28 Years Later: The Bone Temple adalah film post-apocalyptic horror yang disutradarai oleh Nia DaCosta, dengan naskah yang ditulis oleh Alex Garland. Film ini merupakan babak kedua dalam trilogi baru yang dimulai oleh Danny Boyle dengan 28 Years Later (2025) dan merupakan entri keempat dari keseluruhan franchise 28 Days Later yang pertama kali dirilis tahun 2002 silam.
Danny Boyle sendiri masih terlibat sebagai produser, bersama Andrew Macdonald dan beberapa nama lama yang sejak awal membangun fondasi franchise ini.
Dirilis di bioskop Indonesia pada 14 Januari 2026 dan diproduksi secara berurutan dengan film sebelumnya, 28 Years Later: The Bone Temple dirancang untuk menjaga kesinambungan cerita sekaligus membuka jalan menuju babak penutup trilogi.
Sinopsis
Kisah bermula sesaat setelah kejadian di film sebelumnya. Wabah Rage Virus yang menghancurkan peradaban Inggris masih merajalela, namun ancaman kini tidak hanya datang dari mereka yang terinfeksi (The Infected), melainkan juga dari kegilaan dan konflik internal dari para manusia yang tersisa.
Cerita kemudian terbagi menjadi dua narasi paralel yang saling berkaitan erat. Narasi pertama mengikuti perjalanan Spike (Alfie Williams), seorang remaja yang berhasil selamat dari peristiwa di film sebelumnya. Namun, nasib buruk membawa Spike jatuh ke tangan sebuah sekte sesat The Fingers.
Sekte ini dipimpin oleh sosok karismatik namun psikopat bernama Sir Lord Jimmy Crystal (Jack O'Connell). Dengan penampilan nyentrik mengenakan setelan tracksuit dan wig panjang pirang, Jimmy mengklaim dirinya sebagai anak setan, dan membangun sistem kepercayaan ekstrem yang menjadikan kekerasan sebagai ritual dan alat kontrol.
Para pengikutnya, yang semuanya berpenampilan serupa, dan saling memanggil satu sama lain dengan sebutan "Jimmy," selalu mematuhi perintahnya untuk menyiksa dan membunuh siapa pun yang mereka temui.
Spike yang polos dan sedang mencari jati diri, mulai dipersiapkan oleh Jimmy untuk menjadi "wadah" baru dalam ritual mereka. Demi membuktikan dirinya layak bergabung, Spike bahkan dipaksa untuk membunuh anggota lain. Spike pun terjebak dalam gaya hidup nihilistik, sekte yang gemar menyiksa penyintas lain demi kesenangan semata.
Di dalam sekte ini, Spike juga bertemu dengan Jimmy Ink/Kelly (Erin Kellyman), seorang anggota perempuan yang diam-diam masih memiliki hati nurani dan tidak sepenuhnya setuju dengan kekejaman Jimmy.
Disisi lain, kita akan mengikuti kehidupan Dr. Ian Kelson (Ralph Fiennes), seorang mantan dokter dan peneliti yang menghabiskan waktunya untuk mempelajari Rage Virus. Ia tinggal sendirian di sebuah wilayah terpencil dan mendirikan The Bone Temple, sebuah kuil mengerikan namun artistik yang disusun rapi dari ribuan tengkorak dan tulang belulang manusia yang telah gugur akibat wabah.
Kelson juga diam-diam merawat dan meneliti seorang Alpha Infected (zombie yang lebih kuat dan cerdas) yang ia beri nama Samson (Chi Lewis-Parry). Melalui eksperimennya, Kelson menemukan bahwa dengan obat penenang tertentu, perilaku agresif Samson bisa diredam. Hal ini menunjukkan secercah harapan bahwa sisi kemanusiaan Infected mungkin belum sepenuhnya hilang.
Dengan durasi 109 menit, film ini tidak hanya menampilkan teror fisik khas franchise 28 Days Later, tetapi juga mengajak penonton menyelami konflik moral, krisis identitas, serta pertanyaan tentang apa arti kemanusiaan ketika harapan hampir sepenuhnya musnah.
Review Film 28 Years Later: The Bone Temple
Di tangan sutradara Nia DaCosta dan penulis naskah Alex Garland, 28 Years Later: The Bone Temple tampil sebagai sekuel yang tidak sekadar melanjutkan cerita, tetapi juga berani menggeser fokus tematik waralaba ini secara signifikan.
