Horor Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin berani keluar dari pakem lama. Ketakutan tidak lagi hanya bersumber dari hantu atau makhluk gaib, tetapi juga dari relasi keluarga yang timpang, trauma masa kecil, hingga konflik batin yang dipendam lama.
Lilim hadir di jalur ini, memadukan horor supranatural dengan drama psikologis dan isu spiritual. Hasilnya bukan horor yang langsung mengejutkan, melainkan pengalaman menonton yang pelan, dingin, dan mengganggu secara emosional.
Lilim berkisah tentang seorang anak perempuan yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kaku dan penuh tekanan. Kehidupannya berubah ketika peristiwa-peristiwa ganjil mulai terjadi, menghadirkan teror dalam sosok misterius bernama Lilim.
Entitas ini tidak hanya mengancam secara fisik, tetapi perlahan merusak kondisi mental para karakter. Film tidak buru-buru memberi penjelasan tentang siapa atau apa itu Lilim. Cerita dibiarkan mengalir bertahap, membuat penonton ikut terjebak dalam rasa ragu dan ketidakpastian.
Kekuatan utama Lilim terletak pada atmosfernya. Film ini jarang mengandalkan jump scare. Ketakutan dibangun melalui kesunyian, ruang gelap, dan ekspresi karakter yang menyimpan rasa bersalah serta ketakutan. Rumah yang menjadi latar utama tidak sekadar berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang yang menyimpan memori kelam. Pergerakan kamera yang lambat seolah memaksa penonton memperhatikan detail kecil yang terasa tidak beres.
Secara naratif, Lilim bermain di wilayah abu-abu antara teror gaib dan trauma psikologis. Sosok Lilim jarang tampil secara jelas, namun kehadirannya terasa melalui mimpi buruk, perubahan perilaku, dan konflik batin. Pendekatan ini membuat film terasa lebih intim, meski berisiko membingungkan bagi penonton yang terbiasa dengan horor konvensional yang serba eksplisit.
Akting para pemain menjadi salah satu nilai kuat film ini. Pemeran anak mampu menampilkan ketakutan dan kebingungan dengan cara yang terasa jujur dan tidak berlebihan. Emosi yang ditampilkan terasa mentah, memperkuat kesan bahwa teror tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari lingkungan yang tidak aman. Karakter orang dewasa digambarkan kompleks, bukan antagonis mutlak, melainkan manusia dengan kekurangan dan penyesalan.
Menariknya, Lilim tidak hanya berbicara soal rasa takut, tetapi juga tentang dosa, iman, dan cara manusia memaknai agama. Film ini menyiratkan kritik halus terhadap praktik moralitas yang dijalankan tanpa empati.
Dalam beberapa momen, horor justru lahir dari sikap dingin dan keras, bukan dari sosok gaib itu sendiri. Di sinilah film terasa relevan dengan realitas sosial, terutama dalam konteks keluarga.
Namun, Lilim bukan tanpa kelemahan. Pacing di bagian tengah terasa terlalu lambat, dengan pengulangan suasana yang minim perkembangan konflik.
Beberapa simbol dan dialog terlalu samar, sehingga pesan tidak selalu tersampaikan dengan jelas. Klimaks film juga cenderung aman. Alih-alih ledakan emosional atau twist besar, film memilih penyelesaian simbolis yang terbuka. Pilihan ini konsisten dengan pendekatannya, tetapi terasa kurang menghantam.
Dari sisi teknis, tata suara dan musik latar digunakan dengan efektif. Keheningan panjang dan bunyi-bunyi kecil justru lebih mencekam daripada musik keras. Sinematografi konsisten menjaga nuansa muram, meski tidak menawarkan variasi visual yang menonjol.
Secara keseluruhan, Lilim adalah film horor Indonesia yang mengandalkan suasana dan makna. Ia mungkin tidak memuaskan penonton pencari horor cepat, tetapi menarik bagi mereka yang menyukai cerita berlapis dan reflektif. Lilim mengingatkan bahwa kegelapan paling mengganggu sering kali tumbuh dari luka, keheningan, dan masalah yang dibiarkan terlalu lama.
Baca Juga
Artikel Terkait
Ulasan
-
Belajar Authenticity dari Prilly Latuconsina Lewat Buku Retak, Luruh, dan Kembali Utuh
-
Ulasan Drama Korea Tempest: Kisah Kang Do Woon dan Jun Ji Hyun Melawan Teror Politik
-
Ulasan Film Your Letter: Petualangan Penuh Makna Lewat Sebuah Surat
-
Review Film Modual Nekad: Suguhkan Komedi Aksi yang Lebih Gila dan Kocak!
-
Ulasan Buku Tuhan, Beri Aku Alasan untuk Tidak Menyerah: Kamu Tidak Sendiri
Terkini
-
4 Cleansing Water Brand Korea Tea Tree Ampuh Hapus Makeup dan Lawan Jerawat
-
Selepas Maghrib, Ada Anak Kecil yang Memanggilku dari Arah Kuburan Tua
-
CERPEN: Tombol Lift ke Lantai Tiga
-
5 Inspirasi OOTD Pakai Boots ala Blue Pongtiwat, Tampil Trendi tanpa Ribet!
-
Trailer Senin Harga Naik Suguhkan Konflik Ibu dan Anak, Tayang Lebaran 2026