Kalau biasanya kita melihat kisah polisi dari luar pagar, tentang korban-korban yang mencari keadilan atau warga sipil yang dikecewakan oleh hukum, Film Santosh hadir dari sisi yang berbeda.
Kali ini, cerita datang dari dalam pagar, bahkan dari balik seragam cokelat yang sudah jadi simbol otoritas sekaligus ketakutan. Di tangan sutradara Sandhya Suri, Film Santosh nggak hanya jadi drama kriminal biasa, tapi gambaran tajam tentang sistem yang korup, dan dilema personal seorang perempuan yang terperangkap di dalamnya.
Diproduksi Sixteen Films (perusahaan milik Ken Loach dan Rebecca O’Brien) bersama Misfits Entertainment dan PÖFF, ‘Santosh’ pertama kali tayang di Cannes pada 2023 dan kemudian terpilih sebagai wakil resmi Britania Raya untuk kategori Best International Feature Film di Academy Awards 2025. Gila sih!
Film ini dibintangi Shahana Goswami sebagai Santosh, si janda yang "mewarisi" pekerjaan suaminya sebagai polisi setelah sang suami meninggal saat bertugas. Bersama Goswami, ada pula Sunita Rajwar yang memerankan Inspektur Geeta Sharma, sosok pemimpin tangguh yang vokal dalam isu pemberdayaan perempuan.
Mau tahu lebih banyak detail kisahnya? Sini kepoin!
Sekilas tentang Film Santosh
Santosh tuh perempuan biasa yang mendadak jadi bagian dari institusi kepolisian karena sistem rekrutmen istimewa untuk keluarga polisi yang gugur dalam tugas. Suaminya meninggal saat mengamankan kerusuhan, dan pemerintah ngasih posisi konstabel kepadanya sebagai bentuk “penghormatan”.
Dengan langkah penuh keraguan, Santosh mencuci seragam tua milik almarhum suaminya dan mengenakannya untuk pertama kali. Awalnya, dia berharap bisa mewarisi sedikit dari kehormatan yang dulu disematkan pada sang suami. Namun, idealisme itu nggak bertahan lama. Realita di lapangan jauh dari bayangannya, institusi yang harusnya menegakkan hukum justru berkubang dalam kebusukan.
Segalanya mulai berubah ketika Santosh terlibat dalam penyelidikan kasus hilangnya gadis dari kasta Dalit. Kasus yang awalnya tampak sepele ternyata mengarah pada pembunuhan yang kompleks, dan secara perlahan membuka tabir tentang siapa sebenarnya para penegak hukum di sekelilingnya.
Menarik banget ya, Sobat Yoursay! Sini kepoin kesan-kesannya!
Impresi Selepas Nonton Film Santosh
Sebagai penonton, aku merasa seperti diajak masuk ke dunia yang sama sekali asing tapi akrab. Asing karena aku nggak pernah menjadi bagian dari institusi polisi, tapi akrab karena sistem bobrok seperti ini.
Suka banget sih terkait kejujurannya. Film ini nggak mencoba jadi manis atau melodramatis. Nggak ada upaya untuk membuat tokohnya tampak heroik atau menyedihkan secara klise. Justru karena itulah aku merasa cerita ini begitu menampar. Aku ikut merasakan ketidakberdayaan Santosh saat dia mulai sadar, bahwa seragam yang dia kenakan bukan lambang kehormatan, tapi pintu masuk menuju jaringan represi yang sangat sistemik.
Shahana Goswami tampil kece badai deh. Dia nggak perlu banyak dialog dramatis buat menunjukkan gejolak batinnya. Seringkali, ekspresi matanya—antara ragu, takut, marah, dan bingung—lebih tajam dari kata-kata. Aku merasa seperti ikut mengupas lapis demi lapis kekecewaannya, hingga sampai pada titik di mana dia sadar: menjadi bagian dari sistem yang bobrok berarti ikut menyokong ketidakadilan.
Relasi antara Santosh dan Inspektur Sharma juga menarik. Sharma tuh sosok pemimpin perempuan yang vokal memperjuangkan hak-hak perempuan, tapi lama-lama kita melihat bagaimana, bahkan semangat keadilan itu bisa ternoda jika dijalankan dari dalam sistem yang sudah rusak sejak akar. Momen ketika Santosh mulai mempertanyakan apakah feminisme Sharma benar-benar inklusif, menjadi titik perenungan yang begitu penting dalam cerita.
Ada satu adegan yang sangat membekas buatku, saat Santosh makan sendirian sambil nonton video perbandingan polisi India dan polisi Tiongkok. Di sana dia tertawa getir—bukan karena lucu, tapi karena tahu yang ditertawakan itu memang benar adanya. Di situ aku merasa film ini benar-benar berhasil menyampaikan perasaan pahit ketika kita sadar menjadi bagian dari sesuatu yang kita benci.
Nah, kalau Sobat Yoursay ingin nonton film yang bukan hanya menghibur tapi juga ikutan berpikir keras soal keadilan, kuasa, dan keberanian bersikap, Film Santosh jelas sayang dilewatkan. Selamat nonton ya.
Skor: 4,5/5
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.
Baca Juga
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Empat Nasi Box Menjelang Puasa
-
Keseruan Film Hoppers yang Bereksperimen Melalui Cerita dan Perpaduan Genre
-
Mendalami Sensualitas dan Cinta Paling Liar dalam Film Wuthering Heights
-
Review Film Goodbye June: Debut Penyutradaraan Kate Winslet yang Hambar?
Artikel Terkait
Ulasan
-
Novel Perempuan Bersampur Merah: Kisah Nyata Dukun Suwuk yang Difitnah
-
"Hidup Hanya Menunda Kekalahan": Jejak Filosofis Chairil Anwar dalam Aransemen Musik Banda Neira
-
Menelisik Satir Horor yang Unik meski Nggak Sempurna dalam Film Setan Alas!
-
Politik Pembangunan dan Marginalisasi Warga Pesisir dalam Si Anak Badai
-
Teka-teki Rumah Aneh: Misteri Kamar Tanpa Jendela dan Pergelangan Tangan yang Hilang
Terkini
-
Idulfitri Jalur Zen: Strategi Ibu-Ibu Hadapi Pertanyaan "Mana Calon Menantunya?".
-
Bukan Sekadar Ruam Merah: Ini Bahaya Fatal Campak yang Diabaikan Setelah Pandemi
-
Bingung Pilih Skincare? Yoursay Class Bareng Mydervia Punya Jawabannya
-
Bye Kulit Kering! 4 Cleanser Glycerin Bikin Lembap Tahan Lama Selama Puasa
-
Ramadan Connect by Yoursay: Diskusi New Media Jogja soal Niche dan Cuan