Tuhan, maafkan masa laluku. Kalimat ini menjadi pembuka sekaligus napas utama buku ini. Dari judulnya saja mungkin pembaca bisa langsung menebak bahwa buku ini berisi tentang penyesalan di masa lalu.
Buku ini pernah diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada 2015. Dengan judul awal Maafkan Tuhan, Saya Pernah Pacaran. Buku ini punya pendekatan yang sangat menarik dari caranya memilih judul dan memilah cover. Jadi tak heran jika buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku karya Robi Afrizan ini berhasil memikat calon pembaca sejak pandangan pertama.
Isi Buku
Dari halaman pertama, pembaca langsung diajak masuk ke nada penyesalan, perenungan, dan kritik tajam. Tentang satu fenomena yang dianggap sangat lumrah di kalangan anak muda. Hal ini tak lain dan tak bukan yaitu pacaran.
Berbeda dengan ekspektasi banyak pembaca yang mengira buku ini akan membahas dosa-dosa masa lalu secara umum, Robi Afrizan justru memfokuskan pembahasannya hampir sepenuhnya pada pacaran.
Bahkan bisa dikatakan, buku ini adalah kritik total terhadap budaya pacaran yang dianggap merugikan secara spiritual, emosional, dan waktu. Dari awal hingga akhir, penulis secara konsisten menyampaikan satu gagasan besar: pacaran tidak membawa manfaat, apa pun hasil akhirnya.
Penulis menggambarkan pacaran sebagai aktivitas yang sejak niat awalnya sudah bermasalah. Menurutnya, hubungan yang tidak terikat secara sah hanya membuka pintu maksiat. Baik yang disadari maupun tidak.
Bahkan ketika pacaran berujung pada pernikahan, Robi Afrizan menilai proses yang dilalui tetap menyisakan kerugian. Terutama dari sisi kedekatan yang melampaui batas dan waktu yang terbuang percuma. Apalagi jika hubungan tersebut berakhir putus, maka luka emosional dan rasa bersalah menjadi beban tambahan.
Kelebihan Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada keberaniannya mengambil posisi tegas. Penulis tidak mencoba bersikap netral atau “abu-abu”. Nada tulisannya jelas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pacaran, bahkan bisa terasa ekstrem bagi sebagian pembaca. Namun justru di situlah identitas buku ini terbentuk: sebagai bacaan dakwah yang lugas, frontal, dan tanpa kompromi.
Meski fokus utamanya pacaran, buku ini tidak sepenuhnya sempit. Di beberapa bagian, penulis juga mengajak pembaca merenungkan makna hidup yang lebih luas.
Menjadi manusia yang berguna, tidak menyia-nyiakan waktu, serta memanfaatkan nikmat kesehatan dan usia muda untuk hal-hal yang bernilai di sisi Tuhan. Kutipan-kutipan reflektif cukup banyak diselipkan, membuat buku ini terasa seperti kumpulan nasihat sekaligus pengingat.
Dari segi bahasa, diksi yang digunakan sederhana dan mudah dipahami. Inilah yang membuat buku ini sangat cocok untuk remaja, bahkan pembaca usia SMP dan SMA. Tidak berbelit-belit, tidak akademis, dan langsung ke sasaran. Secara ideal, buku ini memang cocok dijadikan koleksi perpustakaan sekolah sebagai bahan bacaan alternatif yang bernuansa religius.
Kekurangan Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku
Namun, muncul satu pertanyaan penting: apakah anak-anak atau remaja yang sudah menikmati “kebahagiaan semu” dari pacaran masih mau membaca buku seperti ini? Pertanyaan ini menjadi tantangan tersendiri.
Buku ini lebih berpotensi menyentil mereka yang sedang galau, baru putus, sedang mencoba move on, atau mulai mempertanyakan makna hubungan yang dijalani.
Bagi pembaca yang sedang pacaran, buku ini bisa terasa menohok. Bagi yang sedang patah hati, buku ini mungkin terasa seperti teguran sekaligus pelukan. Dan bagi yang tidak sesuai ekspektasi awal, misalnya berharap pembahasan dosa yang lebih luas. Buku ini terasa sedikit mengecewakan tapi tetap memberi perspektif baru, meski terasa “tidak seperti yang dibayangkan”.
Pada akhirnya, Tuhan, Maafkan Masa Laluku adalah buku dengan tujuan jelas: mengajak pembacanya berhenti sejenak, menilai ulang relasi cinta yang dijalani, dan bertanya dengan jujur. Apakah semua itu benar-benar mendekatkan pada Tuhan, atau justru menjauhkan.
Identitas Buku
- Judul: Tuhan, Maafkan Masa Laluku (Setiap orang punya masa lalu dan setiap orang juga punya masa depan)
- Penulis: Robi Afrizan
- Penerbit: Quanta
- Tahun Terbit: 2023
- ISBN: 978-623-00-4796-1
- Tebal: 204 Halaman
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Antara Babi, Korupsi, dan Secangkir Kopi
-
Kenapa Perempuan yang Berdaya Masih Dianggap Mengancam di Era Ini?
-
Seni Memikat Hati di Buku How to Win Friends & Influence People
-
Urgensi HAM dalam KUHP: Bukan Aksesoris Kebijakan yang Bisa Dibahas Nanti
Artikel Terkait
-
Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
-
Aurelie Moeremans Buka Pengalaman Grooming di Usia Remaja Lewat Buku Memoar
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Buku Teamwork 101, Keberhasilan Datang dari Kerja Sama
-
Seni Memikat Hati di Buku How to Win Friends & Influence People
Ulasan
-
Film We Bury the Dead: Duka di Tanah Penuh Zombie yang Mengerikan!
-
Drama China A Romance of the Little Forest: Cinta Tumbuh Seperti Tanaman
-
Buku Sehat Setengah Hati, Cara Mudah Memperbaiki Pola Hidup
-
Film Jay Kelly: Sebuah Drama Komedi yang Hangat dan Mendalam
-
Tragedi Berdarah di Balik Kelamnya Janur Ireng: Sewu Dino The Prequel
Terkini
-
Wardatina Mawa Tolak Damai, Kasus Dugaan Zina Inara Rusli Masuk Penyidikan
-
Fenomena Trust Issue Gen Z: Mengapa Mereka Tak Lagi Percaya Institusi Formal?
-
7 Mitos Salah Perawatan Sepatu yang Bikin Cepat Rusak, Kamu Masih Percaya?
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Hikayat Si Kembar