Adakah Orang Sepertiku? Merupakan buku terjemahan asal Korea Selatan yang membahas mengenai self improvement.
Ditulis oleh Lucia Song, buku ini berisi kumpulan esai reflektif yang merekam pengalaman-pengalaman personal penulis dalam menjalani hidup.
Dalam buku ini, kalian bisa menemukan berbagai macam hal mulai dari membangun hubungan, kesehatan mental, hingga cara memandang diri sendiri.
Lucia tidak mencoba menggurui atau menasihati di sini. Ia juga tidak mencoba memaksa semua orang untuk setuju denga apa yang disampaikan di bukunya.
Namun justru karena itu, tulisannya terasa lebih jujur. Ia hanya menuliskan apa yang memang ia alami dan rasakan, dan entah kenapa, di beberapa bagian, kita sebagai pembaca bisa merasa seperti sedang membaca isi kepala kita sendiri.
Buku ini terasa seperti teman yang menemani saat malam tiba dan kepala sedang penuh oleh pikiran-pikiran yang sulit dijelaskan.
Terkesan seperti membaca buku harian yang kaku dan acak. Kadang alurnya terasa melompat, seperti rangkaian pemikiran spontan yang mengalir begitu saja.
Bagi sebagian orang mungkin merasa alurnya sedikit membingungkan. Akan lebih baik jika menggunakan perasaan ketika membacanya, sehingga daya tarik buku ini akan terasa.
Meski begitu terjemahan dari buku ini terasa sedikit kaku. Kalimatnya terasa tidak sesuai dengan konteks, sehingga makna aslinya kurang tersampaikan.
Kalimat-kalimat dalam buku ini kadang terasa membingungkan, dan ada paragraf-paragraf tertentu yang membuat pembaca berhenti sejenak, mencoba memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan.
Kalian mungkin akan merasa hambar di beberapa bagian, bisa jadi karena terjemahannya yang tidak bisa menyampaikan maknanya secara penuh.
Sayang sekali, karena bisa jadi nuansa dan kedalaman maknanya justru lebih menyentuh dalam bahasa Jepang, tapi tidak semua itu berhasil diteruskan ke versi terjemahan.
Namun di luar kendala bahasa tersebut, pesan yang ingin disampaikan tetap terasa. Meski membutuhkan pemahaman dan perasaan yang lebih, namun cara ini sebenarnya tidak sulit. Karena cara buku ini menyampaikan seperti berdialog dengan diri sendiri.
Membicarakan pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul diam-diam: “Apakah aku aneh?” “Kenapa aku merasa sendiri?” “Apa semua orang pernah merasa seperti ini?”
Memang sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti untuk itu, tapi di sini Lucia mencoba meyakinkan kepada kita bahwa semuanya itu wajar.
Semua orang pasti akan mengalami fase itu, dan mereka memiliki caranya masing-masing di waktu yang tepat untuk memahami hidup.
Lucia memang tidak memberi jawaban yang mutlak. Tapi melalui tulisannya, ia seolah ingin menyampaikan bahwa semua kebingungan itu manusiawi.
Setiap orang punya jalannya sendiri untuk memahami hidup. Dan kita tidak boleh membandingkannya dengan kehidupan orang lain.
Untuk kalian yang sedang di fase usia 20 tahun-an, kalian pasti akan merasakan banyak hal berat yang harus dijalani. Dipenuhi dengan kebingungan, penuh tanya, dan keraguan.
Ada tuntutan untuk cepat tahu arah, cepat sukses, cepat bahagia.
Tapi justru di situlah prosesnya dimulai. Berjalan sambil belajar dengan ketidak pastian dalam hidup.
Tidak apa-apa kalau kita masih mencari. Tidak masalah jika kita belum tahu mau ke mana. Yang penting, terus melangkah, meskipun pelan. Terkadang memang kita harus menjalani terlebih dulu untuk mengerti bagaimana ini berakhir.
Adanya ilustrasi-ilustrasi kecil yang lucu di beberapa halaman membuat kalian yang membaca akan merasakan hal yang menyenangkan.
Gambar-gambar sederhana namun penuh makna ini memberi ruang bernapas di tengah isi yang penuh perenungan.
Secara keseluruhan, buku ini cocok kalian baca ketika menemui fase hidup yang membingungkan.
Baca Juga
-
Buku Karena Hidup Enggak Sebercanda Itu, Motivasi yang Menenangkan Jiwa
-
"Dompet Ayah Sepatu Ibu", Mengurai Cinta Orang Tua Lewat Metafora Sederhana
-
Luka yang Tak Pernah Sembuh dalam Novel Human Acts
-
Ketika Cinta Berhadapan dengan Revolusi dalam Novel Burung-Burung Manyar
-
Perspektif Anak yang Menyayat di Novel Di Tanah Lada
Artikel Terkait
Ulasan
-
Trauma dan Beban Mental yang Ditularkan Lewat Film Grave of the Fireflies
-
Andai Kita Bisa Kembali ke Masa Kecil: Pahitnya Jadi Dewasa di Lima Cerita
-
Ulasan Film Songko: Eksplorasi Urban Legend Minahasa yang Bikin Merinding!
-
Review The Art of Sarah: Saat Kemewahan Jadi Topeng yang Menutup Kepalsuan
-
Di Atas Dendam, Ada Martabat: Mengenal Sisi Intim Buya Hamka Lewat Memoar Anak
Terkini
-
Park Chan-wook Umumkan Proyek Film Baru, Gandeng Aktor dan Aktris Ternama
-
Jadwal F1 GP Miami 2026: Favorit Kimi Antonelli, Akankah Dia Menang Lagi?
-
MacBook Air M4 15 Inci Resmi Hadir: Lebih Kencang, Lebih Ringan, dan Lebih Menarik
-
Pendidikan Gratis dalam Retorika, Mahal dalam Realita
-
Ditanya Princess Diaries 3, Anne Hathaway Beri Sinyal Segera Dikerjakan