror yang membuat mereka ketakutan.
Putik yang memiliki kemampuan melihat dan berkomunikasi dengan arwah mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Sosok misterius dan kejadian supranatural yang terus bermunculan membuat mereka kesulitan mencari jalan keluar. Di tengah situasi tersebut, mereka juga harus menghadapi berbagai persoalan yang membuat hubungan di antara mereka semakin rumit.
Seiring berjalannya cerita, misteri di balik motel dan teror yang mereka alami mulai terungkap. Perjalanan yang awalnya bertujuan menghasilkan konten horor berubah menjadi perjuangan untuk menyelamatkan diri. Mereka pun harus menghadapi kenyataan bahwa keputusan yang diambil karena rasa penasaran bisa membawa akibat yang jauh lebih besar dari perkiraan.
Review Film Lingsir Wengi: Motel Malioboro
Jujur, film horor yang satu ini langsung mencuri perhatian lewat ide ceritanya. Kisahnya mengikuti sekelompok anak muda yang nekat mendatangi motel tua demi membuat konten horor, namun malah berujung terjebak dalam petaka. Sejak awal, penonton sudah disuguhi firasat buruk, terutama saat rasa penasaran menuntun mereka melanggar aturan di sebuah kamar terlarang.
Ketegangan mulai memuncak saat mereka menemukan dan memutar rekaman tape recorder berisi lagu Lingsir Wengi. Keputusan itu langsung memicu rentetan kejadian aneh yang mengubah ambisi mereka menjadi teror nyata. Pemilihan lagu ini sangat pas karena langsung menyentuh sensitivitas mistis penonton Indonesia, yang makin mencekam berkat latar motel tua yang penuh rahasia.
Motivasi para karakter juga sangat relate dengan realitas sekarang. Mereka terobsesi membuat konten viral demi mengalahkan kompetitor, hingga menutup mata dari segala peringatan bahaya. Sindiran terhadap fenomena media sosial ini terasa kuat, menggambarkan bagaimana haus akan validasi digital sering kali membuat orang nekat mengabaikan keselamatan diri.
Sayangnya, eksekusi menjelang akhir film agak kurang rapi. Cerita mendadak disesaki oleh tumpukan konflik baru dan pembongkaran rahasia masa lalu secara bersamaan. Alih-alih membuat klimaksnya megah, fokus penonton justru terpecah ke banyak arah, yang akhirnya malah mengaburkan dampak emosional dari tiap masalah.
Padahal, misteri motel dan kutukan lagu Lingsir Wengi sudah menjadi modal awal yang solid. Sayangnya, karena terlalu banyak persoalan yang dijejalkan dalam waktu singkat, tensi horor yang sudah dibangun sejak awal jadi buyar. Bagian akhir yang seharusnya menjadi puncak teror terdengar terlalu bising oleh drama, ketimbang benar-benar memberikan rasa ngeri.
Walau begitu, film ini tidak sepenuhnya gagal. Atmosfer motel yang kelam, elemen misteri, serta dinamika hubungan antar-karakter tetap berhasil menjaga rasa penasaran penonton. Nilai plusnya, teror di film ini bukan sekadar pamer jumpscare, melainkan konsekuensi logis dari pilihan buruk dan dosa masa lalu yang mereka simpan.
Overall, film Lingsir Wengi: Motel Malioboro punya premis menjanjikan lewat perpaduan cerita mistis lokal dan fenomena haus konten. Hanya saja seperti yang saya keluhkan sebelumnya, di paruh akhir potensi horornya kurang tergali maksimal. Buat pencinta horor psikologis yang dibalut drama persahabatan, film ini masih cukup seru untuk kalian tonton.
Baca Juga
-
Resmi! 5 Pembalap Veteran Ini Terdepak dari MotoGP 2027, Siapa Saja?
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
Sinopsis Jumanji 3: Penutup Trilogi Era Dwayne Johnson, Tayang 25 Desember
-
Mengungkap Asal-usul Teror Boneka Terkutuk dalam Film The Doll Ghawiah
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Mawang: Jangan Sebut Namanya, Petaka Pelanggaran Pantangan Adat
-
Ulasan Novel Bulan di Atas Istana: Kisah Cinta di Balik Riuh Istana Negara
-
Laut Bercerita, Kisah Masa Lalu yang Terasa Dekat dengan Indonesia Hari Ini
-
Detective Conan: Analisis Tajam Shinichi Kudo Memecahkan Kasus Pembunuhan!
-
The Last 10 Years: Ketika Kita Hanya Punya Sedikit Waktu untuk Bisa Bahagia
Terkini
-
Di Mana Bumi Dipijak, Di Situ Kita Bayar Pajak
-
Buku untuk Belajar Kok Masih Kena Pajak? Ini yang Perlu Dikritik
-
Konser 20 Tahun for Revenge Jadi Momen Perpisahan, Chimot Resmi Undur Diri
-
7 Rekomendasi Sepatu Olahraga dan Kasual Harga Rp500 Ribu - Rp1 Juta
-
Kim Da Mi, Jo Bo Ah, Jo Aram Jadi Trio Pembunuh di Drama Baru The Obedient Killer