Tumpang memang terkenal akan air terjunnya yang belum terjamah. Mulai dari Coban Sanusi, Sumber Pitu, Jidor, Jodoh, Rondo, hingga Srikandi. Nah, kalau kamu mencari air terjun yang ramah untuk akhir pekan santai, Coban Srikandi di Kecamatan Tumpang bisa jadi pilihan sempurna.
Air terjun ini terletak di Desa Benjor, sekitar 1 jam perjalanan dari pusat Kota Malang, dan menawarkan pengalaman yang sederhana namun penuh kesan. Terutama bagi pencinta suasana hutan, aliran sungai, dan udara segar pegunungan.
Meski bisa disebut trip singkat, perjalanan menuju air terjun ini lumayan menggigit. Pengunjung harus melewati 3 aliran sungai selama trekking. Jadi siap buat basah-basahan di sini!
Harga Tiket Masuk Coban Srikandi
Perjalanan menuju Coban Srikandi bisa dimulai dari area parkir Benjor Pine. Tiketnya tergolong terjangkau:
- Tiket masuk Coban Srikandi: Rp10.000
- Tiket area Benjor Pine: Rp5.000
- Parkir motor: Rp3.000
Total biaya untuk satu orang hanya sekitar Rp18.000 saja.
Kendaraan bisa diparkir di area khusus yang buka sampai pukul 15.00. Jadi, sebaiknya kamu mulai perjalanan agak pagi agar punya waktu cukup untuk menikmati suasana dan kembali sebelum sore. Setelah jam tersebut, tanggung jawab keamanan kendaraan berada di pengunjung sendiri.
Akses dan Fasilitas Pengunjung
Dari parkiran, kamu perlu berjalan kaki sekitar 30–40 menit menuju lokasi air terjun. Waktu ini bisa lebih lama jika kamu suka berhenti untuk foto-foto. Dan percayalah, sepanjang jalan banyak sekali spot alami yang cantik!
Medan menuju parkiran coban Srikandi berupa jalan makadam alias berbatu tapi masih bisa dilewati motor matic jika hati-hati. Suasananya mengingatkan pada jalur menuju Bukit Jengkoang, hanya saja di sini sedikit lebih curam. Begitu sampai di titik akhir parkir motor, perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri jalan setapak dan menyeberangi sungai sebanyak tiga kali.
Nah, bagian inilah yang paling berkesan. Suara gemericik air, udara lembap khas hutan, dan aliran sungai jernih yang harus diseberangi benar-benar menghadirkan sensasi mini adventure.
Karena jalurnya sering basah dan berbatu, hindari memakai sandal biasa. Pilihlah sepatu karet atau sepatu plastik agar tidak licin dan melindungi kaki dari batu tajam.
Air terjun Srikandi sendiri mungkin tidak setinggi atau semegah Coban Talun atau Coban Rondo, tapi justru di situlah pesonanya: sederhana, natural, dan masih terasa “liar”. Airnya jernih dan dingin seperti es, cocok buat kamu yang ingin berendam sebentar atau sekadar mencelup kaki.
Kedalaman airnya rata-rata hanya seperut orang dewasa, jadi relatif aman untuk bermain air. Tapi karena suhu airnya sangat dingin, pastikan kondisi tubuhmu prima agar tidak kaget oleh suhu ekstrem.
Sensasi Alam Liar Tapi Tetap 'Aman'
Di area coban belum banyak fasilitas wisata seperti warung besar atau tempat ganti, jadi sebaiknya bawa sarung atau kain sendiri untuk berganti pakaian dengan nyaman. Kalau kamu tidak ingin repot, bisa juga langsung berganti di area parkir.
Meski begitu, justru minimnya fasilitas membuat suasana di sini tetap alami dan tenang. Kamu bisa mendengar suara air terjun tanpa gangguan musik keras atau keramaian wisatawan seperti di lokasi wisata populer lainnya.
Coban Srikandi bukan tentang kemegahan air terjun yang menjulang tinggi, melainkan tentang proses menuju ke sana. Jalan setapak yang menantang, tiga kali menyeberangi sungai, udara segar, dan sensasi air gunung yang dingin. Semuanya menciptakan pengalaman yang autentik dan menenangkan.
Bagi pencinta alam atau mereka yang ingin short escape dari rutinitas kota, tempat ini memberikan kesan petualangan kecil yang menyegarkan tubuh dan pikiran.
Jadi, kalau kamu sedang mencari tempat untuk menenangkan diri sambil sedikit berpetualang, Coban Srikandi Tumpang layak masuk daftar destinasi berikutnya. Tak perlu mahal, cukup Rp18.000 dan sedikit keberanian menyeberangi sungai, kamu sudah mendapatkan pengalaman yang benar-benar menyegarkan.
Baca Juga
-
Anak Krakatau Sudah Siaga Sejak Juli, Lalu Mitigasi Pemerintah ke Mana?
-
Hukum Karma Alam: Saat Gunungan Sampah Berubah Menjadi Mesin Pembunuh
-
Fakta Ironisnya: Ketika MBG Hanya Menanggung 1/9 Biaya Makan Keluarga
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Negara Ring of Fire, Mengapa Anggaran Bencana Masih Seperti Lelucon?
Artikel Terkait
-
Kuliah di Luar Negeri Gak Cuma Buat 'Anak Sultan', Ini 8 Jalur yang Bisa Kamu Coba!
-
Mampukah Stimulus BLT Gairahkan Ekonomi Akhir Tahun?
-
Bukan Cuma 'Healing' Biasa: 10 Surga Dunia yang Wajib Masuk Bucket List Kamu
-
Pemerintah Buka Program Magang Nasional, Siapkan 100 Ribu Lowongan di Perusahaan Swasta Hingga BUMN
-
Alhamdulillah! Peserta Magang Nasional Digaji UMP Plus Jaminan Sosial dari Prabowo
Ulasan
-
Bukan Hanya Romance: Bagaimana Trilogi 'Before' Memotret Realisme Hubungan
-
Spirit Fingers: Menemukan Warna Diri di Tengah Ramainya Perbandingan
-
Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
5 Pesan Moral Bisa Dipelajari dari Karakter Je Moon-jae di Drakor Mousetrap
Terkini
-
Bye-Bye Muka Tomat! Ini 4 Soothing Gel Mugwort Khusus Kulit Berminyak, Cuma 30 Ribuan
-
Gebrakan Baru! Sinema Desa Resmi Disulap Jadi Motor Ekonomi Baru di 2026
-
Bebas Kemerahan, 5 Sunscreen Korea Cica yang Bikin Kulit Calm dan Lembap
-
Manga You Are a Four Leaf Clover Diadaptasi ke Anime
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?