M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Scene dalam Film Call Me By Your Name (IMDb)
Athar Farha

Musim panas tahun 1983 di pedesaan Italia menjadi latar yang begitu tenang dalam Film Call Me by Your Name peraih penghargaan Best Adapted Screenplay pada perhelatan Academy Awards ke-90 di tahun 2018.

Rilis pertama kali pada 2017, film ini disutradarai Luca Guadagnino dan ditulis James Ivory berdasarkan novel karya Andre Aciman. Produksinya di bawah naungan Frenesy Film Company, La Cinefacture, RT Features, dan M.Y.R.A. Entertainment. Durasinya mencapai 132 menit, tapi hampir seluruh waktu itu dihabiskan untuk memperlihatkan percakapan, tatapan, keheningan, dan perubahan emosi yang perlahan-lahan tumbuh di antara dua karakter utama. 

Timothee Chalamet memerankan Elio Perlman, remaja 17 tahun yang menghabiskan musim panas bersama keluarganya di sebuah vila. Ayahnya adalah profesor arkeologi yang setiap tahun menerima mahasiswa asing sebagai asisten penelitian. Musim panas itu, datanglah Oliver, mahasiswa doktoral asal Amerika yang diperankan Armie Hammer.

Hubungan mereka nggak langsung akrab. Oliver terlihat percaya diri, sementara Elio menyembunyikan rasa penasarannya di balik sikap dingin. Hari demi hari berlalu dengan kegiatan biasa—bersepeda, membaca buku, berenang, menikmati musik klasik, hingga berdiskusi tentang seni. Perlahan, ketertarikan di antara keduanya berkembang menjadi hubungan yang jauh lebih dalam dari sebatas sahabat. Ups. 

Namun, seperti musim panas yang memang nggak abadi, kebersamaan mereka pun memiliki batas. Oliver harus kembali ke Amerika untuk melanjutkan kehidupannya. Elio ditinggalkan bersama kenangan, rasa kehilangan, dan kenyataan nggak semua cinta berakhir dengan kebersamaan. Hiks!

Apakah Cinta Harus Selalu Berakhir dengan Memiliki?

Scene dalam Film Call Me By Your Name (IMDb)

Pertanyaan itu menarik ketika dikaitkan dengan situasi yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia. Setelah Perpres Nomor 111 Tahun 2025 memasukkan ‘penyebaran budaya LGBTQ’ sebagai salah satu ancaman nonmiliter dalam kebijakan pertahanan negara, diskusi mengenai film bertema LGBTQ agaknya riskan. Tentu, kamu bisa jadi hanya langsung menilai Film Call Me by Your Name dari gender dan ‘ketertarikan’ para tokohnya.

Padahal, di sinilah menurutku letak persoalan yang menarik untuk direnungkan. Ketika sebuah karya seni langsung dikunci dalam satu label, ruang untuk memahami cerita menjadi semakin sempit. Film ini memang berkisah tentang hubungan sesama jenis. Fakta itu nggak bisa dipisahkan dari ceritanya. Namun, apakah seluruh makna film berhenti di sana?

Sebagai penikmat film, aku melihat dan mencoba memahami Film Call Me by Your Name lebih mendalam. Film ini tentang sesuatu yang jauh lebih universal. Membahas bagaimana manusia pertama kali mengenal cinta, bagaimana seseorang belajar menerima kehilangan, dan bagaimana rasa sakit perlahan membentuk kedewasaan.

Menonton film bukan berarti harus menyetujui semua pilihan hidup tokohnya. Sama seperti ketika kita menikmati film tentang mafia, pembunuh bayaran, atau koruptor, kita nggak otomatis mendukung tindakan mereka. Film biasanya menjadi jendela untuk memahami pengalaman manusia yang berbeda dengan kehidupan kita sendiri.

Menurutku, di sinilah karya seni (dalam hal ini film) jadi begitu unik karena ngajak penonton melihat ‘manusia’ sebelum melihat label yang melekat padanya.

Hal paling menyentuh jelas ketika Oliver pergi. Nggak ada pengkhianatan besar atau pertengkaran dramatis. Yang tersisa hanyalah kenyataan bahwa hidup memang terus berjalan. Banyak orang menganggap hubungan yang berakhir sebagai kegagalan. Film ini justru menawarkan sudut pandang sebaliknya.

Pandangan seperti ini terasa relevan bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang, keyakinan, maupun orientasi seksual. Hampir setiap orang pernah memiliki seseorang yang nggak dapat dimiliki, tapi tetap meninggalkan bekas yang nggak pernah hilang.

Bagiku, Film Call Me by Your Name nggak memaksa penonton mengubah keyakinan, pandangan politik, ataupun nilai moral yang mereka pegang. Film ini hanya ngajak kita melihat, selalu ada manusia dengan ketakutan, harapan, dan luka yang sama rumitnya.

Mungkin kita akan tetap berbeda pendapat tentang banyak hal, termasuk bagaimana memandang isu LGBTQ. Begitulah, memahami manusia seringkali merupakan pekerjaan yang jauh lebih sulit dan mungkin jauh lebih penting.

Film ini cocok buat Sobat Yoursay yang merasa perlu mendapat hiburan sekaligus mengulik kerumitan hati manusia. Film ini sangat nggak cocok buat kamu yang anti LGBTQ. Terima kasih sudah membaca sampai akhir.