Perempuan dan Anak-Anaknya merupakan sebuah kumpulan cerita pendek yang menghadirkan suara beragam penulis lintas generasi dan latar belakang: Gerson Poyk, Umar Kayam, Satyagraha Hoerip, Ki Panjikusmin, Martin Aleida, Sosiawan Nugroho, Zulidahlan, Usamah, H.G. Ugati, dan Mohammad Sjoekoer.
Novel ini berisi kumpulan cerpen Perempuan dan Anak-Anaknya menghimpun dua belas karya prosa terbitan 1966–1970 yang merekam trauma, rasa bersalah, dan kekerasan pasca peristiwa 30 September 1965 melalui sudut pandang manusia biasa.
Melalui kisah-kisah yang terbit di majalah Horison dan Sastra, para penulis menampilkan tokoh-tokoh yang hidup dalam bayang-bayang kekerasan, rasa bersalah, dan trauma akibat penyiksaan serta kematian orang-orang terdekat, menggambarkan periode kelam sejarah bangsa dengan jujur dan getir.
Setiap cerita berdiri sendiri, tetapi memiliki benang merah berupa pergulatan hidup yang realistis dan sering kali getir.
Tidak semua cerita menampilkan tragedi besar; sebagian justru menyoroti kekerasan kecil yang dianggap wajar seperti pengabaian, pembungkaman, dan ketidakadilan yang diterima sebagai takdir.
Lewat sudut pandang yang berbeda-beda, buku ini mengajak pembaca menyadari bahwa pengalaman perempuan dan anak-anak bukan sekadar isu domestik, melainkan cerminan struktur sosial yang lebih luas.
Karena ditulis oleh banyak penulis, gaya bahasa dalam buku ini sangat beragam. Ada cerpen dengan bahasa lugas dan realistis, khas Umar Kayam, yang terasa membumi dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada pula gaya yang lebih puitis, simbolik, dan kontemplatif, seperti yang kerap muncul dalam cerpen-cerpen bernuansa reflektif.
Namun, secara umum, bahasa yang digunakan cenderung sederhana, jujur, dan tidak berlebihan. Emosi tidak ditumpahkan secara melodramatis, melainkan hadir lewat situasi dan dialog yang apa adanya.
Justru kesederhanaan inilah yang membuat cerita-cerita di dalamnya terasa lebih menyentuh dan membekas. Kelebihan utama Perempuan dan Anak-Anaknya terletak pada keragaman perspektif.
Pembaca tidak hanya disuguhi satu sudut pandang tunggal tentang perempuan dan anak-anak, tetapi berbagai pengalaman yang saling melengkapi dan kadang saling bertentangan.
Hal ini membuat buku ini kaya secara tema dan wacana. Selain itu, keberanian para penulis dalam mengangkat isu sensitif, seperti ketidakadilan gender, kemiskinan struktural, dan relasi kuasa dalam keluarga, menjadi nilai penting.
Cerita-cerita di dalamnya tidak berusaha menghibur semata, tetapi mengajak pembaca berpikir dan mempertanyakan realitas sosial yang kerap dianggap normal.
Buku ini juga memiliki kekuatan dokumentatif, ia merekam potret masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan dan periode, sehingga relevan sebagai bacaan sastra sekaligus sosial.
Sebagai kumpulan cerpen dengan banyak penulis, kualitas cerita terasa tidak sepenuhnya merata. Ada cerpen yang sangat kuat secara emosional dan naratif, tetapi ada pula yang terasa datar atau terlalu singkat sehingga pesan tidak berkembang maksimal.
Selain itu, perbedaan gaya bahasa dan pendekatan bisa membuat sebagian pembaca merasa “terputus” antarcerita.
Pembaca yang lebih menyukai alur panjang dan keterikatan emosional mendalam pada satu tokoh mungkin merasa kurang puas karena harus terus beradaptasi dengan cerita baru.
Buku ini sangat cocok untuk pembaca yang menyukai sastra realis, kritik sosial, dan isu kemanusiaan.
Mahasiswa sastra, penggiat isu perempuan dan anak, serta pembaca dewasa yang ingin memahami kompleksitas kehidupan dari sudut pandang yang sering diabaikan akan mendapatkan banyak hal dari buku ini.
Perempuan dan Anak-Anaknya bukan bacaan ringan untuk hiburan semata, tetapi bacaan yang mengajak merenung dan membuka empati.
Buku ini mengingatkan bahwa di balik cerita-cerita kecil tentang rumah dan keluarga, ada suara-suara yang selama ini jarang benar-benar didengarkan.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Ketika Kakak Kehilangan Arah: Kisah Emosional di Novel Dongeng untuk Raka
-
Perjuangan Haia Meraih Mimpi dan Konflik Poligami dalam Novel Laut Tengah
-
Realitas dan Mitos: Menyusuri Narasi Jawa dalam Novel Kereta Semar Lembu
-
Novel Langit Goryeo: Konflik Cinta dan Keimanan Mualaf Korea di Tanah Asing
-
Jejak Sejarah di Pasar Timurid dan Laut Arab dalam Novel Samiam 2
Artikel Terkait
-
Hesti Purwadinata dan Suami Dapat Ancaman Usai Dukung Aurelie Moeremans
-
Profil Roby Tremonti, Aktor Terseret Dugaan Child Grooming di Buku Aurelie Moeremans
-
Apa Itu Child Grooming? Pengalaman Traumatis Aurelie Moeremans di Buku Broken Strings
-
Novel Promise: Ternyata Jujur adalah Nama Tengah Cinta
-
Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku: Teguran Keras untuk Kita yang Lalai
Ulasan
-
Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat: Mengapa Terlalu Berusaha Justru Menjauhkan Bahagia?
-
Nostalgia Ramadan: Keabadian Lagu 'Cinta Rasul' Sulis dan Haddad Alwi
-
Review Buku Puasa Para Nabi: Mengurai Hikmah Bulan Ramadan
-
New Wisata Wendit: Ikon Legendaris Malang yang Cocok Jadi Destinasi Liburan Keluarga
-
Penghakiman Sosial dalam Cerpen Malam Terakhir Karya Leila S. Chudori
Terkini
-
Pertemuan di Masjid Kota
-
Di Balik Nasi Sisa Sahur: Refleksi Emak-Emak tentang Ramadan dan Kesederhanaan
-
Kisah Perjalanan YouthID: Saat Anak Muda Menembus Batas, Mendengar Suara Disabilitas di Aceh
-
Tayang 28 Maret Nanti, Intip Sinopsis Anime Agents of the Four Seasons
-
Taecyeon 2PM Dikabarkan Akan Menikah Bulan April, Agensi Beri Tanggapan