Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Teman Tegar Maira (instagram/film_tegar)
Ryan Farizzal

Film Teman Tegar Maira (juga dikenal sebagai Whisper from Papua) adalah sekuel dari film inspiratif Tegar yang rilis pada 2022. Disutradarai oleh Anggi Frisca dan diproduksi oleh Aksa Bumi Langit, film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 5 Februari 2026.

Dengan durasi 97 menit, karya ini memadukan elemen drama keluarga, petualangan anak-anak, isu lingkungan, dan kekayaan budaya Papua dalam narasi yang hangat dan reflektif. Sebagai lanjutan dari cerita Tegar, bocah penyandang disabilitas yang mandiri, film ini memperluas semesta dengan memperkenalkan karakter baru, Maira, yang membawa perspektif dari tanah Papua.

Hasilnya adalah sebuah cerita yang tidak hanya menghibur, tapi juga mendidik penonton tentang pentingnya pelestarian alam dan harmoni antarmanusia.

Sinopsis: Maira dan Warisan Hutan Leluhur

Salah satu adegan di film Teman Tegar Maira (instagram/film_tegar)

Sinopsis film ini berpusat pada pertemuan dua anak dari latar belakang berbeda di tengah kabut pegunungan Papua. Maira (diperankan oleh Elisabeth Sisauta), seorang gadis berusia 12 tahun asal Papua, tumbuh dikelilingi lagu-lagu etnik, dongeng leluhur, dan kebijaksanaan alam.

Ia hidup menyatu dengan hutan yang bukan hanya tempat tinggal, tapi juga sumber kehidupan dan warisan adat. Hutan Papua baginya adalah rumah yang diam tapi bersuara, tempat di mana ia belajar nilai-nilai keberanian dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Kehidupan Maira terganggu ketika ancaman deforestasi mengintai, mengancam hak adat masyarakatnya.

Di sisi lain, Tegar (M. Adhiyat, melanjutkan peran dari film pertama), bocah 11 tahun dari Bandung yang lahir tanpa dua tangan dan satu kaki, datang ke Papua bersama Teh Isy (Sha Ine Febriyanti). Tegar, yang sudah dikenal sebagai simbol ketegaran, ingin mengeksplorasi dunia luar dan belajar mandiri lebih jauh.

Pertemuan mereka menjadi katalisator perubahan: Maira mengajari Tegar tentang adat istiadat Papua dan cara hidup berdampingan dengan alam, sementara Tegar membawa semangat optimisme dan ketabahan yang menginspirasi Maira untuk memperjuangkan hutan.

Narasi film ini dibangun dengan pendekatan yang membumi dan tidak menggurui. Anggi Frisca berhasil menggabungkan elemen musikal dengan lagu-lagu lokal Papua, lukisan prasejarah, dan baju adat, menciptakan suasana autentik yang memukau.

Visual alam Papua—pegunungan berkabut, hutan lebat, dan sungai jernih—difilmkan dengan indah oleh sinematografer Yudi Datau, yang juga bertindak sebagai produser. Elemen ini tidak hanya sebagai latar, tapi menjadi karakter utama yang "berbicara" tentang krisis iklim dan pembalakan liar. Film ini mengangkat isu deforestasi tanpa terjebak dalam propaganda; sebaliknya, ia menyajikannya melalui mata anak-anak, membuat pesan lingkungan terasa relatable dan mudah diterima oleh semua usia.

Persahabatan Tegar dan Maira menjadi inti cerita, menunjukkan bagaimana perbedaan—baik fisik, budaya, maupun geografis—bisa menjadi kekuatan untuk sebuah perubahan.

Review Film Teman Tegar Maira

Salah satu adegan di film Teman Tegar Maira (instagram/film_tegar)

Salah satu kekuatan utama film ini adalah casting dan performa aktornya. Elisabeth Sisauta sebagai Maira tampil natural dan penuh energi, membawa nuansa Papua yang asli ke layar. Ia bukan aktor profesional, tapi justru itu yang membuat karakternya terasa tulus.

M. Adhiyat kembali memukau sebagai Tegar, dengan ekspresi yang menyentuh tanpa berlebihan, mengingatkan kita pada perjuangannya di film pertama. Sha Ine Febriyanti sebagai Teh Isy memberikan dukungan emosional yang stabil, sementara aktor pendukung seperti warga lokal Papua (70% kru adalah komunitas setempat) menambah kedalaman budaya.

Musik yang digubah oleh Joan Wakum, musisi Papua, menjadi highlight: lagu-lagu etnik yang menyatu dengan narasi, seperti dongeng yang dinyanyikan Maira, menambah lapisan emosional dan edukatif.

Akan tetapi, film ini bukan tanpa kelemahan. Beberapa bagian terasa lambat, terutama di awal saat memperkenalkan latar Papua, yang mungkin membuat penonton muda bosan. Konflik deforestasi kadang terasa kurang mendalam, lebih fokus pada petualangan anak-anak daripada analisis sosial yang tajam.

Selain itu, meski fiksi, inspirasi dari suku Mairasih dan memori kolektif sutradara membuat cerita terasa autentik, tapi bisa lebih eksploratif dalam menyoroti suara masyarakat adat yang terpinggirkan. Secara teknis, editing bisa lebih ketat untuk menjaga ritme, meski secara keseluruhan tetap mengalir dengan baik.

Secara keseluruhan, Teman Tegar Maira adalah film yang sarat makna, cocok untuk ditonton keluarga. Ia tidak hanya menyentuh hati melalui kisah persahabatan, tapi juga mengajak renungkan hubungan manusia dengan alam.

Di tengah krisis iklim global, film ini menjadi suara dari Papua yang sering terlupakan, mengingatkan bahwa anak-anak pun bisa menjadi agen perubahan. Dibandingkan pendahulunya, sekuel ini lebih luas visinya, mencakup isu lingkungan dan inklusivitas. Rating dariku: 8/10. Jangan lewatkan di bioskop ya, Sobat Yoursay! Terutama kalau kamu ingin pengalaman menonton yang hangat dan penuh inspirasi.