Lucunya, hari ini saya lebih sering mendengar suara burung dari media sosial daripada dari langit di atas rumah saya sendiri.
Belakangan ini, media sosial dipenuhi tren “Kicau Mania”. Potongan suara burung dipadukan dengan musik, meme, hingga video absurd yang menghibur banyak orang. Lagu-lagunya diputar di mana-mana, digunakan sebagai backsound video, bahkan menjadi candaan sehari-hari. Awalnya saya juga tertawa. Rasanya ringan, receh, dan cukup menghibur di tengah hari yang melelahkan. Namun, semakin sering saya mendengarnya, semakin saya merasa ada sesuatu yang janggal.
Saya tiba-tiba sadar bahwa suara burung yang ramai di internet justru berbanding terbalik dengan dunia nyata. Dulu, pagi saya selalu ditemani suara kicau dari pepohonan sekitar rumah. Ada suara yang bersahut-sahutan, seolah alam ikut hidup bersama manusia. Sekarang, pagi terasa lebih sunyi. Saya jarang mendengar burung berkicau bebas. Yang terdengar justru suara kendaraan, proyek bangunan, dan notifikasi ponsel yang tidak pernah berhenti.
Ketika Burung Hanya Menjadi Konten
Saya mulai bertanya-tanya, kapan terakhir kali saya benar-benar mendengar suara burung liar tanpa bantuan speaker atau layar ponsel? Saya bahkan kesulitan mengingatnya. Seolah-olah alam perlahan menghilang dari keseharian saya tanpa saya sadari.
Media sosial memang mampu mengubah apa pun menjadi tren, termasuk suara burung. Ironisnya, kita menikmati suara alam justru dalam bentuk digital, sementara alam yang sesungguhnya semakin jauh dari hidup kita. Burung kini hadir sebagai hiburan, bukan lagi bagian dari lingkungan yang hidup bersama manusia.
Kota yang Semakin Bising dan Alam yang Menghilang
Saya tumbuh dengan ingatan tentang pagi yang ramai oleh suara burung. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika mendengar mereka berkicau dari atap rumah atau dahan pohon. Namun, semakin bertambah usia, semakin banyak ruang hijau yang hilang. Pohon ditebang, lahan berubah menjadi bangunan, dan udara terasa semakin sesak.
Burung kehilangan rumahnya, sementara manusia terus memperluas wilayahnya tanpa henti. Mungkin itu sebabnya suara mereka perlahan menghilang. Saya sering merasa kota sekarang terlalu bising untuk makhluk kecil seperti burung. Anehnya, kita baru merasa kehilangan setelah suara-suara itu benar-benar tidak ada. Kita terlalu sibuk mengejar pembangunan, tetapi lupa bahwa alam juga membutuhkan ruang untuk hidup.
Nostalgia yang Diam-Diam Menyakitkan
Ada alasan mengapa tren “Kicau Mania” begitu mudah diterima banyak orang. Mungkin karena di dalamnya tersimpan nostalgia yang tidak kita sadari. Suara burung mengingatkan kita pada pagi yang tenang, masa kecil yang sederhana, atau kehidupan yang belum terlalu gaduh. Ketika mendengarnya, ada bagian dalam diri kita yang terasa akrab.
Namun, nostalgia juga bisa menyakitkan. Sebab, ia mengingatkan bahwa ada sesuatu yang perlahan hilang dari hidup kita. Saya merasa tren ini seperti cara manusia merindukan alam, tetapi dalam bentuk yang aneh. Kita tertawa mendengar suara burung di internet, sementara burung asli semakin sulit ditemukan di sekitar kita.
Saya jadi berpikir bahwa mungkin manusia modern sebenarnya sedang rindu pada sesuatu yang pernah dekat dengan mereka. Sayangnya, kerinduan itu sering berhenti sebatas hiburan digital. Kita menikmati suaranya, tetapi belum tentu menjaga keberadaannya.
Tren “Kicau Mania” mungkin hanya lelucon internet bagi sebagian orang. Namun, bagi saya, tren ini terasa seperti pengingat kecil tentang sesuatu yang mulai hilang dari kehidupan kita. Lucu memang, ketika suara burung menjadi viral di media sosial justru di saat burung asli semakin jarang terdengar. Saya tidak tahu apakah suatu hari nanti suara kicau di pagi hari bisa kembali seramai dulu. Tetapi satu hal yang saya tahu, alam selalu memberi tanda ketika ia mulai menjauh dari manusia.
Baca Juga
-
Cara Saya Menemukan Kembali Makna Proses di Balik Lembar Pengesahan Skripsi
-
Bagaimana Sistem Transportasi Publik Melanggengkan Kemiskinan Waktu
-
Pengkhianatan, Trauma, dan Luka Masa Kecil dalam The Silent Patient
-
The Motherhood Penalty: Dosa Karier yang Harus Dibayar Mahal oleh Perempuan
-
BBM Naik, Kritik Diblokade: Mengapa Hubungan Kita dan Pemerintah Makin Toxic?
Artikel Terkait
-
Bius Lagu Kicau Mania dan Nasib Buruh dalam Sangkar Outsourcing
-
Wariskan Kicauan Burung: Mengapa Berburu dengan Senapan Angin Merusak Desa?
-
Ketika Cinta Berhadapan dengan Revolusi dalam Novel Burung-Burung Manyar
-
Membaca Ulang Burung-Burung Manyar: Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka?
-
Perubahan Iklim Picu Turbulensi Pesawat, Ini Solusi Peneliti Terinspirasi dari Cara Terbang Burung
Kolom
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Piala Dunia dan Gen Z: Ketika Sepak Bola Menjadi Gaya Hidup Sementara
-
Dari Stadion ke Timeline: Cara Gen Z Menikmati Piala Dunia di Second Screen
-
Kopdes Merah Putih: Niat Mulia Memutus Rantai Tengkulak atau Proyek Ambisius yang Terburu-buru?
-
Teach You a Lesson dan Pertanyaan Besar tentang Pendidikan Karakter
Terkini
-
Chainsaw Man Rilis Teaser Anime Assassins Arc dan Umumkan Game Mobile Baru
-
Review The Death of Robin Hood: Saat Sang Legenda Menepi di Pulau Terpencil
-
Apakah Semua Orang Berhak Mendapat Kesempatan Kedua? Menakar Film DOSA
-
Mencintai dan Melarikan Diri: Pergulatan Batin dalam Cerita Cinta Enrico
-
Novel Insiden Berdarah: Saat Misteri Menyeret Isu Sosial ke Permukaan