Di media sosial hari ini, kata patriarki sering diperlakukan seperti makian. Begitu pula dengan feminisme. Dua istilah yang sebenarnya lahir dari konsep sosial dan sejarah panjang itu kini lebih sering dipakai sebagai senjata debat dibanding bahan refleksi. Akibatnya, diskusi tentang relasi laki-laki dan perempuan berubah menjadi perang identitas yang melelahkan.
Padahal baik patriarki maupun feminisme pada dasarnya bukan istilah hitam-putih.
Patriarki secara sederhana adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pusat otoritas dalam banyak aspek kehidupan: keluarga, politik, ekonomi, hingga budaya. Dalam sejarah dunia, sistem seperti ini memang sangat dominan. Sementara feminisme lahir sebagai gerakan untuk memperjuangkan hak perempuan agar memperoleh kesempatan, perlindungan, dan posisi sosial yang lebih setara.
Masalah muncul ketika dua istilah itu tidak lagi dipahami sebagai konsep, melainkan sebagai identitas emosional.
Banyak orang mendengar kata “patriarki” lalu langsung membayangkan laki-laki jahat yang menindas perempuan. Sebaliknya, ada pula yang mendengar “feminisme” lalu langsung membayangkan perempuan pembenci laki-laki. Padahal realitas sosial jauh lebih rumit daripada sekadar pertarungan dua kubu.
Yang sering terlupakan adalah pemikiran apa pun bisa berubah toxic ketika dipenuhi rasa superioritas dan kebencian.
Patriarki yang sehat dalam pengertian tradisional tertentu misalnya bisa dipahami sebagai tanggung jawab laki-laki untuk melindungi, menafkahi, dan menjaga keluarganya. Banyak masyarakat masih memegang nilai ini tanpa otomatis membenci perempuan. Bahkan dalam banyak budaya Timur, figur ayah diposisikan sebagai pemimpin keluarga sekaligus pelayan bagi keluarganya sendiri.
Namun patriarki menjadi beracun ketika berubah menjadi alat kontrol. Ketika perempuan dianggap lebih rendah, tidak pantas bersuara, harus selalu tunduk, atau tidak berhak menentukan hidupnya sendiri. Di titik itu lahirlah misogini, yakni kebencian atau penghinaan terhadap perempuan.
Hal yang sama juga bisa terjadi pada feminisme.
Pada akar awalnya, feminisme memperjuangkan hak dasar perempuan: pendidikan, hak memilih, perlindungan hukum, kesempatan kerja, dan kebebasan dari kekerasan. Banyak capaian sosial modern lahir dari perjuangan panjang itu. Sulit dibantah bahwa tanpa gerakan perempuan, banyak hak yang hari ini dianggap biasa mungkin tidak pernah ada.
Tetapi feminisme juga bisa berubah ekstrem ketika seluruh laki-laki dipandang sebagai musuh struktural yang harus dilawan. Ketika relasi gender dibangun di atas kemarahan permanen, lahirlah misandri: kebencian terhadap laki-laki.
Inilah mengapa kebencian selalu menjadi titik berbahaya dalam setiap ideologi.
Orang yang terlalu tenggelam dalam patriarki toxic bisa menganggap perempuan selalu emosional, lemah, atau tidak layak memimpin. Sementara orang yang terjebak feminisme toxic bisa menganggap semua laki-laki predator, manipulatif, atau sumber utama kerusakan sosial.
Padahal kehidupan nyata tidak bekerja sesederhana itu.
Ada laki-laki yang menjadi korban kekerasan. Ada perempuan yang menjadi pelaku kekerasan. Ada ayah yang sangat bertanggung jawab. Ada ibu yang sangat otoriter. Ada perempuan hebat yang memperjuangkan kesetaraan tanpa membenci laki-laki. Ada pula laki-laki yang mendukung hak perempuan tanpa merasa harga dirinya terancam.
Sayangnya, media sosial justru memperkeruh keadaan. Algoritma lebih menyukai konten ekstrem dibanding percakapan sehat. Akibatnya, suara paling keras terlihat paling benar. Konten yang memancing emosi lebih cepat viral daripada diskusi yang tenang dan bernuansa.
Lama-lama publik dipaksa memilih kubu.
Kalau mengkritik patriarki dianggap anti laki-laki. Kalau mengkritik feminisme dianggap anti perempuan. Ruang tengah semakin sempit. Orang takut bicara hati-hati karena internet lebih suka kemarahan daripada kompleksitas.
Padahal masyarakat sehat justru membutuhkan keseimbangan.
Laki-laki dan perempuan bukan musuh alami. Keduanya hidup berdampingan, membangun keluarga, bekerja sama, saling membutuhkan, dan sama-sama punya potensi menjadi baik ataupun buruk. Yang perlu dilawan bukan jenis kelaminnya, melainkan perilaku tidak adilnya.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting ialah: apakah cara kita memahami kedua konsep itu membuat kita lebih bijak atau justru lebih penuh kebencian?
Sebab ketika sebuah pemikiran mulai membuat manusia kehilangan empati kepada kelompok lain, di situlah ide tersebut mulai berubah menjadi racun.
Dan sejarah selalu menunjukkan bahwa kebencian, apa pun bungkus ideologinya, jarang berakhir menghasilkan masyarakat yang sehat.
Baca Juga
-
Di Balik Kisah Fantasi Big Fish: Mengubah Cara Pandang Kita Pada Kematian
-
Membaca Petualangan Pedagang Rempah: Sisi Gelap Kolonial di Indonesia Timur
-
20 Episode Penuh Teror Mouse: Saat Monster Tak Selalu Berwajah Seram
-
Ketika Demokrasi Dipimpin Satu Komando: Nasib Politik Islam Tahun 1959-1965
-
Membaca Mata yang Enak Dipandang: Cermin Retak Masyarakat Kita yang Masih Sangat Relevan
Artikel Terkait
Kolom
-
Self-Love vs People Pleasing: Dilema Perempuan di Persimpangan Jati Diri
-
Paylater: Utangnya Tak Seberapa, Bunganya Bikin Boncos!
-
Mas Nadiem dan Chromebook: Niatnya Digitalisasi, Kok Berujung 18 Tahun Bui?
-
Perempuan dan Gerakan Zero Waste: dari Dapur Rumah ke Perubahan Lingkungan
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
Terkini
-
BTS, Madonna hingga Shakira Resmi Guncang Halftime Show Final Piala Dunia 2026
-
Ambil Peran Ganda, Lim Ji Yeon Berpeluang Bintangi Drakor Alike
-
Agensi Lee Yi Kyung Buka Suara soal Denda Pajak, Bantah Ada Penggelapan
-
5 Serum Niacinamide Tinggi untuk Kulit Wajah Lebih Cerah dan Sehat
-
Bikin Elus Dada, Ini Kenapa Min Jeong Woo Berubah Toxic di Perfect Crown