Pidato seorang presiden selalu menjadi salah satu momen yang paling dinantikan karena di sanalah gambaran arah kebijakan pemerintah disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, setiap kata yang diucapkan oleh seorang kepala negara idealnya memiliki tujuan yang jelas dan mudah dipahami.
Belakangan ini, pidato Presiden Prabowo Subianto kerap menjadi bahan perbincangan publik karena gaya penyampaiannya yang spontan dan sering kali berkembang ke berbagai arah.
Salah satu yang terbaru adalah saat beliau membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Bandar Lampung pada Rabu (10/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Presiden berbicara selama lebih dari satu jam dan membahas banyak hal.
Sebagai pendengar, saya menangkap banyak pesan positif dari pidato tersebut. Namun, di sisi lain, saya juga menyadari ada pola yang identik—yang sering kali muncul dalam berbagai pidato Presiden Prabowo selama menjabat. Pidatonya selalu berapi-api dan penuh semangat, tetapi sering kali terlalu panjang dan melebar ke banyak topik, sehingga membuat inti pesan menjadi kurang menonjol.
Berakar dari hal tersebut, muncul satu pemikiran sederhana dalam benak saya: Seandainya saya menjadi penulis naskah pidato Presiden, apa yang akan saya ubah?
Terlalu Banyak Topik dalam Satu Pidato
Pidato Presiden Prabowo di Munas HIPMI sebenarnya memiliki tema yang sangat jelas, yaitu dunia usaha dan peran pengusaha muda dalam pembangunan Indonesia. Namun, dalam praktiknya, pembahasan berkembang ke banyak arah.
Beliau berbicara mengenai banyak hal dalam satu tarikan napas, di antaranya:
- Sejarah berdirinya HIPMI.
- Nasionalisme dan Pasal 33 UUD 1945.
- Kondisi geopolitik dunia dan hubungan Indonesia dengan negara-negara besar.
- Kisah perjalanan politiknya yang beberapa kali kalah dalam pemilihan presiden.
- Hingga pengalaman pribadinya menggunakan mobil Maung buatan dalam negeri.
Tidak ada yang salah dengan setiap topik tersebut. Semuanya menarik dan memiliki kaitan dengan semangat pembangunan bangsa. Namun, ketika terlalu banyak tema besar dijejalkan ke dalam satu pidato, audiens bisa kehilangan fokus terhadap pesan utamanya.
Jika saya menjadi penulis naskah pidato Presiden, saya akan membuat alur yang lebih sederhana. Saya akan memfokuskan naskah pada dua atau tiga pesan utama, lalu memperdalam pembahasannya sehingga audiens bisa memahami dengan sangat jelas apa langkah konkret yang sedang dituju oleh pemerintah.
Dilema Mengulang Narasi yang Sama
Hal lain yang menarik adalah adanya beberapa tema yang hampir selalu muncul dalam setiap pidato Presiden Prabowo—mulai dari nasionalisme, kekayaan alam Indonesia, hilirisasi, kemandirian pangan, hingga memori perjalanan politiknya.
Sebagai seorang pemimpin, tentu wajar jika Presiden memiliki gagasan utama yang terus disuarakan kepada masyarakat. Bahkan dalam dunia komunikasi politik, repetisi atau pengulangan pesan memang menjadi salah satu strategi efektif untuk menanamkan ingatan di benak publik.
Namun, ada batas tipis antara memperkuat pesan dan mengulangnya terlalu sering. Ketika publik berkali-kali mendengar narasi yang serupa dari panggung ke panggung, rentang perhatian mereka bisa memudar dan substansi pidato justru terabaikan.
Jika saya menjadi penulis naskah pidato Presiden, saya akan tetap mempertahankan pesan-pesan esensial tersebut, tetapi menyajikannya dengan sudut pandang (angle) yang lebih segar dan disesuaikan dengan relevansi audiens yang hadir saat itu.
Saat Viralnya Candaan Mengalahkan Substansi
Salah satu bagian dari pidato Prabowo di Munas XVIII HIPMI yang paling banyak menyita perhatian dunia maya justru bukanlah pembahasannya tentang ekonomi atau hilirisasi, melainkan momen ketika ia membahas "angka 8" yang menurutnya sering muncul dalam perjalanan hidupnya.
Saat itu, Prabowo mencoba mengaitkan tanggal pelaksanaan acara (10 Juni 2026) dengan angka tersebut. Namun, dalam prosesnya, ia sempat berucap bahwa 10 ditambah 6 sama dengan 17. Pernyataan itu langsung terdengar janggal, karena secara matematis hasil penjumlahannya adalah 16. Setelah itu, Prabowo beberapa kali mengoreksi hitungannya sendiri sembari bercanda dengan para peserta yang hadir.
