Film The Last Supper (2025) merupakan sebuah drama biblis yang disutradarai oleh Mauro Borrelli, sutradara asal Italia yang juga ikut menulis skenario bersama John Collins.
Film ini diproduksi oleh Canyon Productions, Grand Canyon University, dan Pinnacle Peak Pictures, dengan Chris Tomlin sebagai salah satu produser eksekutif.
Dengan durasi 114 menit dan rating PG-13 karena adegan kekerasan dan darah, film ini menawarkan interpretasi segar atas kisah terakhir Yesus Kristus, fokus pada perspektif para muridnya daripada penderitaan fisik seperti dalam The Passion of the Christ.
Janji Penebusan di Tengah Kegelapan
Sinopsis film ini berpusat pada hari-hari menjelang kematian Yesus. Yesus (diperankan oleh Jamie Ward) mengumpulkan para muridnya untuk Perjamuan Terakhir, di mana kata-kata cinta dan perpisahan disampaikan di tengah penguatan iman.
Akan tetapi, bayang-bayang pengkhianatan menggantung, meski rasa sakit tak bisa menghapus janji penebusan. Cerita dibagi menjadi dua lapis: di lantai atas, Yesus dan 12 murid menjalani ritual Paskah Yahudi, termasuk pembagian roti dan anggur serta pembasuhan kaki sebagai simbol kerendahan hati.
Di lantai bawah, sebuah keluarga Yahudi merayakan Paskah dengan roti tak beragi dan sayur pahit, menghubungkan tradisi lama dengan peristiwa baru.
Fokus utama adalah kegundahan batin Petrus (James Oliver Wheatley) dan Yudas Iskariot (Robert Knepper), dengan narasi dari sudut pandang Petrus yang mengupas motif pengkhianatan Yudas.
Konflik internal Yudas digambarkan mendalam, termasuk godaan Setan (Ahmed Hammoud) yang muncul sebagai ular, menambahkan elemen eerie mirip horor ringan.
Penderitaan Yesus hanya ditampilkan melalui kilas balik singkat, tanpa detail eksplisit penyaliban, membuatnya cocok untuk penonton yang menghindari adegan kekerasan berat.
Review Film The Last Supper
Untuk pemerannya, Robert Knepper sebagai Yudas menonjol dengan penampilan yang kuat, menggambarkan kegundahan dan gejolak batin sebelum pengkhianatan dengan amat baik.
Knepper, yang dikenal dari peran antagonis seperti di Prison Break, membawa kedalaman emosional pada karakter yang sering digambarkan hitam-putih.
James Oliver Wheatley sebagai Petrus juga impresif, menunjukkan upaya manusiawi melindungi Yesus di tengah ketegangan dengan Yudas dan Imam Besar Kayafas (James Faulkner).
Jamie Ward sebagai Yesus, sayangnya, kurang meninggalkan kesan kuat; karakternya tertutupi oleh dua murid utama. Charlie MacGechan sebagai Yohanes menyuntikkan humor ringan melalui celetukan-celetukannya, menetralkan ketegangan.
Murid lain seperti Nikodemus (Henry Garrett) dan Rachel (Marie-Batoul Prenant) hanya pelengkap, dengan dialog minim. Secara keseluruhan, acting kredibel meski tidak setinggi produksi besar, menghindari cringe yang sering ada di film faith-based berbudget rendah.
Sutradara Mauro Borrelli mengambil pendekatan sederhana, menghubungkan Perjamuan Terakhir dengan Kebangkitan secara efektif tanpa dramatisasi berlebih.
Visualnya mumpuni, dengan sinematografi yang mendukung suasana Yerusalem kuno, meski pencahayaan kadang gelap dan murky. Elemen seperti godaan Setan menambah nuansa misterius, tapi skenario terasa lambat dan hambar, kurang kekuatan emosional.
Durasi 114 menit terasa panjang karena pacing issues, dan absennya figur seperti Pontius Pilatus membuat cerita kurang lengkap.
Tema utama adalah iman, pengkhianatan, dan penebusan, dengan pesan kerendahan hati melalui adegan pembasuhan kaki yang berkesan.
Film ini interpretasi Alkitab, bukan adaptasi literal, sehingga bisa jadi bahan refleksi bagi penonton non muslim yang beriman, tapi mungkin kontroversial bagi yang mencari akurasi ketat.
Di Rotten Tomatoes, Tomatometer 80% dari 4 ulasan kritikus, tapi ulasan mayoritas kritis: Audience score tertinggi dengan 500+ rating, banyak yang memuji kesesuaian dengan Alkitab dan acting, seperti amazing and followed the Bible quite well" dari Janet E.
Akan tetapi, ada keluhan seperti pacing buruk dan tone yang membuatnya sulit ditonton, bahkan ada yang walk out.
Di IMDb, rating rata-rata 5.2/10 dari user reviews. Banyak kritik atas ketidakakuratan skriptural, seperti nama Inggris alih-alih asli (Jesus bukan Yehoshua), dan perbandingan negatif dengan The Chosen atau The Passion of the Christ.
Di Indonesia. Penggambaran kegundahan murid dan kritikku mengenai hal tersebut adalah minim emosi dan lambat. Secara box office, film meraup $6.6 juta secara global.
Secara keseluruhan, The Last Supper adalah opsi tontonan Prapaskah yang ringan bagi penonton faith-based, terutama yang menghindari adegan penyiksaan.
Meski punya kekurangan di pacing dan kedalaman emosional, kekuatan ada di penampilan Knepper dan Wheatley, serta visual yang mendukung. Bagi yang familiar dengan Alkitab, film ini bisa jadi bahan diskusi interpretasi.
Namun, jika mencari produksi lebih polished seperti The Chosen, mungkin kecewa. Rekomendasi: tonton jika ingin perspektif murid-centric, tapi temper ekspektasi untuk akurasi historis.
Baca Juga
-
Film Wildcat: Trope Klasik dalam Kemasan Modern yang Menegangkan!
-
Film Taneuh Kalaknat: Suguhkan Horor Found-Footage ala YouTuber
-
Review Film The Secret Agent: Kisah Thriller Rezim Orde Baru Brasil
-
Review Film CAPER: Amanda Manopo Ungkap Sisi Kelam Teror Pinjol Ilegal
-
Film Antara Mama, Cinta, dan Surga: Tradisi yang Menekan Generasi Muda
Artikel Terkait
-
Produser Delon Tio Tegur Pemilik Usaha Usai Rekaman CCTV Lisa BLACKPINK di Indonesia Tersebar
-
Bikin Merinding, Joko Anwar Pakai Lagu Cicak-cicak di Dinding di Film Ghost in the Cell
-
Reuni Para Bintang di Laut Bercerita: Reza Rahadian Tetap Biru Laut, Dian Sastrowardoyo Ganti Peran
-
Deretan Film Horor yang Akan Diparodikan di Scary Movie 6, Ada Nominasi Oscar
-
Tak Tayang Lebaran, Ini 5 Hal Menarik yang Perlu Diketahui Soal Ghost in The Cell Karya Joko Anwar
Ulasan
-
Potret Dunia Kerja yang Penuh Tekanan di Novel Kami (Bukan) Jongos Berdasi
-
Realita Buruh dan Nasib Kelas Pekerja dalam Novel Lelaki Malang, Kenapa Lagi?
-
Menjalin Cinta yang Sehat di Buku Bu, Pantaskah Dia Mendampingiku?
-
Pandemi dan Teori Konspirasi di Novel Si Putih Karya Tere Liye
-
Membangun Kemandirian Emosional Lewat Buku Ternyata Bukan Kamu Rumahnya