Kecemasan dan ketakutan sering kali dipandang sebagai emosi negatif yang harus dihindari, terlebih ketika muncul pada anak-anak. Banyak orang tua merasa khawatir berlebihan ketika anak terlihat takut, cemas, atau panik. Lalu berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan emosi tersebut.
Di buku Anak yang Penuh Kecemasan: Cara Membangun Kekuatan Anak agar Dapat Mandiri karya Lee Da Rang, terbitan Elex Media Komputindo, kecemasan ini akan dibahas. Dengan perspektif yang lebih sehat dan realistis. Bahwa kecemasan adalah emosi normal, bahkan merupakan bagian penting dari mekanisme perlindungan diri manusia.
Isi Buku
Dalam buku ini dijelaskan bahwa kecemasan dan ketakutan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sumber kekuatan alami. Melalui kecemasan, manusia belajar berhati-hati, mengenali bahaya, dan melindungi dirinya.
Secara khusus pada anak-anak, rasa takut, panik, dan cemas merupakan bagian dari proses perkembangan psikologis yang wajar. Anak belajar memahami dunia melalui pengalaman emosional, termasuk emosi tidak nyaman.
Namun, persoalan muncul ketika kecemasan tidak lagi bersifat sementara, melainkan menetap, menguat, dan mengganggu kehidupan sehari-hari anak. Inilah wilayah abu-abu yang sering membingungkan orang tua: membedakan antara kecemasan normal dalam perkembangan anak dan kecemasan yang sudah masuk kategori bermasalah.
Buku ini membantu orang tua mengenali tanda-tanda kecemasan anak yang sering kali diabaikan. Beberapa di antaranya tampak sepele, tetapi sebenarnya signifikan, seperti anak yang sulit berteman, tidak mau berpisah dengan orang tua, atau terus-menerus menanyakan hal yang sama secara berulang.
Perilaku-perilaku ini sering dianggap sebagai “fase anak-anak”, padahal bisa menjadi sinyal adanya kecemasan yang lebih dalam.
Lee Da Rang menekankan bahwa orang tua perlu waspada ketika kecemasan anak berlangsung lama, tidak berkurang seiring waktu, dan perkembangan emosionalnya tertinggal jauh dibandingkan anak seusianya.
Terlebih jika kecemasan tersebut membuat anak menderita secara emosional, menghambat aktivitas harian, mengganggu relasi sosial, serta berdampak pada tumbuh kembangnya secara keseluruhan.
Kelebihan dan Kekurangan
Keunggulan utama buku ini adalah pendekatannya yang tidak menyalahkan orang tua. Sebaliknya, buku ini memberi penghiburan dan rasa solidaritas. Bahwa membesarkan anak yang pencemas bukanlah pengalaman yang dialami sendirian. Banyak keluarga menghadapi hal serupa, hanya saja tidak semua memiliki panduan yang tepat untuk menghadapinya.
Buku ini juga menekankan bahwa tujuan utama bukanlah menghilangkan kecemasan anak sepenuhnya, melainkan membangun kekuatan mental dan kemandirian anak. Anak tidak diajarkan untuk menghindari kecemasan, tetapi belajar mengelolanya. Ini adalah pergeseran paradigma penting: dari “melindungi anak dari rasa takut” menjadi “membekali anak untuk menghadapi rasa takut”.
Disertai contoh-contoh konkret dan pembahasan yang sederhana, buku ini memberikan panduan praktis bagi orang tua dalam mendampingi anak-anak yang pencemas dan penuh ketakutan. Orang tua diajak memahami pola emosi anak, membangun komunikasi yang empatik, serta menciptakan lingkungan yang aman secara emosional tanpa menjadi overprotektif.
Yang tidak kalah penting, buku ini juga membahas secara jelas kapan orang tua perlu mencari bantuan profesional. Ini menjadi poin krusial karena banyak orang tua ragu atau takut membawa anak ke psikolog atau profesional kesehatan mental. Padahal, intervensi yang tepat sejak dini justru dapat mencegah masalah psikologis yang lebih berat di masa depan.
Secara keseluruhan, Anak yang Penuh Kecemasan merupakan buku yang komprehensif, informatif, dan aplikatif. Ia tidak hanya menjelaskan apa itu kecemasan anak, tetapi juga bagaimana membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan tangguh secara emosional.
Buku ini bukan sekadar panduan pengasuhan, tetapi juga jembatan pemahaman antara orang tua dan dunia batin anak.
Di tengah meningkatnya kasus kecemasan pada anak, buku ini hadir sebagai panduan penting bagi orang tua modern. Bahwa kecemasan bukan musuh, melainkan potensi kekuatan. Asal didampingi dengan cara yang tepat.
Identitas Buku
- Judul: Anak yang Penuh Kecemasan: Cara Membangun Kekuatan Anak Agar Dapat Mandiri
- Penulis: Lee Da-Rang
- Penerjemah: Dian Susanti
- Penyunting: Rina K. Agata
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Tahun Terbit: 2024
- ISBN: 978-623-00-5996-4
Tag
Baca Juga
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
-
Menampar Diri Lewat Buku How to Stop Feeling Like a Sh*t Karya Andrea Owen
-
Buku Saat Kau Terluka Karena Rasa Percaya: Trauma itu Sakit!
-
Menuju 81 Tahun Indonesia Merdeka: Saat MRT Melaju, Desa Masih Gelap
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Film Dead Poets Society: Robin Williams Ubah Pemikiran Siswa Lewat Puisi
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'