Film fantasi modern sering menghadapi dilema yang sama. Semakin besar anggaran produksinya, semakin besar pula tekanan untuk terlihat realistis, serius, dan aman bagi pasar yang luas. Banyak dunia fantasi akhirnya kehilangan keunikannya karena terlalu sibuk mengejar kesan "masuk akal". Monster dibuat lebih membumi, kostum dibuat lebih simpel, warna-warna dipudarkan, dan elemen-elemen aneh yang dulu menjadi daya tarik utama perlahan dikurangi.
Di tengah tren tersebut, film Masters of the Universe yang rilis di bioskop Indonesia lebih awal pada 3 Juni 2026 mengambil arah yang berbeda.
Disutradarai Travis Knight dan diproduksi Amazon MGM Studios bersama Mattel Films, film ini dibintangi Nicholas Galitzine sebagai Prince Adam atau He-Man, Jared Leto sebagai Skeletor, Camila Mendes sebagai Teela, Alison Brie sebagai Evil-Lyn, Idris Elba sebagai Man-at-Arms, Morena Baccarin sebagai Sorceress, serta James Purefoy sebagai King Randor. Film ini merupakan adaptasi live-action terbaru dari franchise He-Man sejak era 1980-an, lho.
Kisahnya mengikuti Prince Adam yang terdampar di Bumi saat masih kecil setelah terpisah dari Sword of Power, satu-satunya penghubung dengan kampung halamannya di Eternia. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai manusia biasa, Adam akhirnya menemukan kembali pedang tersebut dan kembali ke Eternia.
Namun, dunia yang dia tinggalkan telah berubah. Skeletor kini menguasai banyak wilayah dan mengancam masa depan kerajaan. Untuk menyelamatkan keluarganya sekaligus dunia asalnya, Adam harus menerima takdirnya sebagai He-Man, manusia terkuat di alam semesta. Penasaran dengan keseruan kisahnya? Cus, langsung ke bioskop, ya!
Fantasi yang Percaya Diri Tampil Beda
Yang membuatku tertarik bukanlah alur ceritanya. Formula pahlawan yang menemukan takdir sebenarnya sudah sangat sering digunakan dalam genre fantasi. Hal yang menarikku lebih dalam adalah keberaniannya mempertahankan segala sesuatu yang mungkin dianggap terlalu aneh sama standar film blockbuster masa kini.
Banyak film fantasi masa kini berusaha menjelaskan kekuatan magis dengan istilah ilmiah atau pseudo-sains agar terlihat lebih realistis. Film Masters of the Universe nggak melakukan itu. Sword of Power tetap menjadi pedang mistis yang memiliki kekuatan luar biasa karena memang begitulah sejak awal.
Film ini juga nggak malu menghadirkan kastel raksasa yang tampak seperti tengkorak. Castle Grayskull sejak dulu merupakan salah satu desain paling nyentrik dalam sejarah kultur pop. Jika dipikir secara logika, membangun markas utama berbentuk tengkorak raksasa memang terdengar absurd. Nah, absurditas itulah yang membuatnya ikonik. Banyak adaptasi masa kini mungkin akan mengubah desain tersebut agar terlihat lebih realistis atau sangar, tapi film ini mempertahankan kemegahan dan keanehannya.
Masalah yang sering muncul dalam film fantasi sekarang ini tuh banyak ‘dunia’ yang terlihat mirip satu sama lain. Kota batu, benteng batu, pegunungan batu, dan kostum berwarna kusam. Setelah beberapa film, semuanya mulai terasa seragam.
Kerennya, film ini merangkul dunia dengan banyak warna, desain karakter unik, dan elemen yang nggak selalu harus masuk akal. Bahkan, teknologi futuristis bisa berdampingan dengan sihir kuno. Monster bisa hidup berdampingan dengan ksatria. Senjata laser bisa muncul dalam dunia yang sama dengan pedang sakti.
Secara teori, semua itu berantakan. Namun, ketika film benar-benar percaya pada dunianya sendiri, keanehan tersebut malah menjadi wajahnya di mata penonton.
