Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Her Name Is (Dok.Pribadi/Oktavia)
Oktavia Ningrum

Setelah sukses mengguncang dunia buku lewat Kim Ji-young, Born 1982, penulis Korea Selatan Cho Nam-joo kembali menghadirkan karya yang tak kalah menyentuh berjudul Her Name Is....

Berbeda dari novel sebelumnya yang fokus pada satu tokoh, buku ini hadir dalam bentuk kumpulan 27 kisah perempuan dengan berbagai usia, latar belakang, dan persoalan hidup.

Membacanya terasa seperti menyimak potongan-potongan diary yang jujur, sunyi, tetapi sangat dekat dengan realita kehidupan perempuan modern. Buku ini diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Bhuana Sastra pada tahun 2021 dan diterjemahkan oleh Primastuti Dewi.

Isi Buku

Buku setebal sekitar 200 halaman ini membawa pembaca melihat bagaimana perempuan Korea Selatan hidup di bawah budaya patriarki yang masih kuat melekat dalam masyarakat.

Yang membuat buku ini menarik adalah semua cerita di dalamnya terinspirasi dari kisah nyata hasil wawancara Cho Nam-joo dengan banyak perempuan. Ada cerita tentang anak SD yang sudah memahami isu pelecehan seksual, perempuan hamil yang dipersulit saat mengambil cuti kerja, istri yang ingin bercerai tetapi dianggap egois, hingga nenek-nenek tua yang masih berjuang demi anak dan cucunya. Setiap cerita terasa sederhana, tetapi diam-diam menyimpan luka yang besar.

Salah satu kisah yang paling membekas bagi saya adalah cerita tentang seorang perempuan yang ingin bercerai dan harus memberi nasihat kepada adiknya yang akan menikah. Dari sudut pandang itu, pembaca diajak melihat bahwa pernikahan tidak selalu menjadi akhir bahagia seperti yang sering dibayangkan masyarakat.

Banyak perempuan justru kehilangan dirinya sendiri setelah menikah karena dituntut menjadi istri sempurna, menantu sempurna, dan ibu sempurna dalam waktu bersamaan.

Tekanan seperti ini terasa sangat relevan, bukan hanya di Korea Selatan, tetapi juga di banyak budaya Asia lainnya. Perempuan sering kali dibebani standar hidup yang dibuat orang lain. Mulai dari tuntutan “umur segini harusnya sudah menikah”, “istri harus bisa memasak”, sampai anggapan bahwa perempuan wajib punya anak agar dianggap sempurna. Ironisnya, jika perempuan memilih jalan berbeda, mereka dianggap gagal atau egois.

Cho Nam-joo membahas semua itu dengan cara yang tenang tetapi menohok. Ia tidak berteriak atau menggurui pembaca tentang feminisme. Justru lewat kisah-kisah sederhana inilah kritik sosial terasa jauh lebih kuat. Pembaca dibuat sadar bahwa banyak ketidakadilan terhadap perempuan sudah dianggap normal oleh masyarakat.

Kelebihan dan Kekurangan

Ada satu hal menarik yang saya tangkap dari buku ini: feminisme di sini bukan tentang membenci laki-laki atau menjadikan perempuan “lebih tinggi”. Buku ini justru berbicara tentang tanggung jawab, rasa hormat, dan hak setiap manusia untuk menentukan hidupnya sendiri.

Perempuan boleh memilih menikah atau tidak, punya anak atau tidak, bekerja di kantor atau menjadi ibu rumah tangga. Pilihan itu seharusnya tidak membuat identitas mereka hilang sebagai individu.

Kalimat semacam itulah yang membuat Her Name Is... terasa hangat sekaligus menyakitkan. Karena sering kali perempuan tidak lagi dipanggil dengan namanya sendiri, melainkan hanya dikenal sebagai “istri seseorang”, “ibu seseorang”, atau “menantu seseorang”.

Banyak cerita di dalamnya berakhir menggantung tanpa solusi yang jelas. Kadang setelah menyelesaikan satu kisah, saya hanya bisa bengong karena merasa ada “plot kosong” yang belum selesai. Namun mungkin memang itulah poinnya.

Pesan Moral

Dalam kehidupan nyata, tidak semua masalah memiliki penyelesaian dramatis seperti di film atau novel. Banyak perempuan yang terus hidup sambil membawa luka dan tekanan yang tak pernah benar-benar selesai.

Selain itu, terjemahan buku ini di beberapa bagian terasa kurang mulus sehingga ada kalimat yang perlu dibaca ulang agar maknanya benar-benar tersampaikan. Meski demikian, pesan emosional dari setiap cerita tetap terasa kuat.

Bagian paling menyentuh bagi saya justru datang dari kisah para nenek yang masih bekerja keras di usia senja. Tubuh mereka mungkin mulai rapuh, tetapi semangat mereka tetap menyala demi keluarga. Kisah-kisah seperti ini membuat buku terasa sangat manusiawi dan penuh empati.

Buku ini adalah cermin tentang bagaimana masyarakat sering memaksa seseorang hidup sesuai standar tertentu. Dan lewat kisah-kisah sederhana itu, Cho Nam-joo mengingatkan bahwa setiap perempuan berhak tetap menjadi dirinya sendiri, apa pun pilihan hidupnya.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Her Name Is...
  • Penulis: Cho Nam Joo
  • Penerjemah: Primastuti Dewi
  • Penerbit: Penerbit Bhuana Sastra 
  • Tahun Terbit: 2021
  • Tebal: 204 halaman
  • ISBN: 9786230403477
  • Kategori: Antologi Cerpen, Perempuan