Cinta seorang ibu sering kali tidak terlihat, tapi selalu terasa. Ada dalam tiap langkah, tiap helaan napas, tiap doa yang lirih dipanjatkan. "Musim di Rambut Ibu," kumpulan cerpen karya Mashdar Zainal, menangkap esensi kasih sayang seorang ibu dengan cara yang begitu puitis dan menyentuh.
Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita pendek, tapi semacam perjalanan emosi yang membuat pembaca merenungi kembali makna kehadiran seorang ibu dalam hidup.
Di dalamnya ada 21 cerita yang masing-masing menggambarkan sosok ibu dari berbagai sudut pandang. Salah satu cerita yang paling kuat adalah yang jadi judul buku ini, "Musim di Rambut Ibu."
Di sini, penulis menggunakan perubahan musim sebagai metafora dari perubahan yang terjadi pada seorang ibu seiring waktu. Rambutnya yang memutih, tubuhnya yang melemah, tapi cintanya tetap ada, tetap hangat. Tanpa harus berkata-kata manis yang berlebihan, cerita ini sukses membuat pembacanya hanyut dalam perasaan haru.
Selain cerita itu, masih banyak kisah lain yang tidak kalah menggugah. Ada yang bercerita tentang ibu yang diam-diam menanggung beban demi anak-anaknya, ada yang menggambarkan perjuangan ibu dalam menghadapi tekanan sosial, bahkan ada juga yang menyoroti bagaimana seorang ibu pun adalah manusia yang punya impian dan luka yang kadang tidak bisa diceritakan.
Semua itu dikemas dengan bahasa yang sederhana tapi penuh makna, khas Mashdar Zainal yang dikenal jago bermain metafora.
Yang membuat buku ini istimewa adalah cara penyampaian ceritanya. Tidak bertele-tele, tapi tetap dalam. Setiap kalimatnya seolah punya makna lebih dari sekadar apa yang tertulis.
Bacanya membuat hati hangat, tapi di saat yang sama juga ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Mungkin karena kisah-kisah di dalamnya terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata, dengan pengalaman banyak orang yang pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, atau bahkan kehilangan sosok tersebut.
Lebih dari sekadar cerita keluarga, buku ini juga menggambarkan realitas sosial yang masih relevan sampai sekarang. Betapa ibu sering kali dianggap sebagai sosok yang "seharusnya" kuat, tanpa banyak yang benar-benar melihat beban yang mereka tanggung. Harapan, ketakutan, kelelahan—semuanya sering kali tidak dianggap penting.
Di dalam "Musim di Rambut Ibu" kita diajak untuk lebih memahami sisi lain dari seorang ibu, bukan hanya sebagai orang yang memberi kasih, tapi juga sebagai manusia yang punya cerita sendiri.
Buku ini adalah bacaan yang cocok buat siapa saja yang ingin meresapi makna kasih sayang ibu dengan cara yang lebih dalam. Tidak hanya untuk yang masih punya ibu, tapi juga buat mereka yang mungkin sudah kehilangan, atau yang ingin memahami betapa berharganya kehadiran seorang ibu dalam hidup.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ketika Pekerjaan Sulit Dicari, tapi Janji Politik Mudah Diberi
-
Review Novel 'Kotak Pandora': Saat Hidup Hanya soal Bertahan
-
Review Novel 'Totto-chan': Bukan Sekolah Biasa, Tapi Rumah Kedua Anak-anak
-
Benarkah 'Kerja Apa Aja yang Penting Halal' Tak Lagi Relevan?
-
Review Novel 'Jane Eyre': Ketika Perempuan Bicara soal Harga Diri
Artikel Terkait
-
Mengapa Ibu Indonesia Menghindari Pembicaraan Emosional pada Anak?
-
Novel Gongka: Pengalaman Masa Kecil di Lingkungan Pecinaan di Era 1980-an
-
Menggali Makna Me Time, Tantangan dan Strategi Ibu Bekerja di Indonesia
-
Ingat Larangan Ibu dan Malu dengan Anak, Raike Manfaatkan Program Hapus Tato Gratis
-
Kawruh Pepak Basa Jawa: Buku Sakti Mandraguna Sebelum Internet Merajalela
Ulasan
-
Dammahum: Potret Religi dan Politik dalam 14 Cerita yang Terhubung
-
Film Papa Zola: The Movie, Komedi Sci-Fi yang Lucu dan Menyentuh
-
Menampar Diri Lewat Buku How to Stop Feeling Like a Sh*t Karya Andrea Owen
-
Buku Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya: Trauma itu Sakit!
-
Mengungkap Rahasia Orang Kaya Sejati dalam Buku The Having
Terkini
-
Anime One Piece: Heroines Tayang Juli 2026, Fokus Kisah Para Tokoh Wanita
-
Bikin Lelah Mental, Ini 6 Tanda Kamu Punya Hubungan Buruk dengan Diri Sendiri
-
Dokumen Jeffrey Epstein Dibuka, Nama Donald Trump dan Bill Clinton Muncul
-
Komidi Putar 1975
-
Menyoal Istilah "Gentengisasi" dan Prioritas Pembangunan Pemerintah