M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Buku Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari (Gramedia Digital)
Fathorrozi 🖊️

Selama ini, betapa banyak saya temukan novel yang hanya menawarkan hiburan, ada pula novel yang berfungsi sebagai cermin zaman. Maka, menurut saya, novel Kerumunan Terakhir karya Okky Madasari ini termasuk dalam kategori kedua.

Novel yang terbit pada tahun 2016 ini bukan sekadar kisah tentang seorang pemuda bernama Jayanegara, melainkan potret sosial tentang manusia modern yang perlahan kehilangan dirinya sendiri di tengah ledakan teknologi dan internet.

Dalam pandangan saya, Kerumunan Terakhir adalah salah satu karya sastra Indonesia yang paling berhasil merekam perubahan besar yang terjadi pada generasi awal internet di Indonesia. Novel ini terasa begitu dekat karena mengangkat pengalaman yang pernah dialami banyak orang, yaitu masa ketika telepon umum dan wartel mulai ditinggalkan, ketika telepon genggam menjadi barang mewah yang perlahan berubah menjadi kebutuhan, dan ketika warnet menjadi tempat favorit anak-anak muda untuk menjelajahi dunia yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal.

Novel ini berkisah tentang Jayanegara, seorang pemuda yang hidup dalam keluarga yang retak. Ayahnya, seorang profesor ternama bernama Sukendar, adalah sosok cerdas, sukses, dan dihormati banyak orang. Namun di balik citra intelektualnya, ia memiliki kehidupan pribadi yang berantakan. Perselingkuhan demi perselingkuhan membuat ibunya pergi meninggalkan rumah. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi Jayanegara.

Sejak saat itu, hidup Jaya seolah kehilangan arah. Ia gagal menyelesaikan kuliah, tidak memiliki pekerjaan tetap, dan terus hidup dalam bayang-bayang kebencian terhadap ayahnya. Ketika menyusul kekasihnya, Maera, ke Jakarta, Jaya menemukan internet yang mengubah hidupnya.

Awalnya internet hanya menjadi alat untuk mencari pekerjaan. Namun perlahan ia berubah menjadi candu. Jaya mulai menghabiskan hari-hari berselancar di dunia maya. Ia menemukan ruang yang tidak pernah diberikan dunia nyata, kesempatan untuk menjadi orang lain.

Dari sinilah lahir Matajaya. Matajaya bukan sekadar nama samaran. Ia adalah identitas baru yang dibangun Jaya dari nol. Di dunia nyata, Jaya adalah pengangguran yang gagal menyelesaikan pendidikan. Di dunia maya, Matajaya adalah sosok menarik, berani, cerdas, dan berpengaruh. Ia merangkai cerita baru tentang dirinya, membangun citra yang berbeda dari kenyataan, dan mendapatkan perhatian yang selama ini tidak pernah ia miliki.

Di sinilah letak kekuatan terbesar novel ini. Okky Madasari tidak sedang bercerita tentang teknologi. Ia sedang bercerita tentang manusia. Teknologi hanyalah panggung tempat berbagai kelemahan manusia dipertontonkan. Keinginan untuk dipuji, kebutuhan akan pengakuan, hasrat untuk terlihat hebat, dan kecenderungan untuk menyembunyikan kenyataan menjadi tema-tema utama yang terus muncul sepanjang cerita.

Hal yang paling menarik adalah bagaimana Okky membangun karakter Jayanegara. Jujur saja, Jaya bukan tokoh yang mudah disukai. Ia pengecut, egois, malas, tidak bertanggung jawab, dan sering kali menyalahkan keadaan atas kegagalannya sendiri. Ia bukan tipikal tokoh protagonis yang heroik dan inspiratif. Namun justru karena itulah Jaya terasa manusiawi.

Sebagai pembaca, saya beberapa kali merasa kesal terhadap keputusan-keputusan yang ia ambil. Tetapi pada saat yang sama saya juga memahami alasan di balik tindakannya. Dengan penggunaan sudut pandang orang pertama, Okky berhasil membawa pembaca masuk ke dalam kepala Jayanegara, memahami luka-lukanya, kekecewaannya, dan kebingungannya menghadapi dunia yang berubah begitu cepat.

