Hayuning Ratri Hapsari | Sri Rahayu
Ilustrasi ibu memasak (Pexels/Produksi PNW)
Sri Rahayu

Pagi tadi, sebuah pemandangan di depan pagar rumah berhasil membuat saya termenung cukup lama sebelum memulai aktivitas. Seorang tetangga perempuan yang bekerja sebagai karyawan swasta tampak sedang tergesa-gesa menyalakan sepeda motornya, membelah kabut pagi demi mengejar absen kantor, sementara dari dalam rumah terdengar sayup-sayup tangis anaknya yang baru berusia dua tahun karena harus ditinggal bersama pengasuh.

Di saat yang sama, lamat-lamat saya mendengar bisikan dari sudut gang yang menyayangkan keputusan si ibu karena dianggap "lebih mementingkan karier daripada mengurus anak". Pengamatan sepele namun menyakitkan ini seketika memicu sebuah keresahan mendalam di kepala saya mengenai betapa tidak adilnya cara masyarakat kita memberikan label dan tuntutan moral kepada seorang ibu bekerja.

Jika kita renungkan, fenomena ini dalam lanskap sosial yang lebih luas, stigma negatif terhadap ibu bekerja bukanlah kasus kasistik, melainkan sebuah budaya penghakiman massal yang dipelihara dengan rapi. Perempuan yang memilih atau terpaksa bekerja demi membantu stabilitas ekonomi keluarga sering kali harus memikul beban psikologis ganda.

Mereka tidak hanya dituntut profesional di ruang publik, tetapi juga wajib menjadi sosok ibu tanpa cela di ruang domestik. Celakanya, penghakiman sosial ini memiliki standar ganda yang sangat nyata: ketika seorang ibu pulang malam karena urusan pekerjaan, ia akan langsung dicap sebagai penelantar anak, namun stigma serupa hampir tidak pernah ditimpakan kepada para ayah yang melakukan hal yang sama.

Jika dibedah menggunakan kacamata sosiologi keluarga dan data ketenagakerjaan, ketimpangan beban moral ini berakar dari kuatnya konstruksi gender tradisional yang mengotakkan peran lelaki sebagai pencari nafkah utama (breadwinner) dan perempuan sebagai pengasuh domestik semata.

Padahal, realitas ekonomi hari ini menunjukkan bahwa kontribusi finansial seorang ibu bukan lagi sekadar gaya hidup, melainkan instrumen penting demi ketahanan pangan dan pendidikan anak yang layak.

Ironisnya, riset mengenai beban kerja tidak berbayar (unpaid care work) justru menunjukkan bahwa meski perempuan sudah bekerja penuh waktu di luar rumah, mereka tetap menghabiskan waktu tiga kali lebih banyak untuk urusan domestik dibandingkan laki-laki, sebuah bukti autentik adanya eksploitasi peran yang tidak disadari di dalam rumah tangga.

Dari sudut pandang saya pribadi, posisi saya dalam isu ini sangat tegas: stigma "penelantar anak" yang disematkan kepada ibu bekerja adalah sebuah bentuk ketidakadilan sosial yang harus segera dihentikan. Masyarakat kita sering kali lupa bahwa mengasuh anak adalah tanggung jawab kolektif antara suami dan istri, bukan tugas tunggal yang dibebankan ke rahim perempuan saja.

Menghakimi seorang ibu yang sedang berjuang di luar rumah untuk kesejahteraan anaknya adalah tindakan yang sangat kejam. Alih-alih memberikan dukungan moral berupa penyediaan fasilitas ruang menyusui atau daycare yang ramah di tempat kerja, ruang publik kita justru lebih sibuk memproduksi rasa bersalah (mom guilt) yang perlahan merusak kesehatan mental para ibu.

Dilema ibu bekerja ini melemparkan sebuah refleksi mendalam yang patut kita renungkan bersama dengan kepala dingin tanpa perlu saling menggurui. Apakah kita sudah menjadi lingkungan yang suportif bagi pertumbuhan sebuah keluarga, atau kita sebenarnya hanya sekumpulan komentator digital yang hobi menuntut kesempurnaan dari orang lain?

Menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga adalah pilihan-pilihan terhormat yang lahir dari ruang perjuangan yang berbeda, dan keduanya sama-sama meletihkan. Mungkin, sebelum kita kembali melirik sinis atau mengetikkan komentar penghakiman kepada seorang ibu yang pulang kerja larut malam nanti, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita mengapresiasi perjuangan ibu kita sendiri hari ini?