Alih-alih kembali mengandalkan formula kejar-kejaran dengan para terinfeksi, film ini memilih jalur yang lebih reflektif dan konfrontatif. Teror tidak lagi semata-mata datang dari virus, melainkan dari kegilaan manusia itu sendiri.
Kaum terinfeksi diposisikan lebih sebagai ancaman latar belakang. Mereka tetap hadir, tetap mematikan, tetapi bukan pusat kengerian. Teror sesungguhnya justru datang dari The Fingers, sebuah kultus fanatik yang dipimpin oleh figur tirani karismatik bernama Jimmy Crystal.
Melalui kelompok ini, film seolah mengulang tesis klasik dalam genre zombie apocalypse: ketika hukum dan empati menghilang, manusia bisa menjadi makhluk yang jauh lebih mengerikan daripada wabah apa pun. Narasi yang kelam tersebut kemudian diterjemahkan secara visual dengan pendekatan yang sangat atmosferik oleh sinematografer Sean Bobbitt.
Berbeda dengan estetika kasar, spontan dan shaky cam ala Danny Boyle di film sebelumnya yang menggunakan iPhone 15 Pro, Sean Bobbitt justru memilih menggunakan Arri Alexa 35—kamera digital profesional yang mampu menangkap detail gambar dengan lebih tajam, pencahayaan natural, dan rentang warna yang lebih kaya. Pilihan ini secara efektif mendukung tone film yang lebih matang, muram, dan reflektif. Salah satu aspek yang cukup menonjol adalah kontras visual yang tegas antara dua ruang naratif yang dihadirkan dalam film.
Nia DaCosta mengarahkan Sean Bobbitt untuk menerapkan pendekatan visual yang berbeda, disesuaikan dengan karakter yang ditampilkan serta konteks narasi yang sedang berjalan. Misalnya, adegan-adegan yang berfokus pada karakter Dr. Ian Kelson kerap disajikan dengan komposisi kamera yang lebih stabil, pencahayaan lebih lembut, dan palet warna yang cenderung hangat. Visual ini menciptakan ilusi ketenangan, seolah menjadi ruang kontemplasi di tengah dunia yang telah hancur.
Sebaliknya, dunia yang dihuni kelompok fanatik The Fingers divisualisasikan dengan pencahayaan suram, serta dominasi warna-warna dingin. Kontras ini bukan sekadar pembeda estetika, tetapi juga refleksi kondisi psikologis para penghuninya.
Pemanfaatan lanskap Inggris, termasuk wilayah Cumbria dan North Yorkshire juga memberi kontribusi besar pada atmosfer film. Bentang alam yang luas dan sunyi dimanfaatkan untuk menekankan rasa keterasingan dan kehancuran yang perlahan.
Keindahan alam yang masih tersisa dibiarkan beradu dengan reruntuhan peradaban, menciptakan ironi visual yang memperdalam nuansa pasca-apokaliptik. Judul The Bone Temple sendiri juga terepresentasi dengan kuat melalui desain set kuil tulang yang artistik sekaligus mengerikan.
Selain narasi dan visualnya, 28 Years Later: The Bone Temple juga unggul dalam aspek audio. Skor musik digubah oleh Hildur Guðnadóttir, komposer pemenang Oscar yang dikenal lewat karyanya di Joker (2019) dan Chernobyl (2019). Kali ini dia membawa nuansa musik yang berbeda dari apa yang pernah kita dengar dalam film-film 28 Days Later sebelumnya. Hildur Guðnadóttir menghadirkan komposisi orkestra yang lebih lambat, dan atmosferik.
Selain skor orkestra, film ini juga memanfaatkan sejumlah needle drop, lagu populer yang dilekatkan pada momen-momen tertentu. Seperti, lagu-lagu dari Radiohead (Everything in Its Right Place), dan Duran Duran (Ordinary World, Girls on Film, dan Rio).
Namun, yang paling mencuri perhatian bagi saya, sebagai penggemar musik heavy metal—tentu saja kemunculan lagu The Number of the Beast milik Iron Maiden. Lagu ini muncul di momen klimaks ketika Dr Ian Nelson menyamar menjadi Iblis untuk menipu sekte The Fingers.
