Kita sering mengira kehilangan paling menyakitkan adalah kematian. Padahal kenyataannya, yang lebih menyesakkan dada ialah saat seseorang masih hidup tapi nggak lagi mengenali kita. Itulah luka emosional dalam ‘Film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan’ yang sudah tayang di bioskop pada 13 Mei 2026 di bioskop.
Film ini diproduksi Rapi Films, Screenplay Films, serta Vortera Studios, dan disutradarai Kuntz Agus dengan naskah gubahan Alim Sudio.
Ceritanya sendiri menyoroti Kesha yang diperankan Yasmin Napper, mahasiswi film yang hidupnya perlahan berubah ketika sang ibu, Yuke (Lulu Tobing) mulai kehilangan ingatan akibat Alzheimer.
Premisnya memang sesimpel itu; hubungan ibu dan anak. Saking sederhananya, film ini terasa menampar banget deh. Karena hampir semua orang (penonton) punya ibu, pun memiliki rumah untuk pulang. Sayangnya, ‘sebagian orang’ mungkin terlalu sibuk sampai lupa orang tua juga bisa ‘hilang’ sewaktu-waktu, bahkan sebelum kematian datang.
Mengenai Alzheimer dalam ‘Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan’
Di dalam film ini, Alzheimer tuh bukan cuma lupa nama. Penyakit ini bak pencuri kecil yang masuk diam-diam ke kepala seseorang, lalu mencuri seluruh hidupnya satu per satu. Kenangan masa kecil anaknya hilang. Wajah orang tersayang perlahan terasa asing. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu hangat tiba-tiba lenyap begitu saja.
Film ini paham betul bagaimana cara membuat penonton merasa bersalah. Karena sepanjang nonton, aku bukan cuma melihat Kesha yang sedang berjuang mempertahankan ibunya. Aku juga seperti dipaksa mengingat semua momen kecil yang sering dianggap remeh dalam keluarga di ‘kehidupan nyata’. Bekal yang disiapkan ibu. Ocehan cerewet yang dulu rasanya ganggu. Ups.
Film ini terasa provokatif juga sih, karena secara nggak langsung menampar kebiasaan keluarga kita sendiri. Banyak anak tumbuh dengan keyakinan ‘ibu’ akan selalu kuat, ingat, dan siap jadi tempat pulang. Padahal orang tua juga manusia yang bisa rapuh, sakit, bahkan perlahan menghilang di depan mata kita sendiri.
Ketika Alzheimer mencuat dalam film ini, hubungan ibu-anak berubah total. Yang dulu dirawat, sekarang harus merawat. Yang dulu dipeluk ketika takut, sekarang harus belajar tegar saat ibunya sendiri kebingungan mengenali rumahnya. Posisi emosional itu jungkir balik. Menyakitkan. Melelahkan.
Kesha dalam film ini nggak digambarkan sebagai anak sempurna. Itu yang bikin emosinya terasa dekat. Dia tetap punya kebingungan, capek, takut, dan rasa marah yang manusiawi. Karena menjadi caregiver untuk orang tua dengan Alzheimer bukan kisah manis ala motivasi keluarga. Ini tentang kehilangan yang terjadi pelan-pelan setiap hari.
Nah, menurutku, masyarakat masih terlalu romantis memandang hubungan anak dan orang tua tanpa membicarakan sisi lelahnya.
Banyak anak merasa bersalah ketika capek merawat orang tua sakit. Padahal kelelahan emosional itu nyata. Film ini ibarat mau ngomong, cinta keluarga nggak selalu tampil megah.
Betewe, yang bikin film ini makin menghantam adalah bagaimana kenangan diposisikan sebagai sesuatu yang sangat mahal. Kita hidup di era semua hal direkam. Foto, video, voice note, story Instagram. Namun, ironisnya manusia era sekarang makin jarang hadir untuk keluarganya.
Kita sibuk mengarsipkan momen, tapi lupa merasakan momen itu sendiri. Makanya judul ‘Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan’ ibarat doa putus asa seorang anak yang takut kehilangan ibunya sedikit demi sedikit. Bukan kehilangan fisik, tapi kehilangan sosok yang selama ini menyimpan seluruh definisi rumah.
Nggak heran suasana jadi memeras tangisan penonton. Kesha relate banget dah. Dan itu wajar, karena film ini nggak menjual drama murahan.
Di tengah industri film yang kadang terlalu sibuk mengejar plot twist, film ini memilih memvisualisasikan luka yang sunyi. Luka yang mungkin sedang dialami banyak keluarga di luar sana.
Barangkali selepas nonton, sebagian orang bakal langsung pulang lalu memeluk ibunya lebih lama dari biasanya. Karena ternyata, kenangan bukan cuma soal mengingat masa lalu. Kenangan juga tentang siapa yang masih berusaha tinggal di kepala kita. Sedih banget, deh!
Coba deh Sobat Yoursay sempatkan nonton film ini. Jangan lupa bawa tisu kalau kamu tipe orang yang nggak kuat nonton adegan sedih. Selamat nonton ya.
Baca Juga
-
Aksi Domba Memecahkan Kasus Pembunuhan Dalam Film The Sheep Detectives
-
Film Semua Akan Baik-Baik Saja dan Lelahnya Jadi Dewasa yang Harus Kuat
-
Menilik Kukungan Mama Atas Nama Kasih Sayang Film Crocodile Tears
-
Remarkably Bright Creatures, Nggak Semua Luka Butuh Ditangisi
-
Review Film Ain: Saat Media Sosial Menjadi Ladang Hasad
Artikel Terkait
-
Ulasan Film Gohan: Sajikan Kisah Hidup Anjing Liar yang Menggetarkan Jiwa
-
Film Pesta Babi tentang Apa? Tuai Kontroversi hingga Pembubaran Acara Nobar
-
Review Off Campus: Tema Persahabatan dan Trauma yang Disajikan Elegan
-
Karakter Film The Legend of Zelda Terungkap Lebih Lengkap, Ada Hylian Retriever
-
Ulasan Film Son-In-Law: Kisah Menarik tentang Impian Jos yang Hancur Total
Ulasan
-
Ulasan Film Gohan: Sajikan Kisah Hidup Anjing Liar yang Menggetarkan Jiwa
-
Tayang Episode 5 dan 6, Gold Land Semakin Menampakkan Sisi Gelap Manusia
-
Aroma Karsa: Ketika Mitos dan Obsesi Berkelindan dalam Fantasi Nusantara
-
Review In the Grey: Perpaduan Strategi Militer dan Tipu Daya yang Brilian!
-
Miswan Tek Mina, Rahasia Kuah Segar di Balik Syahdunya Jambi Seberang
Terkini
-
KPop Demon Hunters Gelar Tur Dunia, Saksikan HUNTR/X di Dunia Nyata!
-
Perempuan dan Inner Critic: Saat Suara dalam Diri Malah Jadi Musuh Terbesar
-
Film Pesta Babi tentang Apa? Tuai Kontroversi hingga Pembubaran Acara Nobar
-
Sering Catokan? Ini 5 Vitamin Rambut Biar Nggak Kering dan Tetap Sehat!
-
Gulir Panas LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar: Memandang Wajah Indonesia dalam Satu Ruangan