Kita semua tahu bahwa dengan membaca karya sastra, khususnya puisi, karakter kita dapat semakin bertumbuh. Sebab, dengan membaca karya sastra, kita akan menemukan berbagai cerita dan metafora yang dapat menghaluskan perasaan dan mempertajam pikiran.
Berbicara tentang karya sastra, pada kesempatan kali ini saya akan mengulas sebuah film yang bercerita tentang seorang guru eksentrik yang berhasil mengubah karakter dan hidup para anak didiknya melalui puisi. Penasaran dengan film yang akan saya ulas? Mari baca artikel ini sampai tuntas!
Film yang akan saya ulas pada kesempatan kali ini adalah film yang disutradarai oleh Peter Weir dengan judul Dead Poets Society. Film ini pertama kali dirilis pada tahun 1989 di Amerika Serikat dan didistribusikan oleh Touchstone Pictures. Film yang berdurasi sekitar 128 menit ini dibintangi oleh sejumlah aktor ternama asal Amerika Serikat, antara lain Robin Williams, Robert Sean Leonard, Ethan Hawke, Josh Charles, serta sejumlah aktor muda lainnya.
Dead Poets Society mengambil latar tempat di sebuah sekolah elit bernama Welton Academy dan mengangkat berbagai tema, seperti pendidikan, sastra, kebebasan berpikir, pencarian jati diri, serta cinta terhadap kehidupan dan impian.
Sinopsis
Film Dead Poets Society bercerita tentang seorang guru bahasa Inggris bernama John Keating (Robin Williams). John Keating merupakan alumni dari Welton Academy, sebuah sekolah bergengsi dengan sistem pendidikan yang sangat ketat dan konservatif. Sebagai alumni, John Keating merasa tertarik untuk mengajar di Welton Academy guna menggantikan seorang guru yang baru saja pensiun.
Welton Academy dikenal sangat menjunjung tinggi nilai-nilai konservatif, seperti tradisi, kehormatan, disiplin, dan prestasi akademik. Oleh karena itu, para siswa di sekolah ini sangat dituntut untuk patuh terhadap nilai-nilai tersebut serta dituntut untuk dapat memenuhi harapan orang tua tanpa diberi ruang untuk mengekspresikan diri mereka sendiri.
Di sisi lain, kehadiran John Keating di sekolah tersebut tampaknya berhasil membawa angin segar bagi para siswa yang kian merasa jenuh. Keating, yang juga memiliki kepribadian eksentrik, selalu mengajarkan sastra dengan cara yang tidak biasa. Ia mendorong para muridnya untuk berpikir kritis, menghargai puisi, berani memberontak, dan menjalani hidup dengan penuh makna sebagaimana yang tertuang dalam salah satu frasa Latin, yaitu carpe diem, yang berarti "raihlah hari ini". Melalui metode pengajaran yang unik, Keating mengajak murid-muridnya untuk berani menyuarakan pendapat dan menemukan suara mereka sendiri.
Terinspirasi oleh Keating, sekelompok siswa yang dipimpin oleh Neil Perry (Robert Sean Leonard) menghidupkan kembali sebuah perkumpulan rahasia bernama Dead Poets Society. Perkumpulan ini pernah didirikan oleh generasi angkatan Keating yang kerap melakukan pembacaan puisi di luar asrama Welton Academy sebagai bentuk pemberontakan. Melalui perkumpulan rahasia tersebut, Neil dan kawan-kawannya mulai melakukan perlawanan terhadap sekolah, seperti keluar dari asrama saat tengah malam untuk membaca puisi, berbagi mimpi, dan mengekspresikan diri secara bebas. Bagi Neil dan kawan-kawannya, perkumpulan rahasia tersebut menjadi simbol cinta terhadap kebebasan dan kehidupan yang autentik.
Singkat cerita, seiring berjalannya waktu, konflik mulai memuncak ketika Neil memantapkan minatnya di dunia pertunjukan (teater) yang bertentangan dengan kehendak ayahnya yang otoriter. Sebagai salah satu tokoh sentral, Neil dihadapkan pada pilihan sulit antara mengikuti impiannya atau mematuhi keinginan orang tuanya. Tekanan yang diberikan oleh ayahnya secara terus-menerus membuat konflik batin Neil semakin memuncak hingga akhirnya berujung pada sebuah tragedi yang mengguncang semua pihak, yaitu kematian Neil akibat bunuh diri.
