Jika saya bisa memutar kembali rekaman doa-doa saya sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, saya mungkin akan tersenyum malu, atau bahkan tertawa.
Dulu, di hadapan sajadah, daftar permintaan saya sangat spesifik, berwarna-warni, dan penuh dengan benda. Saya pernah merayu Tuhan demi sebuah boneka mainan, lalu beranjak meminta nilai ujian yang sempurna, hingga puncaknya, di usia awal dua puluhan, saya menjadi sangat "rewel" perihal jodoh dan karier yang mentereng.
Namun, seiring bertambahnya usia, saya menyadari sebuah perubahan yang sunyi. Kata-kata dalam doa saya mulai menyusut jumlahnya, namun bertambah berat maknanya.
Fenomena perubahan orientasi keinginan ini sebenarnya memiliki landasan psikologis yang kuat. Melansir dari Erikson’s Stages of Psychosocial Development, manusia bergerak dari tahap mencari identitas dan keintiman (masa muda) menuju tahap generativitas dan integritas (masa dewasa). Hal ini menjelaskan mengapa doa kita bertransformasi dari meminta "apa yang bisa saya miliki" menjadi "siapa saya di hadapan kenyataan".
Dulu, doa bagi saya adalah sebuah proposal proyek. Saya memberikan rincian teknis kepada Tuhan tentang bagaimana seharusnya hidup saya berjalan. Saya sering merasa kecewa jika "proposal" itu ditolak. Namun, hidup dengan segala hantamannya seperti kegagalan, kehilangan, dan keletihan, telah mendewasakan cara saya berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
Dalam sosiologi agama, kita mengenal istilah "Privatized Religion", di mana individu mulai mencari makna yang lebih dalam dan personal daripada sekadar mengikuti ritual formal. Hal ini tercermin dalam doa. Kini, saya tidak lagi terlalu berisik meminta hasil. Doa saya berubah menjadi permintaan akan "kekuatan untuk menerima hasil". Saya mulai jarang meminta agar beban saya diringankan, tapi lebih sering meminta agar bahu saya dikuatkan.
Ada sebuah kedamaian yang aneh ketika doa kita sampai pada titik: "Tuhan, beri saya ketenangan."
Ketenangan ternyata adalah kemewahan tertinggi yang baru saya sadari di usia dewasa. Saat muda, kita pikir kebahagiaan adalah mendapatkan apa yang kita inginkan. Kini, saya sadar bahwa kebahagiaan adalah perasaan cukup terhadap apa yang sudah ada. Doa saya yang dulu penuh dengan kata benda (harta, takhta, pasangan), kini lebih banyak diisi dengan kata sifat (sabar, ikhlas, tenang).
Ramadan menjadi saksi bisu evolusi ini. Jika dulu saya mengejar Lailatul Qadar agar keinginan duniawi saya dikabulkan, kini saya mencarinya agar hati saya bisa lebih stabil menghadapi dunia yang kian berisik. Saya belajar bahwa Tuhan tidak hanya mengabulkan doa, tapi terkadang Dia "mengubah" si pendoanya agar lebih siap menerima apa pun yang takdir gariskan.
Melihat kembali perjalanan doa saya, saya menyadari bahwa Tuhan sangat sabar mendengarkan ocehan masa kecil saya yang kekanak-kanakan hingga keluhan masa dewasa saya yang penuh beban. Doa yang berubah seiring usia bukanlah tanda bahwa kita kehilangan ambisi, melainkan tanda bahwa kita mulai mengenali mana yang benar-benar esensial dan mana yang hanya sekadar dekorasi hidup.
Kini, setiap kali saya menengadahkan tangan, permintaan saya sering kali hanya satu kalimat pendek yang diulang-ulang. Sebuah permintaan yang barangkali terdengar sederhana bagi diri saya yang masih kecil, namun terasa sangat megah bagi saya yang sekarang: "Tuhan, titipkanlah kedamaian di hati saya, apa pun yang terjadi besok pagi."
Ternyata, perjalanan spiritual terjauh bukan tentang seberapa banyak kita berkeliling dunia, tapi seberapa jauh doa kita bergerak dari ego menuju kepasrahan.
Sudahkah Anda mengecek kembali, apa isi doa Anda malam ini?
Baca Juga
-
Pesta Buah di Hutan Ceria
-
Kenali Boreout: Ketika Bosan di Kantor Lebih Menyiksa dari Beban Kerja
-
Ketika Jatuh Cinta Berubah Jadi Dilema: Menyelami Kepedihan 'I LIKE U' Karya NIKI
-
Mendengar 'Sambutlah' Denada: Saat Tren TikTok Bikin Lagu 90-an Candu Lagi
-
Heboh Wajah Anak Artis Bocor di Medsos: Salah Netizen atau Orang Tua yang Over-Sharenting?
Artikel Terkait
Kolom
-
Mencegah Kriminalisasi Kebijakan Tanpa Meloloskan Korupsi
-
Pemerintah Gemar Solusi Instan, Siapa yang Menyelesaikan Akar Masalah?
-
Sisi Gelap Tren Thrifting: Niat Kurangi Limbah, Malah Nimbun Baju Bekas
-
Sandiwara Mangrove Massal: Selamatkan Alam atau Cuma Formalitas Pejabat?
-
Internet Mati, Hidup Tiba-Tiba Lumpuh: Mengapa Aplikasi Kita Ringkih?
Terkini
-
Tecno Megabook K15S Resmi di Indonesia, Laptop Ryzen 5 dengan Baterai 70 Wh Seharga Rp8,5 Juta
-
Review The Mongoose: Ketika Veteran Tangguh Menghadapi Fitnah dan Maut!
-
Bingung Mulai Investasi? New BIONS by BNI Sekuritas Bikin Semua Jadi Mudah
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me