Setelah sukses dengan novel Saman, Ayu Utami lantas melanjutkan kisah empat sahabat, Yasmin, Laila, Cok, dan Shakuntala serta Saman dalam novel yang berjudul Larung. Novel ini masih diterbitkan oleh penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pada tahun 2001.
Meskipun kisah empat sahabat dan Saman itu terus berlanjut, novel ini akan menghadirkan tokoh baru bernama Larung.
Setelah Wisanggeni mengganti identitasnya menjadi Saman, ia lantas hidup di New York sebagai pelarian politik. Saman dan Yasmin masih menjalin hubunga gelap, begitu pula dengan Laila dan Sihar. Namun, Cok dan Shakuntala merasakan gejolak baru di dalam diri mereka masing-masing.
Hampir sebagian besar novel ini berlatarkan tempat di New York, tetapi kisah mereka tetap berfokus pada perjuangan melawan rezim militer di dalam negeri. Misi Saman dan Yasmin kali ini adalah membantu tiga aktivis mahasiswa beraliran kiri melarikan diri ke luar negeri dari kejaran rezim militer akibat peristiwa 27 Juli 1996. Misi mereka kali ini dibantu oleh lelaki misterius bernama Larung.
Larung merupakan pemuda dengan aura gelap, memiliki tekat pulang ke kampung halaman untuk membunuh neneknya. Hal ini disebabkan saat muda, sang nenek menggunakan ilmu gaib semacam susuk untuk mempercantik diri sehingga saat tua ia susah mati. Dengan tekat yang bulat, Larung lantas melakukan perjalanan spiritual untuk mencari cara membebaskan sang nenek dari kehidupan yang tak berujung. Begitulah penulis mengenalkan tokoh Larung di awal cerita.
Kisah selanjutnya bermuara pada kehidupan empat sahabat. Menggali lebih dalam dinamika hubungan terlarang yang Yasmin dan Laila lakukan. Selain itu, penulis juga menyoroti identitas Cok dan Shakuntala yang sangat kompleks.
Lalu bagaimana relasi antara empat sahabat, Saman, dan Larung?
Di novel Saman, kita jelas paham bahwa benang merah terhubung dari pertemanan Yasmin, Laila, dan Saman. Sementara itu, di novel ini benang merah ada pada Cok yang mengenal Larung sebagai rekan sesama aktivis. Tugasnya di sini adalah sebagai penghubung Saman dan Yasmin selama menyeludupkan aktivis ke luar dari Indonesia.
Mahasiswa yang terlibat dalam pelarian adalah Bilung, Koba, dan Wayan Togog. Mereka berencana akan berangkat ke luar negeri lewat jalur laut. Selain bekerja sama dengan Larung, Saman juga dibantu oleh Anson bin Argani, mantan petani karet yang kini beralih profesi jadi perampok atau bajak laut.
Sayangnya di tengah upaya pelarian, perahu yang ditumpangi mereka akhirnya bisa dicegat oleh pihak militer. Pada akhirnya perjuangan Saman dan Larung menyelundupkan ketiga aktivis harus berakhir mengenaskan karena mereka tertangkap. Mereka lalu diadili tanpa pengadilan dan ditembak mati di tempat.
Jika berkaca pada novel pertamanya, novel Larung ini bisa disebut sebagai pelengkap kisah Saman. Hampir setengah halaman, pembaca akan disuguhi kisah hidup Larung dan keempat sahabat. Perjuangan mereka membantu aktivis baru benar-benar nampak di pertengahan hingga akhir novel.
Selain itu, di novel ini Ayu Utami tampaknya masih mengedepankan isu gender sebagai salah satu pijakan membangun cerita. Gaya bahasa yang vulgar, adegan perihal seksualitas digambarkan jelas, dan konflik tentang persoalan identitas makin terlihat jika kita membaca kisah Yasmin, Laila, Cok, dan Shakuntala.
Akan tetapi, kehadiran tokoh Larung memberi nuansa baru. Latar belakang Larung yang misterius, terkesan horor, tetapi digambarkan sebagai lelaki cerdas justru menjadi warna yang elok di tengah isu gender dan politik yang kuat. Hal ini disebabkan penceritaan Larung sangat identik dengan unsur kebudayaan lokal dan mistis yang sedikit bertolak belakang dengan kehidupan tokoh lainnya.
Sebagai dwilogi, novel Larung bisa dibilang pas untuk melengkapi kisah perjuangan di novel sebelumnya. Meskipun memang kali ini Ayu Utami tampaknya kurang mengeksplorasi kegiatan aktivis dan perlawanan, hal itu bisa dibayar lunas berkat deskripsi adegan di akhir cerita yang menegangkan sekaligus tragis.
Jika kamu sudah membaca Saman, tidak ada salahnya untuk bertemu Larung dan turut merasakan ketengangan melawan rezim pemerintah kala itu. Bagi kamu yang belum, mari berkenalan dengan Saman dan Larung untuk melihat gambaran soal identitas, kebebasan, dan gejolak politik yang ternyata saling berkaitan.
Identitas buku
Judul: Larung
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun terbit: 2001
Tebal buku: 264 halaman
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Menyelami Isu Gender, Kemanusiaan, dan Sosial Politik dalam Novel Saman
-
Ulasan Novel Death by Dumpling: Misteri Pembunuhan Pelanggan Setia Restoran
-
Tragedi di Pesta Pernikahan dalam Novel Something Read, Something Dead
-
Review Novel 'Kokokan Mencari Arumbawangi': Nilai Tradisi di Dunia Modern
-
4 Film Adaptasi Novel Stephen King yang Bisa Kamu Tonton di Netflix
Ulasan
-
Mirah Singa Betina dari Marunda: Perjuangan dan Welas Asih Pendekar Wanita
-
Di Balik Kesuksesan The Glory: Potret Kelam Korban Bullying
-
Menakar Ego, Hak Cipta, dan Harmoni yang Hilang di Film Power Ballad
-
Film I Am Frankelda, Masih Bisakah Kita Berimajinasi di Era Serba Instan?
-
Ketika Sistem Gagal Melindungi Korban: Dilema Moral Teach You a Lesson
Terkini
-
Prediksi Yordania vs Aljazair: Adu Taktik dan Duel Bintang Demi Lolos Fase
-
Prediksi Prancis vs Irak: Singa Mesopotamia Janjikan Perlawanan Sengit
-
Prioritaskan Piala Dunia, Ini Pengaruhnya pada Produktivitas Kerja
-
Lenovo Tab Plus Gen 2 Rilis, Tablet Hiburan Premium dengan 9 Speaker JBL
-
Prediksi Lini Prancis vs Irak, Les Bleus Bidik Tiket Lolos Grup Piala Dunia