Pertama kali melihatnya, saya tidak terlalu tertarik dengan novel ini. Bukan karena masalah kualitasnya, melainkan karena saya bukan penikmat cerita dengan tema percintaan. Keputusan membaca karya sastra ini justru datang dari novel lain, mereka masih satu series.
Setiap buku dalam series tersebut selalu diakhiri dengan teknik cliff hanger, akhir cerita yang dibuat menggantung. Inilah yang membuat saya penasaran dan membaca semua novel di dalamnya, termasuk judul "Kami (Bukan) Fakir Asmara".
Sinopsis novel "Kami (Bukan) Fakir Asmara"
Jika tiga novel pendahulunya membahas kehidupan Ogi dan kawan-kawan, kali ini penulis berfokus pada lika-liku kehidupan Bu Lira. Tidak hanya aspek romantis, tetapi problematika keluarga dan karier juga ikut dibahas. Pembaca benar-benar diajak mengenal lebih dalam sosok dosen Universitas Daulat Eka Laksana (UDEL) ini.
Sejak kecil, peraih gelar doktor ini digambarkan sebagai anak perempuan yang memiliki ambisi besar. Sejak berkuliah di fakultas kedokteran Universitas Damba Inspirasi Negeri (UDIN), Lira memiliki ketertarikan tinggi pada dunia hewan. Hal inilah yang membawanya melanjutkan studi rekayasa genetika di perguruan tinggi luar negeri.
Di balik kesuksesan akademiknya yang ajigijaw gempar menggelegar, ternyata ia juga dihantui perasaan tertinggal dalam hal percintaan. Beberapa laki-laki sempat singgah dihatinya, seperti Gerome, Tomi, dan Darwis. Bahkan, sepertinya ia juga pernah menanam bibit asmara pada Ogi dan Arko, anak didiknya semasa menjadi dosen di UDEL.
Sayangnya, kisah cinta itu tidak selalu berjalan mulus. Penyebabnya beragam, mulai dari terpisah jarak hingga terlambat menyatakan perasaan alias ditinggal menikah. Meski begitu, di akhir cerita akhirnya Lira melepas status lajangnya. Ia berhasil menemukan belahan hidupnya.
Berikut kelebihan dan kekurangan novel keempat dari series Kami (Bukan)
Tidak seperti karya sebelumnya, pria kelahiran Sumatera Barat ini menyematkan hal baru di novel romance-nya. Pembaca tidak hanya disuguhkan cerita utama, tetapi juga kisah Monster Ketawa di sela-sela episode. Tidak tanggung-tanggung, ada 6 babak yang termuat di novel itu.
Meskipun beberapa pembaca mengeluh dengan kehadiran cerpen tersebut, saya pribadi justru menyukai keputusan J.S. Khairen. Bukan tanpa sebab, melainkan baru kali ini saya menjumpai jeda selingan dalam karya tulis.
Selain itu, penulis jebolan FEB UI ini juga piawai dalam menempatkan sudut pandang. Setiap tokoh yang diceritakan memiliki karakter dan style dialognya masing-masing. Misalnya, Bu Lira dengan ucapan bijaknya atau logat lo-gue dari Ogi beserta kawan-kawannya.
Penulis juga memberikan quote di bagian awal episode. Selain menjadi kesimpulan yang merangkum cerita, penempatan ini juga sukses menarik hati banyak pembaca termasuk saya. Petuah tersebut memiliki makna yang mendalam, tetapi ditulis dengan gaya bahasa yang santai.
Sayangnya, karya ini juga tidak terlepas dari kekurangan. Sebagai pembaca yang mengikuti cerita dari terbitan series pertama, banyak kisah dalam novel "Kami (Bukan) Fakir Asmara" yang terasa hanya mengulang. Meskipun sudut pandang yang digunakan berbeda, tetap saja ini membuat saya bosan saat membacanya.
Saya pribadi lagi-lagi dibuat kesal dengan cara penulis menutup cerita. Sama seperti novel terdahulu, penulis berdarah Minang ini kembali memanfaatkan cliff hanger untuk menyudahi tulisannya. Ini membuat saya penasaran dengan siapa sosok suami Bu Lira. Ogi? Arko? Gerome? Tomi? Darwis? Atau siapa?
Tidak hanya itu, masih dijumpai pula beberapa kesalahan ketik (typo) dalam karya ini. Tidak ada yang sempurna memang. Akan tetapi apabila kesalahan ini diminimalisasi, tentu pembaca akan lebih nyaman saat menikmati alur ceritanya.
Mengandung pesan kehidupan yang relate bagi anak muda, terutama para pencari jodoh
“Kita sering menutup hati untuk orang baru, gara-gara luka yang ditinggalkan orang terdahulu.”
Salah satu kutipan favorit saya dalam buku tersebut. Penulis kelahiran tahun 1991 ini seolah menangkap keresahan para pencari jodoh. Di mana beberapa dari mereka 'menghukum' orang baru. Bukan karena kesalahannya, melainkan karena luka yang ditinggalkan oleh orang terdahulu.
Menyembuhkan luka memang butuh waktu, tetapi memberi kesempatan pada hal baru adalah cara kita menghargai masa depan diri kita sendiri.
Identitas novel
Judul: Kami (Bukan) Fakir Asmara
Penulis: Jombang Santani Khairen
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2024
Dimensi: 400 halaman | 13,5 cm × 20 cm
Genre: fiksi romance
Baca Juga
-
Sisi Gelap Unboxing: Adu Cepat Sampai Rumah, Adu Lama Terurai di Tanah
-
Jangan Mubazir! 5 Kebiasaan Ini Bikin Daging Kurban Cepat Membusuk
-
Bye Apek! 5 Tips Menghilangkan Bau Tak Sedap pada Sepatu
-
Bergema Sampai Selamanya: Apresiasi Momen Kecil Bersama Kekasih
-
Lelah Jadi Pejuang Cita-cita? Dengar Lagu Tulus Ini untuk Menyalakan Kembali Api Mimpimu
Artikel Terkait
-
Ulasan Novel Periculo, Citra Sempurna, Pengkhianatan, dan Misteri Kematian
-
Sepotong Luka di Dalam Manisnya Pasta Kacang Merah Durian Sukegawa
-
Kesepian dan Depresi: Kisah Tragis Kusunoki dalam Three Days of Happiness
-
Diusir dari Tanah Sendiri: Luka Kemanusiaan dalam Novel Maryam Karya Okky Madasari
-
Perjalanan Bodhi di Novel Akar, dari Vihara hingga Menemukan Makna Hidup
Ulasan
-
Ulasan Drama Phantom Lawyer, Ketika Keadilan Terkuak dari Para Arwah
-
Ulasan Novel Periculo, Citra Sempurna, Pengkhianatan, dan Misteri Kematian
-
Senja dan Cinta yang Berdarah: Ketika Sastra Jadi Cara Melawan Pembungkaman
-
Tahan dan Tenang, Nanti Datang Senang: Pelukan Hangat saat Hidup Berat
-
Review Buku Wawasan Kebangsatan: Negeri yang Dipaksa Baik-baik Saja
Terkini
-
Iduladha dan Generasi Muda: Makna Lama yang Masih Relevan di Era Modern
-
Mengapa Tuduhan Amien Rais soal Teddy Mudah Dipercaya Publik?
-
Polemik Kurban 1.098 Sapi dari APBN Rp100 Miliar: Uang Presiden atau Rakyat?
-
Mahoni: Lelaki yang Mengajakku Mencuri Jambu dan Berkeliling Naik Sepeda
-
Plang Larangan Membuang Sampah Sembarangan: Masihkah Jadi Solusi Efektif?