Dari judulnya saja, Belok Kiri Langsing sudah memberi isyarat kuat bahwa novel ini akan berbicara soal tubuh. Bukan sekadar tubuh sebagai angka di timbangan, melainkan tubuh sebagai pengalaman hidup, luka, perjuangan, dan cara seseorang memaknai dirinya sendiri.
Tokoh utamanya, Gendis Utami, digambarkan memiliki berat badan 106 kilogram dengan tinggi 167 cm. Angka yang dalam standar sosial kita sering langsung diberi label: “bermasalah”. Dan benar saja, di sanalah konflik utama novel ini bermula.
Isi Novel
Gendis diputuskan oleh Herman, pacarnya selama lima tahun. Hubungan mereka bukan main-main. Sudah patungan DP rumah, sudah merancang masa depan. Namun semua runtuh dengan satu alasan klise sekaligus menyakitkan: Gendis kegemukan.
Herman berdalih soal kesehatan, ancaman obesitas, bahkan membungkus keputusannya dengan narasi “hijrah”. Alasan yang terdengar mulia, tapi terasa kosong ketika di saat bersamaan ia ternyata sudah menemukan perempuan lain yang dianggap lebih “sesuai kriteria”.
Di titik ini, Belok Kiri Langsing menampar pembaca dengan realitas pahit: betapa tubuh perempuan sering dijadikan alasan sah untuk meninggalkan, menilai, bahkan menghakimi. Namun novel ini tidak berhenti pada ratapan. Justru di sanalah perjalanan Gendis dimulai. Perjalanan untuk berdamai dengan tubuhnya, bukan demi diterima orang lain, melainkan demi dirinya sendiri.
Menariknya, novel ini tidak mempromosikan langsing sebagai tujuan utama. Pesan yang terasa justru tentang menjaga tubuh sebagai amanah. Mbak Achi TM, sang penulis, menyampaikan isu ini dengan cara yang halus dan nyaman.
Gendis belajar mengatur pola makan, berolahraga, memaafkan diri sendiri, mendekatkan diri pada Sang Pencipta, dan membuka hatinya perlahan. Tidak instan, tidak ajaib, penuh jatuh bangun. Dan justru di situlah letak kekuatannya.
Dari sisi karakter, perbandingan antara Herman dan Dimas menjadi cermin penting tentang cinta yang dewasa. Herman adalah tipe pasangan yang menuntut perubahan tanpa mau menemani proses. Ia ingin Gendis sehat, langsing, ideal. Tapi tak pernah benar-benar hadir dalam usaha itu.
Sebaliknya, Dimas hadir sebagai antitesis. Ia menemani, mengingatkan, mencari jalan bersama. Ketika Gendis hampir menyerah dengan diet dan olahraga, Dimas tetap datang, lagi dan lagi. Cinta, dalam novel ini, didefinisikan sebagai kesediaan untuk repot bersama, bukan sekadar menunggu hasil akhirnya.
Kelebihan dan Kekurangan Novel
Memang, karakter Dimas nyaris terlalu sempurna. Ganteng, baik, sukses, religius, sehingga terasa too good to be true. Namun nuansa metropop yang ringan membuat hal itu masih bisa diterima. Apalagi novel ini juga dibalut nuansa islami yang cukup kental. Soal hijrah, menjaga ukhuwah, hingga pandangan tentang hubungan yang lebih halal. Ada humor, ada sindiran, ada pelajaran tanpa kesan menggurui.
Secara alur, ceritanya memang cukup mudah ditebak. Namun kekuatan Belok Kiri Langsing bukan pada kejutan, melainkan pada kedekatan emosional. Pembaca diajak merasakan menjadi Gendis.
Rasa malu, marah, lapar, patah hati, hingga harapan baru. Novel ini juga menyelipkan pesan penting: jangan melakukan body shaming, karena luka yang kita lempar bisa suatu hari berbalik ke diri sendiri.
Pada akhirnya, Belok Kiri Langsing bukan sekadar cerita diet atau romansa. Itu adalah kisah tentang berbelok, dari luka lama menuju tujuan hidup yang lebih sehat, utuh, dan penuh kasih pada diri sendiri. Manis, reflektif, dan relevan. Sangat layak dibaca, terutama bagi siapa pun yang pernah merasa tubuhnya tidak pernah cukup.
Identitas Buku
- Judul: Belok Kiri Langsing
- Penulis: Achi TM
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Tahun Terbit: April 2020
- ISBN: 978-602-06-4071-6
- Tebal: 336 Halaman
- Kategori: Young Adult, MetroPop
Baca Juga
-
Ilusi Gaji UMR: Terlihat Besar di Atas Kertas, Hilang Begitu Saja Sebelum Akhir Bulan
-
Membaca Realitas Cinta Dengan Titik: Ketika Perasaan Tak Pernah Sederhana
-
Warga Sibuk Memilah Sampah, di TPA Berbaur Jadi Satu
-
Efek Domino Plastik yang Menyentuh Semua Sektor, Pertanian Juga Kena lho!
-
Harga Plastik Melonjak: Saatnya Konsumen Berperan, Bukan Sekadar Mengeluh
Artikel Terkait
Ulasan
-
Mencintai yang Berbeda: Mengapa Novel 'Kisah Seekor Camar dan Kucing' Wajib Anda Baca
-
Review Bloodhounds Season 2: Bromance Brutal Is Back, Udah Siap Liat Rain Jadi Villain?
-
Besok Sisa Sengsara? Udah, Rayakan Hari Ini Aja Bareng Lagu "Kita ke Sana" dari Hindia
-
Menaklukkan Gunung Malabar: Dari Sabana Indah hingga Tanjakan Mematikan
-
Membaca Realitas Cinta Dengan Titik: Ketika Perasaan Tak Pernah Sederhana
Terkini
-
Liturgi dari Rahim Silikon
-
Ilusi Gaji UMR: Terlihat Besar di Atas Kertas, Hilang Begitu Saja Sebelum Akhir Bulan
-
Cerita Perantau di Batam: Gagal Makan Ayam Penyet, Ujung-ujungnya Mi Ayam Jadi Penyelamat
-
Pemanasan Sebelum Coachella! Pinky Up ala Katseye Bikin Hook-nya Nempel Terus di Kepala
-
Bertahan dengan Gaji UMR: Seni Agar Tidak Jatuh Miskin, Tapi Juga Tidak Pernah Kaya