Di atas hamparan bukit Dago yang asri, Selasar Sunaryo Art Space menyajikan pengalaman seni yang didesain dengan cermat untuk melebur dengan keindahan alam sekitarnya. Setiap sudut ruangnya adalah refleksitas kolaborasi harmoni antara seni, arsitektur dan lanskap, menghadirkan perjalanan penuh pemaknaan.
Ruang pameran utama di lantai atas menjadi pusat dari SSAS. Dengan lantai kayu yang hangat dan cahaya alami yang memaksa masuk, ruang ini terasa serupa kanvas besar yang hidup. Di sini, mahakarya Sunaryo dipamerkan berdasarkan periodisasi dan nilai kesejarahannya, menjadi saksi perjalanan panjang sang seniman sekaligus perayaan warisan budayanya. Selain itu, ruang ini kerap menjadi arena pameran berskala besar yang melibatkan nama-nama seniman besar, baik dari Indonesia maupun mancanegara.
Di lantai bawah, terdapat ruang pamer dalam yang lebih tertutup namun tak kalah dinamis. Ruang ini didedikasikan untuk menyajikan koleksi tetap SSAS, pameran sementara, hingga berbagai program seni visual lainnya seperti lokakarya hingga pemutaran film.
Sedang di ruang sayap, yang berukuran lebih terbatas dan intim, didesain dengan plafon yang mempunyai kemiringan unik, menjadikannya ruang yang ideal untuk instalasi khas-tapak (site-specific). Di ruang ini, seni hadir dengan metode yang lebih personal dan substansial, membawa tamu dalam eksplorasi yang tak hanya visual tetapi juga emosional.
Melangkah keluar, Amphitheater SSAS dibangun megah di atas kontur lahan yang miring. Dirancang dengan konfigurasi akustik alami, panggung terbuka ini mampu menampung hingga 250 orang. Dengan tempat duduk bertingkat, area ini menjadi panggung bagi berbagai pertunjukan seni—dari teater, konser musik, hingga pembacaan puisi—semua dipayungi oleh langit terbuka.
Tak jauh dari sana, Bale Handap, sebuah aula bawah yang terinspirasi dari bangunan tradisional Jawa, menampilkan suasana yang intim dan serbaguna. Dengan teras terbuka yang dikelilingi taman bambu, ruangan ini kerap digunakan untuk diskusi, seminar, lokakarya, hingga pemutaran film. Sementara, Bale Tonggoh, yang terletak di bagian tertinggi dari SSAS, menawarkan ruang semi-permanen untuk proyek seni dan pameran temporer. Teras terbuka di Bale Tonggoh mengundang para pengunjung untuk bersantai, menikmati kopi, panganan, dan pemandangan perbukitan Dago yang menenangkan.
Area cafe yang terletak di bawah naungan dua pohon ketapang menjadi tempat istimewa bagi pengunjung. Meja-meja kayu yang tertata rapi menciptakan suasana yang ramah dan akrab. Dengan beragam varian menu dari hidangan western, chinese food, hingga makanan khas nusantara, tempat ini juga dilengkapi dengan akses Wifi publik, menjadikannya ruang ideal untuk bersantai atau bahkan bekerja.
Di sudut lain dari kompleks ini, berdiri sebuah rumah bambu yang menyimpan jejak masa lalu. Rumah ini merupakan bangunan asli sebelum SSAS berdiri, kini telah direnovasi dan difungsikan sebagai akomodasi bagi seniman dan mereka yang andil dalam sejumlah program seni di SSAS. Selain itu, fasilitas publik lain juga meliputi pusat data dan dokumentasi seni rupa mempunyai lebih dari 1.500 koleksi materi, termasuk buku, katalog, jurnal dan film, menjadikan SSAS sebagai media yang kaya akan pengetahuan seni rupa Indonesia.
Sebelum pulang, SSAS juga menawarkan toko cinderamata yang menyajikan reproduksi karya seni, poster, kartu hingga produk kerajinan eksklusif yang dikurasi khusus. Selain itu, para pengunjung juga dapat menemukan koleksi buku seni rupa, arsitektur, fotografi, sastra, dan katalog pameran yang kaya akan informasi dan inspirasi.
Berada di jalan Bukit Pakar Timur No. 100, Ciburial, Bandung. SSAS dapat dijangkau dengan mudah dari pusat kota, hanya sekitar 9,7 km atau 23 menit perjalanan. Buka setiap Selasa - Minggu pukul 10.00 - 17.00 WIB, SSAS mengajak siapa saja yang ingin merenungi seni, budaya dan keindahan alam dalam satu ruang yang memikat dan penuh cerita.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Kerja Keras Tanpa Tabungan: Potret Rapuh Finansial Anak Muda
-
Bela Istri dari Jambret Jadi Tersangka, Bagaimana Hukum Pidana Melihatnya?
-
Dating Apps dan Kesepian di Tengah Keramaian Kota
-
Krisis Hunian Layak bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah
-
Bukan Sekadar Hiburan, Pop Culture Juga Mekanisme Bertahan Hidup Manusia Modern di Era Digital
Artikel Terkait
-
PosIND Dukung Pertiwi Jabar Gelar Bakti Sosial Operasi Katarak untuk 200 Orang di RS Cililin
-
Warung Nasi Bu Eha, Merawat Kesetiaan dalam Warisan Cita Rasa Kuliner Nusantara di Bandung
-
Debut Saat Persib Bandung Teguk Kekalahan, Gervane Kastaneer Tak Menyesal?
-
KCIC Tambah Jadwal Perjalanan Kereta Cepat Jakarta - Bandung Mulai Februari
-
Polisi soal Bentrokan PP Vs Grib di Bandung: Pimpinan Kedua Ormas Itu Akan Menyelesaikan Masalahnya Secara Damai
Ulasan
-
Gie dan Surat-Surat yang Tersembunyi: Belajar Integritas dari Sang Legenda
-
Malang Dreamland Tawarkan Liburan Mewah Dengan View Instagenic
-
Belajar Tentang Cinta dan Penerimaan Lewat 'Can This Love Be Translated?'
-
Pendidikan Kaum Tertindas: Saat Sekolah Tak Lagi Memanusiakan
-
Seri Kedua Novel Na Willa: Konflik dan Kisah Lama Masa Kanak-Kanak
Terkini
-
Fresh Graduate Jangan Minder! Pelajaran di Balik Fenomena Open To Work Prilly Latuconsina
-
Misi Damai di Luar, Kegelisahan di Dalam: Menggugat Legitiminasi Diplomasi
-
Hadapi Sengketa Pajak Rp230 Miliar, Cha Eun Woo Gandeng Firma Hukum Kondang
-
Transformasi AI dalam Ekonomi Kreatif Indonesia: Peluang Emas atau Ancaman?
-
4 Ide Outfit Simpel ala Ranty Maria, Nyaman dan Tetap Modis