European Higher Education Fair (EHEF) 2026 resmi dibuka di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Rabu (4/11/2026). Pameran pendidikan tinggi edisi ke-18 ini menghadirkan 90 institusi dari 14 negara anggota Uni Eropa, dengan 69 institusi membuka stan di Yogyakarta.
EHEF 2026 diselenggarakan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia bersama UGM. Setelah berlangsung di Yogyakarta pada 4 November, pameran berlanjut di Catur Dharma Hall, Menara Astra, Jakarta, pada 7–8 November 2026. Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Pengunjung dapat mendaftar melalui virtual.ehef.id.
Pameran ini memberi kesempatan kepada pelajar, mahasiswa, orang tua, dan akademisi untuk memperoleh informasi studi di Eropa. Pengunjung dapat berbincang dengan universitas, konselor pendidikan, serta perwakilan diplomatik mengenai program studi, beasiswa, prosedur penerimaan, dan kehidupan mahasiswa.
Lebih dari 1.000 beasiswa dari negara-negara anggota Uni Eropa menjadi salah satu tawaran utama dalam penyelenggaraan EHEF. Dalam sesi wawancara pada Grand Opening acara tersebut, Kuasa Usaha a.i. Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Marco Bonetti, menyebut peluang itu sebagai salah satu ukuran penting kesuksesan pameran. Ia juga menyoroti peningkatan jumlah pelajar dan akademisi Indonesia yang menuntut ilmu di Eropa.
“Dalam pameran ini, negara-negara anggota Uni Eropa menawarkan lebih dari 1.000 beasiswa, sebuah peluang yang sangat besar. Berdasarkan data tahun lalu (2025), terdapat lebih dari 6.000 mahasiswa, peneliti, dan akademisi Indonesia yang sedang menempuh studi di Eropa. Ini angka yang signifikan, tetapi kami menginginkan lebih banyak lagi. Indonesia adalah negara besar dengan potensi luar biasa dan anak muda yang cerdas, kami ingin mereka datang ke Eropa untuk belajar dan bertukar pengalaman bersama kami,” ujar Marco.
Wakil Rektor UGM Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Prof. Dr. Wening Udasmoro, menyambut kehadiran puluhan institusi Eropa di kampusnya. Menurut Wening, penyelenggaraan EHEF menjadi ruang pertemuan bagi institusi pendidikan Indonesia dan Eropa untuk bertukar gagasan serta membangun kerja sama akademik.
“Ini adalah tahun ketiga berturut-turut UGM mendapat kehormatan menjadi tuan rumah pameran ini di Yogyakarta. Hari ini, sebanyak 69 institusi Eropa hadir di Yogyakarta. Tahun ini, EHEF juga diselenggarakan bersamaan dengan Global Fair oleh OIA UGM yang menghadirkan mitra dari Singapura, Korea, Australia, Malaysia, dan negara lainnya,” kata Wening.
Marco juga membagikan pengalamannya ketika pernah menjadi mahasiswa pertukaran di luar negeri. Menurutnya, pengalaman tersebut membuka wawasan dan turut membentuk dirinya hingga saat ini.
“Dulu saya juga seorang mahasiswa pertukaran di negara asing. Itu adalah pengalaman luar biasa yang membuka wawasan saya dan membentuk siapa diri saya hari ini. EHEF hari ini diselenggarakan untuk membantu generasi muda Indonesia membuka pintu kesempatan yang sama, memberi mereka keyakinan dan peluang untuk meraih cita-cita,” ujar Marco.
Ia menambahkan bahwa pengalaman belajar di Eropa dapat membantu mahasiswa mengenal beragam budaya, memperluas wawasan, serta mengembangkan keterampilan yang berguna bagi masa depan.
Sementara itu, Wening Udasmoro menilai kolaborasi internasional menjadi salah satu upaya penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Ia mencontohkan program Erasmus+ sebagai bentuk kerja sama yang dapat mempertemukan institusi pendidikan Indonesia dan Eropa.
“Program seperti Erasmus+ membuktikan betapa besarnya potensi kolaborasi saat institusi kita bekerja berdampingan. Kami menyambut mitra Eropa untuk meningkatkan kualitas pendidikan demi menjawab kebutuhan Indonesia akan talenta masa depan yang berkelanjutan,” kata Wening.
Ia berharap penyelenggaraan EHEF dapat membuka peluang bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan sekaligus memperkuat kerja sama riset jangka panjang antara institusi pendidikan Indonesia dan Eropa.
Pameran di Yogyakarta berlangsung hingga hari ini, sedangkan agenda di Jakarta digelar pada akhir pekan. Informasi lebih lanjut mengenai peserta dan kegiatan dapat diakses melalui situs resmi EHEF. Penyelenggara mengajak pelajar dan mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenali pilihan pendidikan, membandingkan program, serta menyiapkan langkah yang diperlukan untuk melanjutkan studi ke Eropa.
Baca Juga
-
Tren Renting Generation: Mengapa Anak Muda Pilih Sewa Dibanding Setor KPR?
-
Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan
-
Fenomena Thrifting: Antara Gaya Hidup dan Ancaman Limbah Tekstil
-
Dune 3 hingga Avengers: Doomsday, Ini 5 Tontonan yang Rilis di Akhir Tahun 2026
-
Stop Tunggu Mood, Ini Lima Insight Disiplin Menulis dari J.S. Khairen
Artikel Terkait
-
Geger Mahasiswa Gadungan di Acara Sumpah Pemuda, Polisi Janji Usut: Siapa Terlibat Bakal Disanksi
-
PSW UGM Minta Pembalut Bebas PPN 11 Persen: Kebutuhan Sanitasi, Bukan Barang Mewah
-
Kritik Pembentukan Satgas MBG, Pakar UGM: Pemda Dijadikan Tameng Kegagalan Pusat!
-
Ramai saat Demo, Sunyi setelahnya: Mengapa Gerakan Rakyat Terjebak Musiman?
-
Sukses Negara Bukan Cuma Perut Kenyang, Pakar UGM: Kasih Kailnya, Bukan Ikan
News
-
Jarang Komentari Politik, SBY Sindir Pedas: Kok Begini Liar Politik Kita?
-
Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026: Saatnya Cinta Jadi Tindakan Nyata
-
Soroti Aksi 28 Oktober, LBH Yogyakarta Ungkap 32 Korban dan Dugaan Kekerasan
-
Buruh Perempuan Sawit Menanggung Beban Berlapis di Balik Asap Karhutla
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
Terkini
-
Realistis atau Pesimis? Mengulik Tren Stop the Wedding dari Sisi Finansial
-
Ulasan Novel Bumi: Petualangan Tiga Sahabat Menjelajahi Dunia Paralel
-
4 Serum Korea Berbahan Rice Extract, Rahasia Wajah Tampak Glowing dan Mulus
-
Refleksi Tren Stop the Wedding: Menikah Itu Kesiapan, Bukan Tuntutan Usia
-
3 Body Serum Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Kusam dalam 7 Hari