Pemerintah Indonesia seakan tutup mata dengan fakta yang diungkap oleh UNESCO dimana mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca bahkan fakta yang lebih menyedihkan yakni masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun, terlepas dari hal tersebut, Provinsi Bengkulu hingga saat ini juga tengah berbenah untuk memperbaiki tingkat keinginan dan kebutuhan generasi muda terhadap pemahaman akan pentingnya literasi. Perpustakaan Universitas Bengkulu salah satu instansi yang hingga saat ini terus melakukan inovasi terhadap permasalahan yang kian meradang.
Sosial Media menjadi Prioritas Generasi Bangsa
Fakta menyedihkan muncul ketika Duta Baca Universitas Bengkulu hadir ke salah satu sekolah dasar yang berada di Kota Bengkulu, dimana pada saat sesi diskusi terbuka ada siswa kelas 6 SD yang belum bisa membaca buku, bahkan jumlahnya lebih dari 2 orang dan diikuti dengan kelas 1 hingga kelas 5 SD yang juga masih banyak belum bisa membaca buku.
Fakta lainnya hadir dari mahasiswa Universitas Bengkulu dimana dalam satu kesempatan, Perpustakaan Universitas Bengkulu melaksanakan agenda pendidikan pemustaka yang sasaran utamanya adalah mahasiswa baru Universitas Bengkulu dengan penerapan metode kunjungan perkelas dikarenakan mempertimbangkan kondisi setelah pandemi.
Dalam agenda pendidikan pemustaka tersebut, pustakawan Universitas Bengkulu bersama Duta Baca Universitas Bengkulu menanyakan terkait kepemilikan kartu anggota perpustakaan dan seiring itu juga ditanyakan angka kunjungan dari mahasiswa itu sendiri, dan faktanya bahwa 87% mahasiswa belum memiliki kartu keanggotaan dan hampir 60% mahasiswa belum pernah berkunjung ke Perpustakaan Universitas Bengkulu.
Fakta tersebut sungguh memilukan karena dilain kesempatan Duta Baca Universitas Bengkulu juga menanyakan kepemilikan akun sosial media yang hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Bengkulu sudah 100% memiliki akun sosial media. Bahkan salah satu mahasiswa mengungkapkan bahwa dia menghabiskan waktu hampir 8 jam perhari secara berkala untuk berselancar dengan sosial media. Lantas mau dibawa kemana bangsa ini jika generasi mudanya lebih memilih bersosial media dibanding membaca buku? terlebih sosial media sudah sangat sering menampilkan dan menyebarkan berita tidak benar atau hoaks.
Fakta mencengangkan tersebut tentu tidak dapat dibiarkan, terlebih untuk generasi muda yang ada di Provinsi Bengkulu dan Indonesia. Kental teringat ungkapan dari pembawa acara sekaligus aktivis media sosial kondang di Indonesia yakni Najwa Shihab, bahwa "cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca".
Kolaborasi harus Segera Dilaksanakan
Langkah yang dilakukan Perpustakaan Universitas Bengkulu merupakan langkah konkret yang harapannya dapat ditingkatkan secara berkala kedepannya serta dapat diikuti oleh lembaga ataupun instansi lain. Terlepas dari hal tersebut, tentunya masyarakat dan mahasiswa harusnya saling bahu-membahu dalam upaya peningkatan literasi ini.
Catatan penting untuk generasi milenial yang katanya akan menjadi generasi penerus bahwa jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa yang cacat dalam berliterasi, kita harus mengingat banyak tokoh yang lahir dan besar dengan membaca seperti Ki Hadjar Dewantara dan Muhammad Hatta, tentu mempertahankan lebih sulit dibanding merebut dan jangan sampai semangat generasi muda ini menjadi surut.
Bersosial media itu gaya hidup dan membaca itu kebutuhan hidup karena dengan membaca seseorang mampu menjadi insinyur, diplomat bahkan sosok penting lainnya yang mengisi sendi-sendi kehidupan bernegara, hendaknya generasi muda mampu menjadikan sosial media sebagai alat untuk menghadirkan nuansa literasi yang berorientasi ke masa depan.
Sumber:
Data World’s Literate Natios (2016). https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data
Tag
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Buku Puisi Sergius Mencari Bacchus: Antara Kesepian, Doa, dan Keberanian
-
Review His & Hers: Kisah Pasangan yang Terjebak dalam Lingkaran Konflik!
-
Menjemput Kelezatan Rendang Kuah Hitam Autentik di RM Pak Haji Munir Jambi
-
Di Bawah Bendera Merah: Tentang Harga Diri dan Pahit Getir Kehidupan
-
Level Baru Kuliner Jambi, Kopitiam Tetangga Hadirkan Rasa di Atas Rata-Rata
Terkini
-
5 Pilihan HP Kamera Zoom Terbaik 2026, Bidik Jarak Jauh Tanpa Blur
-
Tren 'Kicau Mania' dan Suara Burung yang Tak Lagi Saya Dengar
-
Film Pendek Anime Shiranui Garapan Studio Your Name Ungkap 3 Seiyuu Utama
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
5 TWS Suara Paling Jernih 2026, Detail Musiknya Bikin Nagih