Bagi Satria, kejujuran adalah mata uang paling langka di dunia. Sebagai seorang humas di perusahaan ternama, ia terbiasa hidup di antara senyum palsu dan jabat tangan yang penuh agenda. Semua hal memiliki sisi tersembunyi yang terkadang terlalu menjijikkan untuk diketahui. Karena itu, ia hampir tidak percaya pada perkataan siapa pun.
Sampai suatu hari, ia menemukan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam tanpa judul di sebuah bangku taman. Buku itu tidak memiliki nama pemilik. Menganggapnya sebagai benda buangan, ia mengambilnya tanpa pikir panjang. Namun, ada perasaan aneh yang menyertainya.
Perasaan itu terbukti benar. Setiap kali Satria berada di dekat seseorang, halaman-halaman kosong di dalamnya akan terisi secara otomatis oleh tulisan tangan yang miring dan tajam. Tulisan itu bukan berisi jadwal atau catatan harian, melainkan suara pikiran orang-orang di sekitarnya. Ia terkejut.
Rasa kagetnya tidak berlangsung lama, selanjutnya Satria justru merasa seperti memiliki kekuatan super. Di kantor, saat bosnya memberikan pujian selangit atas presentasinya, Satria melirik buku yang terbuka di pangkuannya.
"Anak muda ini terlalu ambisius. Begitu dia lengah, aku akan membuangnya ke divisi cabang."
Satria tersenyum pahit. Ia berhasil mengantisipasi serangan bosnya dengan memuji balik secara berlebihan, menyatakan bahwa bosnyalah yang paling berkontribusi. Hal itu membuat bosnya merasa tersentuh dan urung membuangnya.
Berkat buku itu, ia merasa aman. Ia merasa menjadi satu-satunya orang yang memegang kunci kebenaran di tengah lautan dusta. Namun, seperti semua hal yang bersifat gaib, buku itu mulai menuntut harga yang tidak sanggup Satria bayar, sebuah ketenangan batin.
Masalah sebenarnya dimulai ketika Satria membawa buku itu pulang. Ia selalu menganggap pernikahannya dengan Sarah sebagai pelabuhan paling damai. Sarah adalah wanita yang lembut, selalu menyiapkan kopi dengan takaran gula yang pas, dan menyambutnya dengan pelukan hangat setiap sore. Sempurna.
Suatu malam, saat mereka sedang makan malam dalam keheningan yang nyaman, Satria meletakkan buku itu di samping piringnya. Sarah sedang tersenyum, menceritakan tentang tanaman hias barunya.
Namun, di bawah cahaya lampu ruang makan yang temaram, tinta hitam mulai merayap di atas kertas. Satria membacanya dengan jantung berdebar. Awalnya, ia tidak ingin melihat, namun rasa penasaran memakan hatinya. Perasaan itu tak tertahankan.
"Aku benci cara dia mengunyah. Suaranya seperti babi yang kelaparan. Setiap hari aku harus berpura-pura mencintainya hanya karena aku tidak punya tempat lain untuk pergi."
Satria tersedak. Ia menatap Sarah. Istrinya masih tersenyum manis, jemarinya yang lentik menyentuh punggung tangan Satria. "Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Sarah lembut.
"Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang bau keringat. Aku ingin muntah melihat wajahmu yang seperti minyak di penggorengan."
Satria menarik tangannya dengan kasar. Wajahnya pucat pasi. Ia lari ke kamar mandi dan mengunci diri. Di depan cermin, ia bertanya-tanya. Apa ini nyata? Senyum hangat Sarah di luar, atau kebencian pekat yang tertulis di dalam buku itu? Sejak malam itu, setiap ciuman terasa seperti racun dan setiap kata sayang terdengar seperti ejekan. Satria menjadi paranoid.
Ia mulai membawa buku itu ke mana-mana. Ia membacanya di kereta bawah tanah, di lift, bahkan saat sedang mengobrol dengan orang tuanya. Ia semakin melihat kebencian di mana-mana. Ia melihat betapa ibunya merasa terbebani oleh kehadirannya, dan betapa sahabatnya sebenarnya merasa iri dengan kesuksesannya. Ia merasa gundah.
Dunia Satria runtuh. Ia berhenti bicara pada orang-orang karena merasa tahu apa yang mereka pikirkan. Ia mengurung diri di kamar, hanya ditemani oleh buku kulit hitam itu. Namun, buku itu belum selesai dengannya.
Pada malam ketujuh, saat Satria duduk sendirian di kegelapan kamarnya, buku itu terbuka dengan sendirinya di bawah sinar bulan. Tidak ada orang lain di ruangan itu. Harusnya buku itu kosong.
Namun, tinta mulai muncul, bukan berwarna hitam, melainkan perlahan-lahan menjadi merah. Sampai akhirnya, seolah-olah kertas itu berdarah. Tulisan kali ini sangat besar, memenuhi seluruh halaman. Satria mendekat dengan gemetar. Tulisan itu bukan lagi tentang pikiran orang lain. Seram.
"Kau pikir kau ingin tahu kebenaran? Kau hanyalah seorang pengecut yang mencari alasan untuk membenci dirimu sendiri."
Satria terkesiap. "Siapa itu?" bisiknya pada kehampaan.
Halaman berikutnya membalik dengan suara brak yang keras. "Ini adalah pikiran dari satu-satunya orang yang tersisa di ruangan ini. Ini adalah pikiranmu, Satria."
Satria menggelengkan kepala. "Tidak, itu tidak mungkin!"
Tulisan itu terus berlanjut, semakin cepat dan tajam. "Kau membenci Sarah karena kau tahu kau tidak layak untuknya. Kau membenci bosmu karena kau tahu kau sama liciknya dengan dia. Kau menggunakan buku ini sebagai cermin untuk melihat betapa busuknya jiwamu sendiri. Lihatlah lebih dekat."
Satria mencoba menutup buku itu dengan sekuat tenaga, tapi tiba-tiba jari-jarinya kaku. Ia dipaksa membaca kalimat terakhir di halaman paling belakang.
"Kebenaran terakhir. Tidak ada orang yang benar-benar membencimu, Satria. Semua tulisan yang kau baca sejak hari pertama adalah apa yang kau takutkan tentang dirimu sendiri. Aku bukan membaca pikiran mereka. Aku membaca monster di dalam kepalamu yang kau beri makan setiap hari."
Satria menjerit, mencoba merobek naskah terkutuk itu, namun kertasnya terasa sekeras baja. Tiba-tiba, tinta merah dari buku itu meluap keluar, merayap ke pergelangan tangannya, membelit lehernya seperti jerat yang dingin.
Cairan itu mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya, mengubah warna darahnya menjadi hitam pekat. Suara-suara di kepalanya seolah menjadi ribuan cacian dan makian yang selama ini ia baca. Semuanya kini berteriak serentak, menciptakan simfoni kegilaan yang memekakkan telinga.
Keesokan paginya, Sarah menemukan Satria duduk tegak di kursi kerjanya. Matanya terbuka lebar, namun bola matanya telah berubah menjadi hitam legam, menyerupai genangan tinta. Satria tidak bergerak, tidak bernapas, dan kulitnya terasa sekaku sampul buku.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Hoki Melimpah! 5 Tanaman Wajib saat Imlek
-
Autentisitas dan Anti-Mainstream sebagai Mata Uang di Ekonomi Platform
-
5 Film China Sambut Libur Imlek 2026, Ada Unexpected Family
-
Makanan Organik: Tren Sehat dan Masalah Ketimpangan Akses
-
Saat Galaksi dan Bintang Membentuk Akal Sehat dalam The Demon-Haunted World