Dengan tubuh berlumur cat merah menyala, ia menari dan melakukan lip-sync teatrikal yang menyatu sempurna dengan raungan vokal Bruce Dickinson. Momen ini terasa kontras dan unexpected, tetapi entah kenapa menjadi salah satu momen paling ikonik yang membuat saya tertawa.
Selain itu, film ini juga ditopang oleh akting yang solid dan terukur. Ralph Fiennes tampil tenang, nyaris kontemplatif, menghadirkan karakter yang tampak lelah menghadapi dunia di sekelilingnya, namun masih berpegang pada sisa kemanusiaan yang ia miliki
Di sisi spektrum yang berlawanan, Jack O’Connell tampil eksplosif sebagai antagonis utama, Sir Lord Jimmy Crystal. Jack menyuntikkan energi yang mengingatkan saya pada karakter Alex DeLarge dari A Clockwork Orange (1971), sadis, narsisistik, namun karismatik dan menarik. Jack O'Connell seolah kembali membuktikan keahliannya memerankan karakter antagonis yang mengusik, melanjutkan jejak performa gelapnya di Eden Lake (2008) dan Sinners (2025).
Sejalan dengan karakter antagonisnya, kekerasan dalam film ini pun juga turut meningkat drastis. Nia DaCosta tidak menahan diri dalam menampilkan kebrutalan kultus The Fingers. Beberapa sekuens terasa sangat sadis dan disturbing, bahkan berpotensi memicu rasa ngilu atau mual bagi sebagian penonton.
Namun, di balik semua kelebihan yang ditawarkan, 28 Years Later: The Bone Temple tetap menyisakan sejumlah catatan kritis, terutama pada aspek pacing. Di bagian tengah, film ini sempat terasa kehilangan momentum karena terlalu berlarut-larut mengeksplorasi ritual sekte, membuat pacing terasa sedikit tersendat sebelum akhirnya meledak kembali di babak akhir.
Selain itu, karakter Spike yang diperankan oleh Alfie Williams, terkadang terasa tenggelam di bawah dominasi akting Ralph Fiennes dan Jack O’Connell.
Terlepas dari catatan kecil tersebut, 28 Years Later: The Bone Temple tetaplah sebuah pencapaian sinematik yang impresif. Film ini menyuguhkan pengalaman yang emosional, dan terkadang absurd, namun tetap reflektif dalam menggambarkan kondisi manusia ketika aturan sosial hilang.
Dengan perpaduan arahan yang solid, visual yang memukau, serta akting yang mumpuni. 28 Years Later: The Bone Temple layak disebut sebagai salah satu instalmen terbaik dalam waralaba ini.
Baca Juga
-
Review The Long Walk: Film Distopia yang Brutal, Suram, dan Emosional
-
Review Film Weapons: Horor Non-Linear dengan Atmosfer Super Mencekam
-
Ikon Metal Legendaris Ozzy Osbourne Meninggal Dunia di Usia 76 Tahun
-
7 Film dan Serial yang Dibintangi David Corenswet sebelum Jadi Superman
-
Review Film Havoc: Suguhkan Aksi Super Brutal tapi Naskah Terlalu Datar
Artikel Terkait
Ulasan
-
Fallout: Ketika Kiamat Dimulai dari Hilangnya Kemanusiaan
-
Buku Bisikan Hati yang Tersembunyi: Merawat Harapan dan Keberanian Bermimpi
-
Film Send Help: Plot Twist Mengerikan di Pulau Terpencil yang Brutal
-
Buku Secret Admirer: Puisi-Puisi tentang Cinta yang Disimpan dalam Diam
-
Sinopsis Lengkap Lima Sekawan: Di Pulau Harta, Seri Pembuka yang Menegangkan
Terkini
-
Teka Teki Tiko
-
Kewenangan Satpol PP dalam KUHP Baru: Antara Privasi Warga dan Hukum yang Hidup
-
Chipset Ngebut tapi Mubazir: Siapa Sebenarnya yang Diuntungkan?
-
Fenomena Soft Life di Antara Ambisi dan Kelelahan: Apakah Kita Berhak untuk Melambat?
-
3 Pembersih Wajah Sulfur, Andalan untuk Kulit Bebas Jerawat