Konflik antara Jayanegara dan ayahnya menjadi tulang punggung cerita. Hubungan mereka menggambarkan benturan dua generasi sekaligus memperlihatkan bagaimana kerusakan dalam keluarga dapat meninggalkan dampak panjang terhadap perkembangan seseorang. Jaya membenci ayahnya, tetapi tanpa sadar ia juga mewarisi banyak sifat buruk sang ayah.

Novel ini juga menghadirkan kritik tajam terhadap budaya media sosial yang kini semakin relevan. Ketika novel ini terbit pada tahun 2016, media sosial memang sudah berkembang pesat. Namun jika dibaca hari ini, isi novel terasa bahkan lebih relevan dibanding satu dekade lalu.

Fenomena influencer, pencitraan digital, buzzer, viralitas, pembunuhan karakter, hingga budaya validasi yang kini mendominasi kehidupan masyarakat modern seolah telah diprediksi oleh Okky Madasari melalui kisah Matajaya. Karakter Akardewa misalnya, dapat dibaca sebagai representasi figur influencer masa kini. Sosok yang memiliki pengaruh besar, mampu membentuk opini publik, dan menciptakan kerumunan pengikut yang mempercayai setiap perkataannya tanpa banyak bertanya.

Salah satu gagasan paling menarik dalam novel ini adalah konsep "kerumunan". Kerumunan yang dimaksud bukanlah kumpulan orang di jalan atau lapangan. Kerumunan di sini adalah komunitas-komunitas digital yang terbentuk di internet. Sekelompok orang yang saling mengikuti, menyukai, mengomentari, memuji, atau bahkan menghujat tanpa pernah benar-benar saling mengenal.

Kerumunan itu terus bergerak dari satu isu ke isu lain, dari satu tokoh ke tokoh lain. Mereka datang dan pergi dengan cepat. Mereka menciptakan ketenaran sekaligus menghancurkannya. Yang mengerikan, banyak orang rela kehilangan identitas aslinya demi diterima oleh kerumunan tersebut.

Meskipun demikian, novel ini bukan tanpa kekurangan. Pada beberapa bagian cerita terasa bertele-tele dan terlalu panjang. Perkembangan karakter Jayanegara juga cenderung stagnan sehingga terkadang menimbulkan rasa frustrasi. Selain itu, akhir cerita yang cukup terbuka mungkin akan membuat sebagian pembaca merasa kurang puas.

Namun kelemahan-kelemahan tersebut tertutupi oleh keberanian Okky dalam merekam zamannya. Ia berhasil menangkap momen transisi penting dalam sejarah sosial Indonesia: ketika masyarakat mulai berpindah dari kehidupan nyata menuju kehidupan digital.

Kini, sepuluh tahun setelah novel ini diterbitkan, kita hidup dalam dunia yang bahkan lebih digital dibanding yang dibayangkan Jayanegara. Media sosial bukan lagi pelengkap kehidupan, melainkan bagian dari kehidupan itu sendiri. Banyak orang bekerja, berinteraksi, jatuh cinta, bertengkar, bahkan membangun identitas melalui layar.

Karena itulah Kerumunan Terakhir terasa seperti peringatan yang belum selesai dibaca. Novel ini mengingatkan bahwa teknologi bukanlah musuh. Namun ketika manusia mulai menggantungkan harga dirinya pada pengakuan digital, ketika citra lebih penting daripada karakter, dan ketika dunia maya terasa lebih nyata daripada kehidupan sebenarnya, saat itulah kita berisiko kehilangan diri kita sendiri.

Akhirnya, Kerumunan Terakhir bukan hanya cerita tentang Jayanegara. Novel ini adalah cerita tentang kita semua. Tentang manusia modern yang terus berlari dari satu kerumunan ke kerumunan lain sambil mencari pengakuan, tetapi sering kali lupa mencari dirinya sendiri.

Identitas Buku

  • Judul: Kerumunan Terakhir
  • Penulis: Okky Madasari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Cetakan: I, Agustus 2016
  • Tebal: 360 Halaman
  • ISBN: 978-602-065-224-5
  • Genre: Fiksi/Novel