Di berbagai gerai makanan, bazar kuliner, hingga minimarket, kita sering melihat makanan kecil berbentuk bulat dengan kulit tipis dijual dengan label “dimsum”.
Padahal, jika diperhatikan lebih teliti, makanan tersebut sebenarnya adalah siomay. Fenomena ini cukup umum di Indonesia dan sering menimbulkan kebingungan, terutama bagi mereka yang ingin memahami kuliner Tiongkok secara lebih tepat.
Banyak orang mengira bahwa siomay dan dimsum adalah hal yang sama. Padahal sebenarnya tidak demikian. Dimsum adalah kategori makanan, sedangkan siomay hanyalah salah satu jenis dimsum.
Apa Itu Dimsum?
Dim sum berasal dari tradisi kuliner Kanton di Tiongkok Selatan, khususnya di wilayah Guangdong dan Hong Kong. Dalam bahasa Kanton, “dim sum” secara harfiah berarti “menyentuh hati” atau “makanan kecil yang mengganjal perut”.
Dalam praktiknya, dimsum merujuk pada berbagai macam hidangan kecil yang biasanya disajikan dalam porsi kecil dan dimakan bersama teh dalam tradisi yum cha (minum teh). Hidangan ini bisa berupa makanan yang dikukus, digoreng, dipanggang, atau direbus.
Artinya, dimsum bukan satu jenis makanan tertentu. Ia adalah kelompok atau keluarga makanan.
Ragam Makanan dalam Keluarga Dimsum
Dalam tradisi kuliner Tiongkok, ada banyak sekali jenis dimsum. Beberapa yang cukup populer antara lain:
- Siu Mai (siomay)
- Har Gow (hakau)
- Baozi (bakpao)
- Wonton (pangsit)
- Chicken Feet (ceker ayam dimsum)
- Youtiao (cakwe)
- Jian Dui (onde-onde wijen)
Dari daftar tersebut terlihat jelas bahwa dimsum memiliki variasi yang sangat luas. Ada yang dikukus seperti siu mai dan hakau, ada yang digoreng seperti pangsit goreng atau cakwe, bahkan ada yang manis seperti onde-onde wijen.
Jadi jelas bahwa dimsum tidak identik dengan siomay saja.
Apa Itu Siomay?
Siomay sendiri berasal dari hidangan Tiongkok bernama siu mai. Makanan ini berupa pangsit terbuka yang biasanya berisi daging cincang, sering kali daging babi atau udang dalam versi aslinya.
Ketika masuk ke Indonesia, hidangan ini mengalami adaptasi budaya yang cukup besar. Versi lokal siomay sering dibuat dari ikan tenggiri dan disajikan bersama kentang, tahu, kol, dan telur, lalu disiram saus kacang. Versi ini dikenal luas sebagai siomay Bandung.
Namun dalam konteks kuliner Tiongkok, siu mai tetap merupakan satu jenis dimsum di antara banyak jenis lainnya.
Mengapa Istilahnya Sering Tertukar?
Kesalahan penyebutan ini kemungkinan muncul karena faktor pemasaran dan kebiasaan bahasa. Kata “dimsum” terdengar lebih umum dan dianggap lebih modern atau “internasional”. Akibatnya, banyak penjual menggunakan istilah tersebut untuk menyebut siomay, meskipun sebenarnya tidak tepat.
Fenomena ini bisa ditemukan di berbagai tempat. Misalnya di bazar makanan atau bahkan di minimarket, di mana tulisan “DIMSUM” terpampang besar, tetapi ketika dilihat lebih dekat, yang dijual hanyalah siomay.
Memang benar jika penjual berhak menamai usaha jualannya dengan nama apapun. Akan tetapi, etika bisnis juga tetap harus dijaga.
Pentingnya Edukasi Kuliner
Kesalahan istilah seperti ini sebenarnya bukan masalah besar, tetapi memahami istilah kuliner dengan benar bisa membantu kita lebih menghargai asal-usul budaya makanan.
Dimsum merupakan bagian penting dari tradisi kuliner Tiongkok yang telah berkembang selama ratusan tahun. Variasinya sangat banyak dan masing-masing memiliki sejarah serta teknik memasak yang berbeda.
Dengan memahami bahwa siomay hanyalah salah satu anggota keluarga dimsum, kita bisa lebih mengenal kekayaan kuliner ini secara lebih luas.
Jadi, lain kali ketika melihat tulisan “dimsum” di sebuah gerai makanan, ada baiknya kita melihat lebih dekat: apakah benar dimsum dengan berbagai pilihan, atau sebenarnya hanya siomay yang diberi nama lebih umum.
Karena pada akhirnya, memahami makanan juga berarti memahami budaya di baliknya.
Baca Juga
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Menyusuri Lorong Rindu dalam Antologi Puisi Bertemu di Temaram
-
Krisis 1998 dan Pentingnya Kepemimpinan di Masa Sulit
-
Rakyat Bukan Tim Sorak Kekuasaan, Pejabat Digaji Memang untuk Bekerja
-
Menemukan Pulang di Tengah Keramaian Jalan Margonda dalam Buku Zhitara
Artikel Terkait
Kolom
-
Tak Harus Daur Ulang, Merawat Barang Juga Bentuk Gaya Hidup Less Waste
-
Efek Domino Kenaikan BBM: Saat Stabilitas Negara Dibayar oleh Dapur Rumah Tangga
-
Piala Dunia 2026 dan Tantangan Menjaga Tempat Nobar agar Tetap Bersih
-
Kematian Ruang Diskursus: Mengembalikan Roh Penny University di Tengah Bisingnya Kafe Estetik
-
Demam Piala Dunia Dimulai: Dari Stadion ke Kebahagiaan Hidup yang Bermakna
Terkini
-
Sekilas Mirip Vario, Brusky 125 Jadi Skutik Pertama Kawasaki di Indonesia
-
Ji Sung Jadi Mantan Bos Geng di Drama Comedy-Thriller 'The Apartment Job'
-
Teach You A Lesson vs Study Group: Drakor Mana yang Paling Recommended?
-
Review Drama Filing For Love: Angkat Isu Fatherless yang Bikin Mewek
-
Review Drama Korea Your Honor: Ketika Keadilan Tak Lagi Hitam Putih