Di media sosial, potongan video tentang kesalahan hitung angka itu menyebar jauh lebih masif dan cepat dibandingkan gagasan tentang ekonomi, hilirisasi, atau peran pengusaha muda yang sebenarnya menjadi nyawa dari acara tersebut.
Sangat ironis melihat bagaimana publik lebih mengingat momen keliru sejenak itu daripada substansi utuh pidatonya. Fenomena ini membuktikan bahwa sebuah pidato kenegaraan akan jauh lebih efektif jika pembahasannya dibingkai secara fokus dan terarah.
Jika saya menjadi penulis naskah pidato Presiden, saya tidak akan mematikan spontanitas yang selama ini menjadi ciri khas karismatik Prabowo. Namun, spontanitas itu seharusnya hanya berfungsi sebagai bumbu pelengkap. Yang terpenting, publik harus pulang dengan mengingat gagasan utama yang ingin disampaikan oleh Presiden dalam pidato berdurasi lebih dari satu jam itu.
Kunci Pidato Kuat: Jelas, Fokus, dan Mudah Dipahami
Saya sangat mengakui bahwa Presiden Prabowo adalah sosok pemimpin yang memiliki kemampuan orasi luar biasa dan mampu membangun kedekatan emosional dengan audiensnya.
Namun, di era digital yang serba cepat ini, masyarakat lebih membutuhkan komunikasi yang padat, singkat, dan mudah dipahami. Publik ingin segera tahu: Apa masalahnya? Apa solusi dari pemerintah? Dan bagaimana cara mengeksekusinya?
Oleh karena itu, seandainya saya menjadi penulis naskah pidato Presiden, saya tidak akan mengubah gaya bicara beliau yang meledak-ledak dan penuh semangat. Saya hanya akan membantu merapikan kerangkanya agar pesannya lebih terstruktur, lebih fokus, dan langsung menancap di benak masyarakat.
Pidato yang baik bukanlah pidato yang paling panjang durasinya atau paling riuh mendapat tepuk tangan. Pidato yang baik adalah pidato yang mampu membuat rakyat memahami dengan jernih apa yang sedang dikerjakan pemimpinnya dan ke mana arah kapal bangsa ini akan dilayarkan.
Baca Juga
-
Keliru Jika Menganggap Pembeli Kopi Rp30 Ribu Harus Diam Saat BBM Naik
-
Larangan Tumbler: Saat Kebiasaan Ramah Lingkungan Berhenti di Pintu Bioskop
-
The Art of Negotiation: Saat Merger dan Akuisisi Jadi Pertarungan Strategi
-
Saat MBG Tersendat, yang Ribut Bukan Siswa: Sebenarnya yang Lapar Siapa?
-
Sinopsis Drama Excitatio: Okultisme dan Teror Mematikan di Sekolah
Artikel Terkait
-
Rekam Jejak Said Iqbal, Sang Tokoh Buruh yang Dilantik Jadi Penasihat Khusus Presiden
-
5 Kali Maju Pilpres Kejar Kursi RI 1, Prabowo: Saya Lihat dari Tahun 90-an Indonesia Salah Arah!
-
Ogah Pakai Mercy, Ini Alasan Prabowo Setia pada Maung Meski Atap Bocor dan Gledak-gledak
-
Jabatan Kapolri Kini Bisa Diperpanjang Sesuai Kebutuhan Presiden, Ini Bunyi Pasal Terbaru UU Polri
-
Prabowo Jawab Kritik Sering ke Luar Negeri: Dulu Pak Jokowi Jarang Lawatan Juga Disalahkan
Kolom
-
Checkout vs Krisis Sampah: Mengapa Sulit Lepas dari Gaya Hidup Konsumtif?
-
Keliru Jika Menganggap Pembeli Kopi Rp30 Ribu Harus Diam Saat BBM Naik
-
Kue Ketan Politik dan Jeritan Dompet Rakyat di Tengah Badai Inflasi 2026
-
Gen Z Tak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi: Kurang Ambisi atau Lebih Realistis?
-
Olahraga Pagi dan Kesehatan Mental: Kebutuhan atau Sekadar Tren?
Terkini
-
Raih Hasil Positif di FIFA Matchday, John Herdman Bisa Saingi Shin Tae-yong
-
The Greatest Magicmaster's Retirement Plan Umumkan Anime dan Manga Prekuel
-
5 Cushion Lokal dengan Coverage Tinggi untuk Menutupi Bekas Jerawat
-
Tampil Ceria, BabyMonster Unjuk Kesuksesan Diri di Lagu Sugar Honey Ice Tea
-
Isabel Blumenkol: Potret Kecemasan Manusia dalam Cerpen Pamusuk Eneste