Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Tetapi juga menyimpan identitas, sejarah, dan cara pandang suatu masyarakat. Di Malang, Jawa Timur, ada satu bentuk bahasa unik yang menjadi kebanggaan sekaligus simbol keakraban warga Malang: Boso Walikan atau sering disebut juga Boso Kiwalan.
Sekilas terdengar seperti bahasa gaul anak muda biasanya. Padahal di balik gaya bahasanya yang santai, boso walikan menyimpan jejak perjuangan dan strategi perang kemerdekaan. Kalau mengunjungi Kota Malang, sempatkan naik bus Macito untuk menyimak sendiri sejarah dari bahasa walikan dalam city tour singkat 30 menit.
Mengenal Asal-usul Bahasa Walikan Malang: Saksi Abadi Perjuangan Kemerdekaan
Bahasa walikan lahir di masa-masa genting perjuangan melawan penjajah Belanda, sekitar tahun 1949. Meski telah merdeka, namun keadaan pasca masih rentan akan pembelotan. Saat itu, para pejuang dari Gerilya Rakyat Kota (GRK) yang dipimpin Mayor Hamid Roesdi menghadapi kesulitan besar: banyak mata-mata Belanda yang menyamar dan fasih berbahasa Jawa.
Untuk menjaga kerahasiaan strategi perang, salah seorang pejuang bernama Suyudi Raharno menggagas sebuah sistem bahasa baru. Bahasa yang tidak sekadar berupa kode, tetapi benar-benar membalik struktur kata agar sulit dimengerti pihak musuh.
Dari sinilah lahir apa yang kini dikenal sebagai boso walikan (bahasa terbalik). Kata Malang dibalik menjadi Ngalam, arek Malang menjadi kera ngalam, dan seterusnya. Dengan bahasa baru ini, para pejuang bisa berkomunikasi aman di garis demarkasi tanpa takut informasi bocor ke telinga Belanda.
Menariknya, kemampuan menggunakan bahasa walikan menjadi semacam “tanda keanggotaan tidak resmi” bagi pejuang Malang. Siapa pun yang tidak fasih menggunakannya dapat segera dicurigai sebagai mata-mata. Jadi, boso walikan bukan hanya bahasa, tetapi juga benteng identitas dan keamanan para pejuang.
Dari Kode Rahasia Jadi Bahasa Gaul
Seiring berakhirnya masa perang, bahasa ini tidak ikut mati. Justru sebaliknya, boso walikan berkembang menjadi bahasa pergaulan khas arek Malang. Anak muda, pedagang, hingga komunitas lokal menggunakannya untuk menunjukkan rasa bangga terhadap kota mereka.
Bahasa yang terdiri atas campuran antara bahasa Indonesia, Jawa, dan istilah lokal membuatnya semakin fleksibel dan hidup di tengah masyarakat. Kini, bahasa walikan bisa ditemui di berbagai tempat. Dari mural jalanan, papan nama warung, hingga media sosial.
Bahasa Walikan Malang: Santai tapi Penuh Aturan tak Tertulis
Meski telah menjadi bahasa gaul alias slang di kalangan warga Malang. Bahasa Walikan punya aturan yang gampang-gampang susah. Tak semua bahasa bisa dibalik, dan tak semua kata yang dibalik bisa disebut bahasa walikan. Ada kebiasaan dan lokalisasi yang menyertai terbentuknya bahasa walikan.
Misalnya, tulisan “Ongis Nade” yang sering terlihat di kaos atau dinding kota, merupakan kebalikan dari “Singo Edan”, julukan suporter Arema FC. Begitu juga kata “Nakam” (makan), “Kane” (enak), “Tamales” (selamat), atau “Oyi Sam” (iyo mas). Ini adalah bahasa walikan yang cukup ramah bagi turis lokal karena dibalik sesuai ejaan.
