Kalau kamu suka buku-buku dengan diksi yang romantis ala Roman Picisan, mungkin buku ini akan cocok untukmu. Origami Hati karya Boy Candra adalah novel romansa yang mengangkat tema perasaan yang rapuh; patah hati, pengkhianatan, dan kebingungan saat cinta lama belum selesai, tetapi harapan baru sudah mengetuk.
Seperti karya-karya Boy Candra lainnya, novel ini menyasar emosi pembaca lewat bahasa yang puitis, reflektif, dan dekat dengan keseharian, terutama pengalaman cinta remaja dan dewasa muda.
Sinopsis Novel
Tokoh utama novel ini adalah Aruna (atau Runa), seorang perempuan yang harus menghadapi kenyataan pahit. Haga, lelaki yang ia percaya, telah mengkhianatinya. Rasa marah, benci, kecewa, dan sesal bercampur menjadi satu. Dalam kondisi emosional yang tidak stabil, Runa memilih cara unik untuk menyimpan dan merawat lukanya.
Ia menuliskan perasaannya di kertas origami, melipatnya menjadi bentuk hati, lalu menyimpannya dalam botol. Origami hati ini berfungsi sebagai jurnal emosional, tempat Runa “mengabadikan” rasa sakit agar tidak meledak, meski ia sadar kenangan itu bisa kembali kapan saja, bahkan ketika ia belum siap.
Di tengah upaya menyembuhkan diri, hadir Bagas, lelaki baru yang membawa ketenangan. Bagas digambarkan sebagai sosok penyuka senja, alam, dan perjalanan kecil yang sederhana. Bersamanya, Runa menemukan rasa bebas yang tidak ia dapatkan sebelumnya.
Namun, konflik utama novel ini tidak berhenti pada patah hati dan jatuh cinta baru. Haga kembali hadir tepat saat Runa mulai membuka hati. Di sinilah Origami Hati bermain pada dilema klasik: masa lalu yang belum tuntas versus masa depan yang menjanjikan.
Kelebihan Novel Origami Hati
Secara ide, kisah cinta segitiga dan cinta diam-diam bukanlah sesuatu yang baru. Konflik yang dihadirkan pun relatif ringan dan mudah ditebak. Namun, kekuatan novel ini terletak pada pengolahan rasa.
Kutipan seperti, “Bodoh memang kalau aku harus memikirkan kamu. Tapi kalau tak bodoh, bukan cinta namanya,” menjadi representasi utama pesan novel ini. Cinta sering kali tidak logis, tetapi justru di sanalah manusia merasa hidup.
Dari sisi bahasa, gaya Boy Candra tetap khas: romantis, bernuansa senja, dan penuh kalimat reflektif. Bagi pembaca remaja, gaya ini sangat berpotensi membangkitkan rasa baper dan empati.
Meskipun bagi sebagian pembaca dewasa bahasa yang cenderung menye-menye serta tidak konsisten antara baku dan tidak baku bisa terasa kurang nyaman, narasinya tetap mengalir, mudah dipahami, dan cukup kuat untuk membuat pembaca bertahan hingga akhir. Salah satu aspek yang cukup menarik adalah latar kehidupan kampus, khususnya aktivitas organisasi seperti sekretariat dan redaksi kampus. Bagian ini terasa hidup dan memberi warna pada cerita sehingga tidak melulu berkutat pada romansa.
Kekurangan Novel Origami Hati
Sayangnya, simbol utama novel berupa origami hati justru terasa kurang dieksplorasi. Meski menjadi judul dan ikon cerita, fungsinya lebih sering sebagai tempat curhat daripada elemen simbolik yang berdampak besar pada alur atau resolusi konflik.
Meski memiliki beberapa kekurangan, Origami Hati tetap menyimpan pesan yang kuat: cinta adalah tentang membiarkan seseorang menjadi dirinya sendiri, menghargai perasaan yang memilih kita, dan belajar untuk tidak menyesal karena mengabaikan hal-hal sederhana.
Novel ini tidak menawarkan kedalaman filosofis yang rumit, tetapi justru itulah daya tariknya. Ia hadir sebagai bacaan ringan, menghibur, dan relevan bagi pembaca yang ingin berdamai dengan luka cinta. Pada akhirnya, Origami Hati bukan hanya tentang siapa yang dipilih Runa, melainkan tentang proses mengenali diri dan memahami bahwa cinta—sebodoh apa pun tindakan kita saat merasakannya—adalah bagian paling manusiawi dari hidup.
Identitas Buku
- Judul Buku: Origami Hati
- Penulis: Boy Candra
- Penerbit: MediaKita
- Tahun Terbit: 2017
- ISBN: 978-979-794-534-3
- Tebal: 296 Halaman
- Genre: Fiksi Remaja
Baca Juga
-
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
-
Ulasan Buku The Magic of Thinking Big: Motivasi yang Tak Lekang oleh Zaman
-
Ulasan Novel Earthshine: Beban Skripsi, Luka Mental, dan Dilema Hubungan
-
Mengapa Pelaku Pelecehan Selalu Merasa Aman, dan Korban Selalu Disalahkan?
-
CERPEN: Ibuku Kehilangan Anaknya Tiga Kali
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Earthshine: Beban Skripsi, Luka Mental, dan Dilema Hubungan
-
Analisis Cerpen Robohnya Surau Kami: Kritik A.A. Navis tentang Ibadah Tanpa Amal
-
Merayakan Hidup Orang Biasa dalam Novel Kios Pasar Sore
-
Merawat Luka Keluarga dalam Novel 7 Our Family Karya Kusdina Ain
-
CERPEN: Sketsa di Halaman 127
Ulasan
-
Memahami Manusia Lewat Biologi di Buku Behave karya Robert Sapolsky
-
Ulasan Buku The Magic of Thinking Big: Motivasi yang Tak Lekang oleh Zaman
-
Ulasan Buku Zona Produktif Ibu Rumah Tangga: Berdaya Meski di Rumah Saja
-
Ulasan Buku I Do: Kiat Memutus Luka Batin Warisan Leluhur dalam Pernikahan
-
Review Film In Your Dreams: Imajinasi Netflix yang Penuh Keajaiban
Terkini
-
4 Moisturizer Gel Rawat Kulit Berminyak Ampuh Redakan Kemerahan dan Jerawat
-
Memulihkan Jalan, Menyelamatkan Nyawa: Respons Infrastruktur Pascabencana di Aceh
-
4 Peeling Gel Salicylic Acid untuk Eksfoliasi dan Atasi Bruntusan di Wajah
-
Jembatan Krueng Meureundu Tersambung, Konektivitas Timur Aceh Mulai Pulih
-
4 Ide Outfit Rok ala Bae Suzy, Feminin Banget!