Sekar Anindyah Lamase | Ryan Farizzal
Poster film Perfect Days (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Perfect Days (2023) adalah karya sutradara Jerman Wim Wenders yang berkolaborasi dengan penulis Jepang Takuma Takasaki.

Dibintangi Koji Yakusho sebagai Hirayama, film ini mengeksplorasi kehidupan sederhana seorang petugas kebersihan toilet umum di Tokyo. Dengan durasi 123 menit, Perfect Days dinominasikan Oscar untuk Film Internasional Terbaik 2024, setelah premier di Festival Film Cannes 2023 di mana Yakusho memenangkan Aktor Terbaik.

Film ini diproduksi oleh perusahaan Jepang seperti Master Mind dan Spoon, dengan elemen budaya yang kental, termasuk musik klasik rock Amerika dari era 1960-1970an seperti lagu-lagu Lou Reed dan The Velvet Underground yang menjadi soundtrack hati Hirayama.

Pekerjaan Membersihkan Toilet dengan Teliti

Salah satu adegan di film Perfect Days (IMDb)

Sinopsisnya mengikuti rutinitas harian Hirayama, seorang pria paruh baya yang tinggal sendirian di apartemen kecil. Setiap pagi, ia bangun sebelum fajar, menyiram tanaman, minum kopi kaleng, lalu mengendarai van biru ke pekerjaannya membersihkan toilet-toilet modern di distrik Shibuya.

Pekerjaannya bukan sekadar tugas; ia lakukan dengan teliti, seperti membersihkan setiap sudut dengan sikat gigi. Di luar kerja, Hirayama menikmati hal-hal kecil: membaca buku Faulkner di malam hari, mendengarkan kaset musik lama, memotret pohon dengan kamera analog, atau makan di kedai murah.

Kehidupannya terstruktur, damai, tapi perlahan terungkap lapisan emosional melalui interaksi dengan rekan kerja muda (Tokio Emoto), keponakan remaja (Arisa Nakano), dan mantan istri saudaranya. Tanpa plot dramatis besar, film ini membangun narasi melalui pengamatan halus, menyoroti bagaimana rutinitas bisa menjadi sumber kebahagiaan sejati.

Tema utama Perfect Days adalah pencarian kedamaian dalam kesederhanaan. Wenders, dikenal dengan film seperti Wings of Desire (1987), membawa pandangan filosofisnya ke budaya Jepang, di mana konsep komorebi (sinar matahari menyusup melalui daun) menjadi metafor visual.

Hirayama mewakili orang yang puas dengan apa adanya, kontras dengan masyarakat modern yang sibuk dan materialistis. Film ini mengajak penonton merenung: apakah kebahagiaan datang dari pencapaian besar atau momen mencerminkan siklus hidup. Ini drama slice-of-life yang memikat, di mana keindahan lahir dari hal-hal sehari-hari. Film ini menambah permata tenang dalam karya-karya Wim Wenders.

Review Film Perfect Days

Salah satu adegan di film Perfect Days (IMDb)

Performa Koji Yakusho adalah jantung di film ini. Aktor veteran Jepang ini (dikenal dari Shall We Dance? 1996) menyampaikan emosi dalam dengan ekspresi minimalis.

Wajahnya yang tenang, senyum tipis, dan gerak tubuh presisi membuat Hirayama relatable dan misterius sekaligus. Yakusho bilang dalam wawancara bahwa ia belajar membersihkan toilet sungguhan untuk peran ini, menambah autentisitas.

Pendukung seperti Yumi Aso sebagai pemilik bar dan Aoi Yamada sebagai rekan kerja menambah kedalaman, tapi Yakusho yang membawa film ke level emosional tinggi.

Endingnya, dengan close-up wajah Yakusho saat mendengarkan Feeling Good oleh Nina Simone, adalah momen ikonik yang campur aduk antara sukacita dan melankoli.

Sinematografi oleh Franz Lustig luar biasa, menangkap Tokyo yang kontras: toilet futuristik desain The Tokyo Toilet Project (inspirasi nyata film) versus gang sempit dan taman hijau.

Penggunaan 16mm film untuk dream sequence menambah nuansa nostalgik. Musik adalah elemen kunci; pilihan lagu seperti House of the Rising Sun oleh The Animals atau Perfect Day oleh Lou Reed (judul film diambil dari sini) mencerminkan inner world Hirayama. Skor asli oleh band Jepang juga halus, mendukung suasana kontemplatif.

Secara teknis, film ini sederhana tapi efektif, dengan pacing lambat yang mungkin menantang bagi penonton aksi-oriented, tapi sempurna untuk yang suka drama introspektif seperti karya Yasujiro Ozu.

Secara keseluruhan, Perfect Days adalah meditasi indah tentang hidup, mengingatkan kita untuk menghargai momen sekarang. Bukan film untuk semua orang—beberapa mungkin anggap terlalu lambat atau kurang konflik—tapi bagi yang mencari kedalaman, ini masterpiece.

Skor IMDb 7.9/10 mencerminkan apresiasi luas. Film ini menginspirasi diskusi tentang work-life balance di era digital, terutama pasca-pandemi.

Di Indonesia, Perfect Days tayang terbatas di festival seperti JAFF dan JWCW 2023, tapi rilis bioskop luas dimulai 24 Januari 2026. Dan tayang di CGV Cinemas, termasuk CGV Marvell City di Surabaya. Jadwal bisa dicek di situs resmi CGV atau XXI untuk kota lain seperti Jakarta dan Tangerang. Tiket tersedia online; jangan lewatkan pengalaman sinematik ini di layar lebar ya, Sobat Yoursay!

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS