Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Teruslah Bodoh, Jangan Pintar (Dok.Pribadi/Oktavia Ningrum)
Oktavia Ningrum

Judul dari buku Teruslah Bodoh, Jangan Pintar karya Tere Liye sejak awal terasa provokatif. Kalimatnya seolah mengejek. Seakan-akan pembaca diajak untuk pasrah, menerima kebodohan, dan berhenti berpikir kritis.

Dugaan awal ini pun wajar. Judul ini tampak seperti sindiran bagi masyarakat yang tak sadar sedang dibodohi penguasa dan pemerintah. Namun justru di situlah kejutan novel ini berada. Maknanya berbalik arah.

Kalimat “teruslah bodoh” dalam novel ini bukan ajakan untuk tunduk, melainkan pernyataan ironis yang lahir dari sebuah kesaksian di ruang sidang.

Jika kepintaran berarti mengeksploitasi alam, merampas hak hidup orang lain, dan menghalalkan segala cara demi keuntungan, maka kebodohan justru menjadi sikap moral. Lebih baik “bodoh” jika kepintaran hanya melahirkan kerusakan.

Sinopsis Novel

Novel ini mengangkat konflik antara sekelompok aktivis lingkungan melawan korporasi tambang besar, PT Semesta Minerals & Mining. Ruang utama cerita adalah sebuah sidang tertutup di ruangan sempit berukuran 3x6 meter. Ruang kecil yang menjadi arena pertarungan besar antara uang, kekuasaan, dan nurani. Sejak halaman pertama, pembaca langsung diseret ke suasana tegang, tanpa pengantar panjang.

Salah satu tokoh paling menarik adalah Hotma Cornelius, pengacara cerdas dan berpengaruh yang membela pihak tambang. Ia bukan antagonis karikatural, melainkan representasi manusia modern yang rasional, profesional.

Hotma tahu siapa yang benar dan siapa yang kuat. Dan ia memilih yang kuat. Dalam konteks dunia nyata, sikap ini terasa sangat manusiawi: siapa yang mampu membayar mahal, dialah yang dibela. Novel ini tidak menghakimi Hotma secara moralistis, justru menampilkannya sebagai potret jujur relasi antara hukum dan modal.

Tak kalah ikonik untuk dibahas. Ada juga Menteri Bacok dengan rentetan prestasi dan sepak terjang yang mengharukan. Namun sayangnya, Lagi-lagi sosok berbakat dan cerdas seperti ini justru menapaki jalur yang keji. 

Cerita disampaikan dengan sudut pandang orang ketiga dan alur maju-mundur yang mengikuti kesaksian para saksi. Setiap saksi membawa pembaca ke masa lalu: desa yang rusak, sungai yang tercemar, hidup yang perlahan hancur akibat tambang.

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Menariknya, para saksi inilah justru karakter paling kuat secara emosional. Mereka hadir singkat, tetapi meninggalkan luka yang dalam. Ironisnya, setelah kesaksian selesai, mereka menghilang dari cerita. Seakan menegaskan bagaimana korban sering kali hanya dijadikan data, bukan subjek yang terus diperjuangkan.

Sebaliknya, karakter yang hadir terus-menerus seperti para aktivis dan Hotma Cornelius terasa lebih datar. Pembaca bisa memahami posisi mereka, tetapi sulit benar-benar terhubung secara emosional. Meski begitu, alur cerita tetap berhasil menjaga ketegangan. Strategi hukum, permainan kekuasaan, dan “orang dalam” yang mudah dibeli dengan uang, jabatan, atau ancaman terasa begitu realistis. Bahkan nyaris dokumenter.

Tema besar novel ini adalah politik, kekuasaan, dan ketimpangan daya tawar. Para aktivis bergerak dengan idealisme dan keterbatasan, sementara pihak tergugat seolah selalu selangkah lebih maju, mampu membaca setiap strategi lawan. Di sisi lain, Tere Liye juga memberi ruang bagi mereka yang memilih bertahan pada prinsip, bahkan ketika harus membayar dengan nyawa.

Pilihan ending menjadi bagian paling kontroversial. Tidak ada kemenangan heroik. Tidak ada keadilan yang benar-benar ditegakkan. Bagi pembaca yang berharap pada “pelarian” ala fiksi, akhir ini terasa pahit. Namun justru di sanalah kekuatan novel ini: ia menolak berbohong. Dunia nyata sering kali memang berpihak pada uang dan kekuasaan.

Pesan Moral

Secara keseluruhan, Teruslah Bodoh, Jangan Pintar bukan karya Tere Liye yang paling memuaskan secara emosional, tetapi tetap meninggalkan kesan kuat. Gaya bahasanya sederhana, mengalir, dan mudah diikuti. Novel ini memaksa pembaca merenung tentang harga dari sebuah “kepintaran” dan dampak nyata pembangunan terhadap lingkungan dan manusia.

Membacanya saja sudah menyayat; membayangkan bahwa semua ini benar-benar terjadi di dunia nyata jauh lebih menyakitkan. Novel ini mungkin tidak memberi harapan, tetapi justru karena itu, ia terasa jujur.