Tahukah kamu, beberapa film memilih untuk menutupi bagian-bagian tertentu tubuh manusia agar bisa dikatakan ‘ramah di mata’, sementara yang lain membiarkan semuanya mengalir secara natural alias ‘menampilkan apa adanya’. Seperti halnya dengan Film The Wrong Track asal Negara Norwegia yang sudah tayang di Netflix sejak 27 Februari 2024, yang tampaknya termasuk dalam kategori kedua.
Disutradarai Hallvar Witzo, film ini dibintangi Ada Eide, Trond Fausa, Marie Blokhus, Christian Rubeck, dan bintang pendukung lainnya. Diproduksi sama Netflix Norwegia, film ini mengikuti perjalanan seorang ibu tunggal bernama Emilie (diperankan oleh Eide), yang terpaksa mengikuti lomba ski lintas alam setelah hidupnya berantakan. Ketika dia mencapai titik terendah dalam hidupnya, Emilie mencari bantuan dari saudaranya. Saudaranya memiliki ide cemerlang: mengajak Emilie untuk berpartisipasi dalam lomba ski lintas alam sejauh 54 kilometer, yang dikenal sebagai Birken. Meskipun awalnya ragu, Emilie menerima tantangan tersebut. Selama persiapan dan pelaksanaan lomba, Emilie menemukan kekuatan batin dan pelajaran hidup yang tak terduga.
Dengan dinamika keluarga yang rumit, konflik percintaan, serta pergulatan batinnya, Film The Wrong Track menyajikan drama yang ringan tapi tetap menyentuh hati.
Film ini mendapatkan ulasan yang beragam dari para kritikus. Beberapa memuji perpaduan antara elemen komedi dan drama, serta penampilan kuat dari para pemerannya, terutama Ada Eide sebagai Emilie. Namun, beberapa kritikus merasa bahwa alur cerita cenderung dapat diprediksi dan kurang menawarkan kejutan.
Film ini mendapatkan berbagai tanggapan dari kritikus, dengan mayoritas memberikan ulasan positif. Sebagai contoh dari lama Decider.com memberikan ulasan "Stream It", merekomendasikan film ini untuk ditonton. Kritikus memuji performa Ada Eide yang dianggap mampu membawa karakter Emilie dengan natural dan emosional. Mereka menyebut bahwa meskipun ceritanya tidak sepenuhnya orisinal, eksekusi komedi dan drama yang seimbang membuatnya tetap menarik.
Review Film The Wrong Track
Menampilkan tubuh manusia secara natural—baik tubuh laki-laki maupun perempuan—tanpa eksploitasi berlebihan itulah daya tarik filmnya. Ya, hal demikian sangat terasa, bukan sekadar unsur sensualitas yang sengaja ditonjolkan, tapi lebih pada bagaimana karakter dalam film ini diperlakukan secara realistis dalam kehidupan sehari-hari. Yang jelas nggak terkesan murahan ya.
Pendekatan semacam ini memang umum dalam sinema Eropa, di mana ketelanjangan atau adegan intim seringkali dianggap sebagai bagian dari cerita, yang bukan cuma pemanis atau daya tarik komersial. Bandingkan dengan film Hollywood, yang cenderung lebih tersegmentasi dalam hal ini: Ada yang benar-benar menghindari adegan semacam itu, sementara yang lain menjadikannya elemen utama untuk menarik perhatian.
Paham ya? Film The Wrong Track nggak menggunakan tubuh manusia sebagai alat eksploitasi, tapi sebagai sesuatu yang natural dalam alur cerita. Hal ini mengingatkan pada film-film dari Prancis, Italia, atau bahkan Swedia yang sudah terbiasa dengan gaya storytelling begitu.
Yang jelas, sejauh menikmati film-film dari banyak negara Eropa, ketelanjangan bukanlah hal yang tabu, sementara di negara lain, bisa jadi isu yang lebih sensitif.
Memang, Film The Wrong Track mungkin bukan film yang penuh kejutan dalam hal plot, tapi pendekatannya pada karakter dan realisme patut diapresiasi. Jika kamu penasaran dengan cara film ini menggambarkan perjalanan seorang wanita yang mencoba menemukan kembali arah hidupnya, dengan segala kejujuran dan keterusterangan khas sinema Eropa, maka film ini bisa jadi pilihan menarik untuk ditonton. Selamat nonton ya.
Tag
Baca Juga
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
-
Review Film Kado untuk Ibu: Kasih Sayang, Hadiah Terbaik untuk Orang Tua
-
Apakah Cinta Harus Selalu Dimiliki? Belajar Memahami Manusia Lewat Keindahan Call Me by Your Name
-
Arti Pentingnya Peran Orang Tua dalam Film Aku Sebelum Aku
Artikel Terkait
-
3 Film Korea yang Dibintangi Lee Hee Joon, Ada Bogota: City of the Lost
-
Buat Apa 'Film Ada Apa dengan Cinta?' Di-Reboot?
-
Review Squad 36: Polisi Hanya Membusuk dan Itulah Akhir yang Sinis!
-
Dianggap Bukan Hal Baru, Arie Kiriting Soroti Visi dan Misi Ifan Seventeen Sebagai Dirut PFN
-
Segera Tayang di Bioskop, Keluh Kesah Luna Maya Usai Syuting Film Gundik
Ulasan
-
"The Rock from the Sky" dan Pelajaran tentang Berani Menghadapi Perubahan
-
Maju: Jejak Pahit Si Kembang Gula, Film Anak Nggak Harus Kekanak-kanakan
-
Review Deep Water: Kendati Klise, Film Serangan Hiu Selalu Seru Ditonton!
-
Tokyo Schoolgirl Karya Osamu Dazai: Potret Kecemasan Remaja yang Mengusik
-
The Manipulated: Ketika Pria Lugu Melawan Konspirasi Kejam, Penuh Aksi dan Kritik Sosial
Terkini
-
Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien
-
Harga Alat Medis Empat Kali Lipat, Bisakah Layanan Kesehatan Tetap Murah?
-
Bencana dari Hal Sepele: Bahaya Buang Puntung Rokok Sembarangan di Musim Kemarau
-
Fenomena AI Slop: Mengapa Poster UMKM Makin Seragam dan Bikin Kita Bosan?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja