Apabila pada dekade 60 hingga 70-an Indonesia memiliki rudal S-75 “Dvina” buatan Uni Soviet yang memiliki jangkauan menengah sebagai rudal pertahanan udara pada saat itu, maka di periode 80-an Indonesia memiliki rudal pertahanan udara yang menjadi tulang punggung perlindungan langit Indonesia selama sekitar 2 dekade. Rudal yang terkenal cukup mobile ini menjadi salah satu alutsista unggulan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) pada masa pertengahan orde lama hingga masa awal reformasi.
Rudal pertahanan udara jarak pendek yang sejatinya merupakan buatan Inggris ini selain berfungsi sebagai rudal pelindung kawasan langit di Indonesia, sekaligus berfungi sebagai alat hubungan bilateral antara Indonesia dan blok barat. Bagaimanakah rekam jejak rudal tersebut dalam tubuh militer di Indonesia? Simak ulasan ringkasnya berikut ini.
BACA JUGA: Komnas HAM Dorong Kejaksaan Agung Ajukan Upaya Kasasi Terkait Vonis Bebas Terdakwa Tragedi Paniai
1. Berjaya di Perang Malvinas
Meskipun rudal Rapier telah digunakan dalam beragam konflik di dunia sehingga mendapatkan status battle proven, akan tetapi penggunaannya dalam perang Malvinas atau perang Falklands mungkin yang paling sering terdengar dalam forum-forum militer maupun sejarah militer dunia. Inggris pada saat itu menempatkan beberapa sistem peluncur rudal tersebut di kepulauann Falkland untuk merontokkan beberapa pesawat milik Argentina kala itu.
Dilansir dari situs wikipedia.com dan buku Sir Lawrence Freedman, “The Official History of the Falklands Campaign”, rudal Rapier milik angkatan bersenjata Inggris tersebut sukses menjatuhkan sekitar 5 pesawat milik militer Argentina. Kisah kesuksesan rudal pertahanan udara inilah yang membuat TNI kepincut dan kemudian mengakusisi rudal Rapier pada pertengahan dekade 80-an.
2. Mampu Dibawa Menggunakan Kendaraan Ringan
Rudal Rapier sejatinya adalah rudal pertahanan udara jarak pendek yang mampu berpindah dari satu titik ke titik lainnya secara cepat. Sifat mobile-nya tersebut yang membuat rudal kini menjadi produk pabrikan MBDA UK tersebut banyak diminati oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, hingga kini rudal Rapier varian terbaru masih diproduksi dengan beragam peningkatan dari versi originalnya.
Dilansir dari situs wikipedia.com, rudal yang memiliki berat 45 kg ini memiliki mampu mencapai target udara yang terbang rendah, yakni dengan ketinggian sekitar 3.000-5.000 meter. Untuk jarak maksimal yang mampu dicapai oleh rudal Rapier ini sendiri yakni sekitar 8.000 meter.
BACA JUGA: Rekor Brasil Sempurna Lawan Kroasia, Luka Modric: Roda Pasti Berputar!
Rudal ini memakai sistem semi-automatic command to the line of sight (SACLOS), sehingga rudal ini menjadi susah untuk dikecoh menggunakan flare. Rudal ini umumnya ditarik menggunakan kendaraan militer ringan seperti truk ataupun jeep karena dilengkapi dengan roda trailer, meskipun adapula yang terpasang di kendaraan beroda rantai.
3. Kiprah Rudal Rapier di Indonesia
Rudal Rapier sendiri resmi masuk ke jajaran alutsista pertahanan udara Indonesia pada tahun 1985. Dilansir dari situs indomiliter.com, pengadaan sistem rudal Rapier dilakukan mulai bulan Desember tahun 1984 dan akan dikirim bertahap mulai tahun berikutnya. Disebutkan pengadaan rudal Rapier saat itu menghabiskan dana sekitar 125 milyar rupiah.
Menurut beberapa sumber, rudal Rapier yang dibeli oleh Indonesia sekitar 50-an peluncur. Rudal yang dianggap sebagai salah satu rudal pertahanan udara paling canggih di masanya tersebut kemudian ditempatkan di beberapa kawasan seperti Nanggroe Aceh Darussalam, Cikupa, Malang, Kalimantan timur, dan di Riau.
Kendaraan penarik yang digunakan untuk memindahkan rudal Rapier tersebut di Indonesia adalah Jeep Land Rover 110. Rudal ini kemudian mulai dipensiunkan pada tahun 2002 karena dianggap sudah melewati masa pakai.
Nah, itulah sedikit kisah mengenai pengoperasian rudal Rapier yang pernah dimiliki oleh Indonesia. Meskipun secara kemampuan masih cukup jauh dengan rudal pertahanan udara legendaris S-75 “Dvina” yang dioperasikan pada masa orde lama, akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa rudal ini memang menjadi salah satu alutsista unggulan yang dimiliki TNI pada saat itu.
Video yang Mungkin Anda Suka.
Baca Juga
-
Performa Gacor di Persib, Eliano Reijnders Berpeluang Kembali Merumput di Eropa
-
Karier Tak Menentu, Bali United Bakal Pinjamkan Jens Raven Musim Depan?
-
Dean Zandbergen dan Skandal Paspoortgate: Mengapa Striker VVV-Venlo Ini Tetap Ingin Bela Indonesia?
-
Menanti Debut Tim Geypens di Timnas: Terganjal Polemik Paspor atau Kalah Saing dari Calvin Verdonk?
-
Skandal Paspor Juga Muncul di Belgia, Ragnar Oratmangoen dan Joey Pelupessy Gimana Nasibnya?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Review The Price of Confession: Saat Ketenangan Terlihat Lebih Mencurigakan
-
Review Film Apex: Metafora Duka dalam Pertarungan Brutal di Alam Terbuka
-
Aftersun: Sebuah Potret Pedih Hubungan Ayah dan Anak yang Menyayat Perasaan
-
Di Balik Novel Marioriawa: Mitos yang Hidup dan Menghantui Realitas
-
Drama Korea Hotel Del Luna: Hilang dari Mata, Tapi Tetap Terasa
Terkini
-
Tumpukan di Balik Senyum Desa Tambakromo
-
Sekolah Gratis Tapi Tak Setara: Hidden Cost yang Menyaring Status Siswa
-
Ilusi Sekolah Gratis: Biaya Tersembunyi yang Membungkam Mimpi Anak Bangsa
-
Sedekah yang Berubah Jadi Tagihan: Tradisi atau Tekanan Sosial?
-
GILA! Mesin Ferrari F355 Dipasang ke Motor, Tenaganya 375 HP Brutal!