Aku merasa Travis Knight memahami hal ini dengan sangat baik. Dia nggak berusaha meminta maaf atas keanehan dunia He-Man. Dia bahkan nggak mencoba menyembunyikan unsur-unsur yang mungkin dianggap terlalu kartun. Sebaliknya, dia menunjukkannya dengan sangat percaya diri.
Pendekatan ini sebenarnya cukup berisiko. Studio besar biasanya lebih nyaman bermain aman. Mereka cenderung mengikuti formula yang sudah terbukti berhasil. Karena itulah cukup menyegarkan melihat film fantasi besar yang berani tampil nyentrik tanpa merasa perlu meminta persetujuan siapa pun.
Menolak Palet Muram dan Bermain Aman
Pilihan visual film ini juga mendukung pendekatan tersebut. Eternia tampil sebagai dunia yang terasa hidup, berenergi, dan nggak takut menggunakan warna-warna mencolok. Dalam beberapa tahun terakhir, cukup banyak film fantasi yang terlihat hampir seperti dunia yang sedang mengalami kiamat permanen. Langit kelabu, bangunan kusam, dan palet warna yang muram seolah-olah menjadi standar wajib. Film Masters of the Universe menolak tren itu.
Menurutku, inilah alasan mengapa film ini terasa lebih segar dibanding banyak adaptasi fantasi lain. Bukan karena ceritanya revolusioner, melainkan karena ia berani menjadi dirinya sendiri.
Menurutku, keberhasilan terbesar film Masters of the Universe bukan terletak pada aksi, efek visual, atau pertarungan besarnya. Keberhasilan terbesarnya ada pada keberaniannya mempertahankan wajahnya yang selama puluhan tahun membuat dunia He-Man begitu dicintai.
Film ini masih tayang di bioskop. Coba tonton deh, Sobat Yoursay!
Baca Juga
-
Review Practical Magic: The Book of Magic: Saat Perempuan Menulis Takdirnya
-
Review Film Agensi Rumah Tangga: Saat Isu Kerasnya PHK Dibalut Komedi Segar
-
Review Last Seen: Thriller yang Menekan Emosi, Bukan Cuma Twist Saja
-
Review Why Did I Get Married Again?: Biasa dan Mudah Ditebak
-
Review Cold Storage: Ketika Ruang Penyimpanan Berubah Jadi Perangkap
Artikel Terkait
-
Di Balik Lapangan Hijau: Ambisi dan Kekuasaan dalam Film Mexico 86
-
Review The Ugly Stepsister: Reinterpretasi Gelap Cinderella yang Visceral!
-
Review The Amazing Digital Circus: The Last Act: Komedi Absurd dan Horor Psikologis yang Menghantui
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan
-
Kritik Pedas di Film Monster Pabrik Rambut: Horor atau Sindiran untuk Budaya Kapitalis?
Ulasan
-
Kupas Lagu Teh Hijau Tulus, Sulitnya Mencari Rasa yang Hilang
-
Tak Seindah Ekspektasi: Novel 'Sisi Tergelap Surga' Buka-bukaan Fakta Pahit Kerasnya Jakarta
-
Land Maggie OFarrell: Ketika Tanah Menyimpan Luka dan Sejarah
-
Review Film It's My Time: Seni Menghargai Masa Tua dengan Cara yang Indah
-
Bedah Buku 'Sebilah Lidah': Ketika Puisi Menelanjangi Sisi Gelap Manusia Modern
Terkini
-
Anti Sumpek dan Lengket, Ini 4 Andalan Moisturizer Lotion untuk Kunci Hidrasi Wajah
-
Jangan Asal Ikut-ikutan Resign! Beda Kasta Antara Privilege Finansial dan Perjudian Ekonomi
-
5 Peptide Sheet Mask untuk Samarkan Garis Halus dan Bikin Kulit Kenyal
-
Di Balik Lucunya Anak Ayam Warna-warni: Nyawa Rentan yang Dijadikan Mainan Murah
-
Pikirannya Nggak Bisa Diam? Kenali 4 Jenis Overthinking dan Cara Mengatasinya