Tentu saja, kejadian tersebut menjadi titik balik yang menyadarkan para siswa lainnya akan konsekuensi dari pilihan hidup serta betapa mahalnya harga sebuah kebebasan, seperti yang disampaikan juga oleh John Keating. Namun, ketika para siswa yang merupakan kawan-kawan dari Neil itu dihukum oleh otoritas sekolah karena sudah memberontak, mereka tidak menunjukkan penyesalan sama sekali. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan dalam kelompok Dead Poets Society tersebut sudahlah benar, yaitu mereka harus memperjuangkan kebebasan dan pilihan hidup mereka apa pun konsekuensinya.
Di akhir cerita, para siswa dan John Keating akhirnya berpisah. Para siswa juga melakukan tindakan naik ke atas meja belajar sebagai bentuk penghormatan kepada John Keating untuk yang terakhir kalinya, tepat di hadapan kepala sekolah Welton Academy yang telah memecat dan menyalahkan John Keating atas kematian Neil Perry.
Kelebihan Film Dead Poets Society
Beberapa kelebihan yang terdapat dalam film Dead Poets Society ini, menurut saya, antara lain terletak pada kekuatan pesan moral dan emosionalnya. Dalam film ini, tema yang diangkat tidak hanya terkait kehidupan di dunia pendidikan, tetapi juga mengangkat berbagai tema terkait makna hidup, keberanian, dan cinta terhadap impian. Selain itu, kelebihan lain yang terdapat dalam film ini adalah penggunaan puisi dan dialog-dialog filosofis yang sangat menyentuh. Banyak ditemukan adegan simbolis yang memperkuat emosi serta pesan yang ingin disampaikan.
Lebih dari itu, film ini juga berhasil menggambarkan benturan antara idealisme dan realitas dengan cara yang realistis dan emosional. Menurut saya, film Dead Poets Society ini sangat cocok untuk kalian saksikan karena banyak mengangkat tema terkait makna hidup, keberanian untuk bermimpi, serta keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Nah, itu tadi merupakan ulasan mengenai sebuah film yang bercerita tentang seorang guru eksentrik yang berhasil mengubah karakter dan hidup para anak didiknya melalui puisi, yang berjudul Dead Poets Society. Ulasan ini merupakan ulasan saya pribadi berdasarkan film tersebut. Lalu, bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tertarik untuk menyaksikan film tersebut?
Baca Juga
-
Review Film Warrior (2011): Drama Keluarga Mengharukan di Balik Ring MMA
-
Meninggalkan Dunia Nyaman Demi Kebebasan Sejati: Menyelami Kisah 'Into The Wild'
-
Review Never Back Down (2008): Film dengan Latar Belakang Seni Bela Diri Campuran!
-
Film Good Will Hunting: Kisah Matematikawan Jenius dengan Trauma Masa Lalu
-
Sinopsis The Outsider (2018): Veteran Amerika yang Menjadi Anggota Yakuza Jepang
Artikel Terkait
-
Keluarga yang Tak Dirindukan: Potret Pahit Generasi Sandwich di Netflix
-
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
-
American Assassin: Kisah Asal-usul Agen CIA yang Dihantui Tragedi, Malam Ini di Trans TV
-
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
-
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ulasan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
-
The Devils Daughter: Horor Ringan dengan Plot Twist yang Membingungkan
Terkini
-
Menyelinap ke Pikiran Ayah
-
Generasi Muda Terperangkap Utang Paylater dan Pinjol: Kurangnya Literasi Keuangan Jadi Pemicu?
-
Sayap Kecil yang Menantang Badai
-
Tegas Lawan Pelecehan Daring, Agensi Hyeri Pastikan Proses Hukum Berjalan
-
4 Moisturizer Lokal Licorice untuk Wajah Cerah dan Lembap Sepanjang Hari