Atau juga yang diambil dari serapan bahasa Jawa Uklam (mlaku yang berarti jalan), Kodew(wedok yang berarti perempuan), Kipa(apik yang berarti jalan), Kèwut (tuwek yang berarti tua), dan masih banyak lagi. Di tingkatan ini, bahasa Jawa ditambah ejaan yang tak runtut ikut merasuk di Bahasa Walikan.
Namun, ada aturan tak tertulis dalam penggunaannya. Warga Malang sepakat untuk tidak membalik kata yang berkonotasi kasar atau tidak sopan, sebagai bentuk penghormatan terhadap norma kesopanan masyarakat Jawa. Selain itu, tidak semua kata bisa dibolak-balik seenaknya; bahasa ini memiliki “rasa” dan keluwesan tersendiri yang hanya bisa dikuasai lewat kebiasaan dan interaksi sosial.
Simbol Identitas dan Kebanggaan
Kini, boso walikan bukan sekadar warisan linguistik, tapi juga simbol persatuan dan kebanggaan arek Malang. Banyak perantau asal Malang yang tetap menggunakan bahasa ini di luar kota untuk menjaga rasa “pulang” di tengah rantau. Di beberapa komunitas budaya dan literasi, bahasa walikan bahkan diajarkan sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah lokal.
Dari kode rahasia pejuang menjadi bahasa gaul yang hidup hingga hari ini, boso walikan Malang membuktikan bahwa bahasa bisa menjadi bentuk perlawanan sekaligus warisan kebudayaan. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan bukan hanya diraih dengan senjata, tetapi juga dengan kreativitas, kecerdikan, dan semangat persaudaraan yang menular hingga lintas generasi.
Baca Juga
-
Dari Chromebook ke Proyek Strategis: Bisakah Hukum Berlaku Konsisten?
-
Peristiwa Kemerdekaan di Aceh: Menyibak Sejarah Kemerdekaan di Ujung RI
-
Di Balik Wangi Rempah Nusantara: Jejak Panjang Eksploitasi Manusia dan Alam
-
Vonis Chromebook: Titik Balik Penegakan Hukum atau Sekadar Kasus Besar?
-
Mengapa Sebagian Ibu Membenci Putrinya? Mengurai Luka Batin yang Diwariskan
Artikel Terkait
-
Setelah Gelar Pahlawan, Kisah Soeharto, Gus Dur, hingga Marsinah akan Dibukukan Pemerintah
-
Kapan Hari Ayah Nasional 2025? Ini Tanggal dan Sejarahnya, Jangan Sampai Kelupaan
-
Menguak Kisah The Sin Nio, Pejuang Kemerdekaan yang Nyaris Terlupakan
-
Ketua MPR: Tidak Ada Halangan bagi Soeharto untuk Dianugerahi Pemerintah Gelar Pahlawan Nasional
-
Marcella Zalianty Hidupkan Kembali Kisah Pahlawan Wanita Lewat Monoplay Melati Pertiwi
Ulasan
-
Review Film Minions & Monsters: Mendobrak Batasan Komedi Lewat Mantra Kuno
-
Cantik tapi Kelam: Merasakan Perihnya Luka Sejarah Lewat Kebaya Merah di Tebing Kanal
-
Single Mom Melawan Stigma Janda Lemah: Bagaimana Irene Mengubah Luka Menjadi Kekuatan?
-
Review Avatar: The Last Airbender Season 2: Berani Beda, tapi Apakah Lebih Baik dari Animasinya?
-
Peristiwa Kemerdekaan di Aceh: Menyibak Sejarah Kemerdekaan di Ujung RI
Terkini
-
Hustle Culture vs Slow Living: In This Economy, Mana yang Lebih Realistis?
-
LE SSERAFIM Susul BTS Kuasai Festival Musik Terbesar Las Vegas, Catat Tanggal Mainnya!
-
5 Pensil Alis Matic Praktis untuk Daily Makeup: Anti Ribet Tanpa Diserut!
-
Timothee Chalamet dan Selena Gomez Bintangi Film Animasi Not Alone
-
Tayang 8 Juli, Idol Training Camp Tampilkan 24 Peserta dari 4 Grup Berbeda