Ketertarikan saya terhadap buku ini bermula dari sebuah unggahan di Instagram Ernest Prakasa. Saat itu, ia baru saja menyelesaikan bacaannya dan memberikan ulasan yang membuat saya tertarik.
Rasa penasaran saya pun terusik; apa yang membuat buku ini begitu istimewa hingga menarik perhatian seorang sineas yang juga sering mengangkat isu identitas? Setelah menuntaskannya sendiri, saya menyadari bahwa buku ini memang membawa beban sejarah dan emosi yang sangat penting untuk dibicarakan.
Sinopsis: Catatan Hitam dalam Sejarah Kewarganegaraan
Martha tampak seperti ibu rumah tangga biasa yang menikmati kehidupan tenang di Singapura bersama suaminya, Ronny, yang merupakan seorang dosen. Namun, badai datang saat identitasnya sebagai pemilik akun Twitter anonim yang kritis terhadap politikus Indonesia terbongkar.
Masalahnya bukan sekadar kritik politik, melainkan sebuah rahasia gelap masa lalu: Martha pernah memalsukan akta kelahirannya demi mendapatkan beasiswa pendidikan. Di negara seketat Singapura, Martha dan Ronny kini berada di ambang kehancuran karier dan ancaman penjara. Namun, pertanyaan besarnya bukan pada "apa" yang ia lakukan, melainkan "mengapa" ia harus senekat itu?
Meskipun berstatus karya fiksi, novel Perkumpulan Anak Luar Nikah karya Grace Tioso adalah jendela menuju sisi gelap sejarah bangsa yang sering kali terlupakan oleh mayoritas masyarakat. Novel ini menyoroti diskriminasi sistemik terhadap warga keturunan Tionghoa di Indonesia yang berakar sejak zaman kolonial Belanda melalui stratifikasi rasial.
Puncak kerumitan terjadi pascakemerdekaan. Perjanjian Dwikewarganegaraan tahun 1955 dan UU Tahun 1958 memaksa warga keturunan Tionghoa memilih antara menjadi WNI atau WNA. Sayangnya, akibat minimnya sosialisasi dan birokrasi yang pelik, ratusan ribu orang berakhir tanpa kewarganegaraan (stateless). Mereka tidak diakui RRT, tetapi juga tidak tercatat sebagai WNI.
Dampaknya sangat menyakitkan: anak-anak mereka dilabeli sebagai "Anak Luar Nikah" dalam akta lahir tanpa mencantumkan nama ayah. Martha adalah salah satu korban dari stigma administratif ini, sebuah label yang mendorongnya melakukan tindakan ilegal demi masa depan yang lebih layak.
Perspektif Multigenerasi dan Identitas
Grace Tioso dengan piawai membawa pembaca memahami perspektif warga keturunan Tionghoa dari berbagai generasi, termasuk trauma kerusuhan 1998 yang memicu gelombang eksodus. Novel ini juga membedah bahwa komunitas Tionghoa Indonesia bukanlah entitas tunggal; mereka memiliki subkultur, bahasa, dan tradisi yang beragam, layaknya suku Jawa atau Batak.
Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuan penulis menuangkan rasa tidak nyaman yang sangat mendalam. Pertikaian batin Martha mencerminkan keresahan banyak orang Indonesia yang sering kali dipaksa membuktikan nasionalismenya berulang kali hanya karena latar belakang etnis mereka.
Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan?
Satu kutipan yang sangat mengguncang dalam ulasan ini adalah sebuah renungan tentang nasionalisme: "Setelah semua perlakuan tidak adil ini, apakah masih wajar bagi saya untuk mencintai tempat saya dilahirkan? Apakah negara saya sendiri pernah menunjukkan cinta kepada saya?" Pertanyaan ini bukan hanya milik Martha, melainkan mungkin milik siapa saja yang pernah merasa terpinggirkan oleh tanah airnya sendiri.
Perkumpulan Anak Luar Nikah adalah karya fiksi berkualitas yang berani menyentuh luka lama. Novel ini tidak hanya memberikan jawaban di akhir cerita, tetapi juga memicu pertanyaan-pertanyaan baru yang layak kita renungkan sebagai sebuah bangsa. Sebuah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami Indonesia secara lebih utuh, di luar narasi sejarah yang ada di buku pelajaran sekolah.
Identitas Buku:
- Judul: Perkumpulan Anak Luar Nikah
- Penulis: Grace Tioso
- Penerbit: Noura Books (Mizan Group)
- Tahun Terbit: 2023
- ISBN: 9786232423985
- Ketebalan: 391 Halaman
- Dimensi: 21 cm
- Genre: Fiksi, Novel
Baca Juga
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
-
Membaca Rumah Pohon Kesemek: Menemukan Bahagia di Tengah Kehilangan
-
Membaca Pergerakan 1998 Lewat Novel Notasi: Saat Idealisme Diuji Waktu
-
Membaca Lebih Putih Dariku: Perjuangan Identitas di Tengah Rasisme
-
Pramoedya dan Cerita Calon Arang: Pintu Masuk Menuju Dunia Sang Maestro
Artikel Terkait
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Bagaimana Islam Memuliakan Perempuan? Ulasan Buku Karya Al-Buthi
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
-
Membaca Halte Alam Baka: Pelajaran Hidup Tanpa Beban Penyesalan
Ulasan
-
Bagaimana Islam Memuliakan Perempuan? Ulasan Buku Karya Al-Buthi
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Ulasan Film Dead Poets Society: Robin Williams Ubah Pemikiran Siswa Lewat Puisi
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Mamoru Hosoda Kembali dengan Scarlet: Adaptasi Hamlet yang Memukau
Terkini
-
Targetkan Piala Dunia, Nova Arianto Kawal Transisi Timnas Indonesia U-17
-
4 Milky Toner Vitamin C Berbahan Ascorbic Acid, Rahasia Glowing dan Kenyal
-
Fermat no Ryri Umumkan Hiatus Sementara, Ygo Kobayashi Siapkan Manga Baru
-
Macan Tutul di Bandung dan Tragedi Gajah Riau: Siapa yang Sebenarnya Menyerobot Wilayah?
-
Ada Pendatang Baru! Inilah Daftar Tim dan Pembalap Formula 1 Tahun 2026