Sekar Anindyah Lamase | Ardina Praf
Novel Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (goodreads.com)
Ardina Praf

Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang karya Wisnu Suryaning Adji adalah novel yang sunyi, pahit, sekaligus menggelitik.

Buku ini berbicara tentang hidup yang terlalu panjang, trauma yang tak pernah benar-benar usai, dan keinginan manusia untuk mengakhiri segalanya dengan cara yang paling sederhana: mati dengan tenang.

Namun, sebagaimana hidup, kematian pun tidak sesederhana yang dibayangkan.

Novel ini berkisah tentang seorang laki-laki Tionghoa yang menjalani hidup bersama anak-anaknya melewati masa kelam sejarah Indonesia, khususnya tahun 1965.

Ia bukan pahlawan, bukan tokoh besar, melainkan manusia biasa yang terseret arus zaman. Berbagai peristiwa politik, sosial, dan kekerasan menguji daya tahannya sebagai ayah dan sebagai individu yang berada di posisi rentan.

Ia bertahan. Ia hidup. Ia menua.

Tahun demi tahun berlalu, trauma menumpuk, ingatan menjadi beban, dan kehidupan terasa semakin berat untuk dijalani.

Pada titik tertentu, ia merasa telah hidup terlalu lama. Harapannya menyusut menjadi satu: mati dengan tenang, tanpa drama, tanpa penderitaan.

Namun ironi muncul ketika ia menyadari bahwa kematian pun tidak mudah.

Rencana besar untuk mati justru membuka kembali luka-luka lama, mempertemukannya dengan absurditas hidup, dan memaksanya menghadapi kenyataan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berdaulat atas akhir hidupnya sendiri.

Wisnu Suryaning Adji menggunakan gaya bahasa yang hemat, dingin, dan getir. Kalimat-kalimatnya pendek, tegas, dan minim hiasan, seolah meniru cara tokoh utamanya memandang hidup, seperlunya saja, tanpa ilusi.

Narasi terasa kering secara emosional, tetapi justru di situlah kekuatannya, kesedihan tidak ditangiskan, melainkan dibiarkan menggantung dan meresap pelan-pelan.

Nada satir dan ironi hadir secara halus. Keinginan untuk mati tidak disajikan secara melodramatis, melainkan dengan nada datar yang mengganggu, membuat pembaca tersenyum pahit sekaligus merasa tidak nyaman.

Kelebihan utama novel ini terletak pada keberanian temanya.

Wisnu tidak hanya membicarakan trauma sejarah 1965 dari sudut pandang korban Tionghoa, tetapi juga mengangkat topik yang jarang dibahas secara jujur, seperti kelelahan hidup dan keinginan untuk mati tanpa romantisasi.

Tokoh utama dalam novel ini digambarkan sangat manusiawi, keras, lelah, sinis, tetapi tetap bertahan demi anak-anaknya.

Novel ini juga kuat dalam menggambarkan bagaimana sejarah besar merembes ke kehidupan domestik, membentuk cara seseorang mencintai, bertahan, dan memandang masa depan.

Selain itu, absurditas yang dibangun terasa efektif. Gagasan bahwa “mati juga sulit” menjadi kritik tajam terhadap ilusi kendali manusia atas hidup dan ajalnya sendiri.

Bagi sebagian pembaca, tempo cerita yang lambat dan minim aksi bisa terasa melelahkan. Konflik lebih banyak berlangsung di kepala tokoh daripada dalam peristiwa nyata.

Selain itu, gaya bahasa yang dingin dan datar mungkin terasa terlalu jauh secara emosional bagi pembaca yang menyukai narasi ekspresif.

Pembaca yang tidak familiar dengan konteks sejarah 1965 juga mungkin membutuhkan usaha lebih untuk menangkap lapisan sosial-politik yang melatarbelakangi cerita.

Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang, cocok untuk pembaca dewasa yang menyukai sastra reflektif, eksistensial, dan bertema sejarah serta trauma.

Novel ini pas bagi pembaca yang tidak mencari hiburan ringan, tetapi ingin diajak berpikir tentang hidup, usia, ingatan, dan batas kemampuan manusia untuk bertahan.

Buku ini juga relevan bagi pembaca yang tertarik pada isu identitas Tionghoa Indonesia dan dampak panjang tragedi sejarah terhadap kehidupan personal.

Bagi kalian yang tertarik untuk membaca tema-tema seperti ini, novel ini sangat direkomendasikan meski bagi beberapa orang sedikit berat.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS