Ada satu kalimat yang sering muncul setiap kali anak muda mulai aktif membahas kebijakan publik, mengkritik pemerintah, atau berdiskusi tentang arah bangsa.
"Fokus kerja saja, tidak usah ikut-ikutan politik."
Seolah-olah politik adalah urusan segelintir elite, sementara masyarakat, terutama anak muda, cukup menjadi penonton yang patuh. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.
Politik bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Politik menentukan biaya pendidikan, harga bahan pokok, tarif listrik, kesempatan kerja, kualitas transportasi publik, akses layanan kesehatan, hingga kebebasan berekspresi. Hampir semua aspek kehidupan warga negara dipengaruhi oleh keputusan politik.
Karena itu, ketika anak muda mulai peduli terhadap isu politik, sesungguhnya mereka sedang berusaha memahami faktor-faktor yang akan menentukan masa depan mereka sendiri.
Lalu mengapa sebagian orang justru merasa terganggu?
Mungkin karena selama bertahun-tahun politik dianggap sebagai wilayah eksklusif yang hanya boleh dibicarakan oleh politisi, akademisi, atau orang-orang tertentu. Anak muda diharapkan rajin belajar, bekerja, mengejar karier, lalu membiarkan keputusan-keputusan besar tentang hidup mereka ditentukan orang lain.
Pandangan seperti ini berbahaya.
Sebab demokrasi tidak membutuhkan warga yang pasif. Demokrasi membutuhkan warga yang sadar, kritis, dan mampu mempertanyakan kebijakan publik. Tanpa partisipasi warga, terutama generasi muda, demokrasi hanya akan menjadi prosedur lima tahunan yang kehilangan maknanya.
Ironisnya, bangsa ini justru lahir dari kesadaran politik anak muda.
Sejarah Indonesia dipenuhi oleh peran generasi muda yang berani berpikir melampaui zamannya. Dari kebangkitan nasional, Sumpah Pemuda, pergerakan mahasiswa, hingga Reformasi 1998, anak muda selalu menjadi motor perubahan. Mereka membaca keadaan, mengkritik ketidakadilan, dan memperjuangkan masa depan yang lebih baik.
Bayangkan jika generasi muda pada masa itu memilih diam dengan alasan "fokus kerja saja".
Mungkin Indonesia tidak akan pernah menjadi negara seperti sekarang.
Karena itu, terasa aneh ketika di era kemerdekaan, anak muda yang melek politik justru dianggap mengganggu. Seolah-olah kesadaran politik adalah sesuatu yang berbahaya. Padahal yang berbahaya bukanlah warga yang berpikir kritis, melainkan warga yang tidak peduli sama sekali.
Ada pula anggapan bahwa anak muda yang membahas politik pasti sedang mencari sensasi atau terlibat dalam pertikaian politik praktis. Ini juga merupakan kesalahpahaman yang sering terjadi.
Melek politik tidak berarti harus menjadi anggota partai politik. Tidak berarti harus mencalonkan diri sebagai pejabat. Melek politik berarti memahami bagaimana kebijakan dibuat, bagaimana anggaran negara digunakan, siapa yang mengambil keputusan, dan bagaimana keputusan tersebut memengaruhi kehidupan masyarakat.
Seseorang bisa tetap menjadi dokter, guru, insinyur, petani, programmer, seniman, atau pengusaha sambil memiliki kesadaran politik yang baik. Justru kesadaran itulah yang membuat mereka lebih memahami lingkungan sosial tempat mereka hidup dan bekerja.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika masyarakat mulai menganggap politik sebagai sesuatu yang kotor sehingga harus dijauhi. Akibatnya, ruang politik justru dibiarkan kosong dan diisi oleh mereka yang tidak selalu memiliki kepentingan yang sama dengan rakyat.
Ketika warga tidak peduli, keputusan tetap akan dibuat. Anggaran tetap akan disusun. Regulasi tetap akan diterbitkan. Pajak tetap akan dipungut. Bedanya, semua itu berlangsung tanpa pengawasan yang memadai.
Karena itu, ajakan agar anak muda tidak membahas politik sebenarnya tidak pernah netral. Secara tidak langsung, ajakan tersebut mendorong generasi muda untuk menyerahkan masa depannya kepada orang lain.
Padahal anak muda bukan sekadar tenaga kerja yang tugasnya bekerja, menghasilkan uang, membayar pajak, lalu diam. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak untuk mengetahui, memahami, dan mengawasi bagaimana negara dijalankan.
Tentu saja, melek politik tidak berarti menelan mentah-mentah semua informasi yang beredar. Justru sebaliknya. Kesadaran politik yang sehat lahir dari kebiasaan membaca berbagai sumber, memeriksa fakta, berdiskusi secara rasional, dan berani mengubah pendapat ketika menemukan data yang lebih kuat.
Pada akhirnya, semakin banyak anak muda yang peduli pada isu-isu politik seharusnya menjadi kabar baik. Itu menandakan bahwa masih ada generasi yang ingin memahami arah bangsanya, bukan sekadar menjalani hidup sebagai objek kebijakan.
Sebab masa depan mereka tidak ditentukan oleh keberuntungan semata. Masa depan mereka dibentuk oleh keputusan-keputusan politik yang dibuat hari ini. Dan tidak ada yang lebih wajar daripada generasi muda yang ingin ikut memahami, mengawasi, dan menentukan arah masa depan tersebut.
Baca Juga
-
Harga BBM Sudah Mau Negara Maju, Pendapatan Masih Negara Berkembang
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Krisis 1998 dan Pentingnya Kepemimpinan di Masa Sulit
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
Artikel Terkait
Kolom
-
Mengapa Revolusi Tidak Lahir dari Tagar
-
Elegi Hujan Bulan Juni: Merawat Tabah di Tengah Badai Rupiah yang Tiarap
-
Harga BBM Sudah Mau Negara Maju, Pendapatan Masih Negara Berkembang
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
Terkini
-
Scary Movie 6 Resmi Kembali! Reuni Core Four yang Siap Mengocok Perut Sampai Kram
-
Emosional! Mengintip Ruang Ganti Norwegia Menuju Piala Dunia 2026 Lewat Dokumenter Terbaru
-
Nobar Piala Dunia 2026 di Rumah? Ini 5 Proyektor Mini Canggih di Bawah Rp1 Juta!
-
Saat Homer Bertemu Nolan: Alasan 'The Odyssey' Wajib Jadi Film yang Kamu Tunggu di 2026.
-
Film Disclosure Day Mengguncang Iman dan Keyakinan Manusia, Apa yang Sebenarnya Terjadi?