Ada lho, fillm tentang cinta monyet dan pergolakan masa remaja, yang nggak cuma manis dan menggemaskan, tapi juga mampu mengiris tajam lewat kritik sosialnya yang dalam. Itulah Film Girls Will Be Girls, debut dari sutradara sekaligus penulis Shuchi Talati yang tampil mengejutkan.
Film Girls Will Be Girls pertama kali tayang pada 20 Januari 2024 di Sundance Film Festival, tepatnya dalam kompetisi World Cinema Dramatic Program. Kemudian, film ini diputar di berbagai festival internasional: MAMI Mumbai, Karlovy Vary, Busan, sampai pernah tayang dalam rangkaian JAFF 2024. Keren!
Saat ini bisa Sobat Yoursay tonton di KlikFilm. Wah, sebagus apa kisahnya? Sini merapat!
Sekilas tentang Film Girls Will Be Girls
Film ini membuka kisahnya di kaki pegunungan Himalaya, di sebuah sekolah asrama yang terkesan tenang dan teratur, tempat Mira (diperankan Preeti Panigrahi) menjalani kehidupannya sebagai siswi teladan.
Mira nggak cuma pintar, tapi juga patuh, kaku, dan seolah-olah jadi perpanjangan tangan sekolah dalam menegakkan aturan yang di antaranya: Menegur teman-temannya soal rok terlalu pendek atau kuku yang dicat mencolok. Semuanya tampak baik-baik saja. Hingga dunia Mira perlahan-lahan mulai goyah.
Di balik pencapaiannya, ada Anila (Kani Kusruti), sang ibu yang mengabdikan diri sepenuhnya demi keberhasilan anak semata wayangnya. Anila rela tinggal di dekat asrama demi mengawasi langsung proses belajar Mira setiap kali masa ujian tiba. Sementara itu, sang ayah, Harish (Jitin Gulati), lebih sering absen dengan dalih sibuk kerja.
Harish hadir hanya untuk menuntut, bukan memberi. Bahkan dia pernah berkata, “Kalau Mira gagal, itu salahmu!”
Selain itu, kehadiran Sri (Kesav Binoy Kiron), siswa baru sekaligus putra diplomat yang berwawasan luas karena pernah tinggal di berbagai negara, membawa warna baru dalam hidup Mira.
Untuk pertama kalinya, Mira mulai mempertanyakan aturan-aturan yang selama ini dia patuhi. Mira diam-diam membawa Sri ke warnet untuk mencari tahu tentang organ reproduksi sebelum mereka berhubungan seksual. Tapi alih-alih terasa vulgar, momen itu malah dipenuhi rasa penasaran, canggung, dan menggemaskan.
Namun, di balik semua kehangatan itu, konflik mulai memanas ketika Sri mulai mendekati Anila. Apa yang awalnya tampak seperti strategi agar bisa lebih dekat dengan Mira, perlahan berubah jadi kedekatan emosional yang rumit. Parah, ya? Anila merasa diperhatikan (sesuatu yang nggak pernah didapatkan dari suaminya). Sementara itu, Mira mulai cemburu pada ibunya sendiri.
Sepanas itu kisahnya!
Review Film Girls Will be Girls
Asli deh, Sutradara Suchi Talati berhasil menangkap nuansa romansa remaja dengan cara yang segar. Bayangkan Mira dan Sri berciuman pelan-pelan di kamar sambil pura-pura belajar, sesekali curi pandang memastikan ibunya nggak ngintip. Momen-momen itu ditampilkan dengan kelembutan.
Eits, jangan salah sangka. Film Girls Will Be Girls bukan sinetron murahan tentang cinta segitiga antara ibu dan anak. Justru sebaliknya. Ini adalah peringatan, semacam cautionary tale tentang bagaimana laki-laki bisa memanipulasi perempuan, dalam bentuk apa pun hubungan mereka. Film ini membuka mata, manipulasi bisa hadir dengan wajah yang ramah, kata-kata manis, dan perhatian semu. Saat perempuan benar-benar membutuhkannya, laki-laki seperti Harish dan Sri seringkali hilang.
Untuk departemen akting, ketiga pemeran utamanya tampil prima. Kesav Binoy Kiron mampu membuat diriku bertanya-tanya, “Benarkah niat Sri tulus?”
Bahkan Kani Kusruti berhasil membangun karakter Anila yang rumit, sebagai ibu disiplin yang juga perempuan kesepian.
Namun yang paling mencuri perhatianku jelas Preeti Panigrahi. Sulit dipercaya ini debutnya. Dia tampil luwes, emosional, dan membawa kehidupan dalam setiap gestur Mira.
‘Girls Will Be Girls’ adalah film yang manis sekaligus pedas. Lucu sekaligus getir. Lembut tapi menonjok. Ini bukti nyata, cerita remaja bisa punya lapisan dalam dan relevan.
Jangan lupa cek KlikFilm dan selamat nonton!
Skor: 4/5
Baca Juga
-
Review The Oddysey: Saat Nolan Mengubah Mitologi Jadi Potret Trauma Manusia
-
Menelisik Lebih Dalam Series Human Vapor, Bisakah Korban Disebut Monster?
-
The Odyssey: Mengapa Kita Suka Menghakimi Film sebelum Nonton?
-
Review Agent Kim Reactivated: Ketika Orang Baik Dipaksa Menjadi Buas
-
Mengapa Remake '402 Rumah Sakit Angker' Gagal Memikat Seperti Gonjiam Versi Asli?
Artikel Terkait
-
Kursus Film Online Gratis dari KlikFilm dan Jogja Film Academy Hadir Lebih Intens
-
Review Film Adult Best Friends: Masih Bisa Ketawa Sobatmu Nikah Duluan?
-
Review Film Short Term 12: Luka Enggak Terlihat, dan Harapan yang Tumbuh
-
Laut, Luka, Cinta, dan Iman dalam Catatan Film Silent Roar
-
Review Film Visiting Hours: Saat Perkenalan di Penjara Bikin Kacau Balau
Ulasan
-
Ulasan Kick Kick Kick Kick: Sebuah Komedi tentang Absurditas Kegagalan
-
Ulasan Novel Gagal Menjadi Manusia: Karya Paling Kelam Osamu Dazai
-
Novel Ketika Senja Jatuh di Nara: Kisah Keserakahan dan Luka Masa Lalu
-
Review Secrets of the Broken House: Misteri Pembunuhan yang Penuh Kejutan
-
Review The Oddysey: Saat Nolan Mengubah Mitologi Jadi Potret Trauma Manusia
Terkini
-
Tenggelam dalam Tuntutan, Terbungkam oleh Stigma: Potret Buram Kesehatan Mental Remaja
-
Piala Dunia 2026: Saatnya Spanyol Akhiri Puasa Juara?
-
Budget Rp20 Ribuan? 4 Tone Up Cream Tranexamic Acid Bikin Glowing dan Sehat
-
Ada KJ Apa, Netflix Umumkan Jajaran Pemain Serial Myron Bolitar
-
Lebih Kejam dari Ghosting: Kenali Breadcrumbing, Jebakan Cinta yang Menguras Mental